Memotret Makanan? Seru!

Ini kesempatan saya yang kedua memotret produk (makanan). Sebelumnya, beberapa waktu yang lalu, saya pernah mengikuti workshop yang serupa, bersama komunitas Foto Bandung. Komunitas yang digadang oleh Kang Chandra dengan nama akun twitter @fotobdg menjadi awal saya berkenalan dengan pemotretan studio.

Foto Keluarga_2
Foto Keluarga

Awalnya, saya mengikuti workshop lighting alias pencahayaan di studio. Waktu itu Foto Bandung bekerjasama dengan Kang Agung Bawono, seorang pemotret dan pemilik studio foto di kawasan Buah Batu, Bandung mengajarkan kami teknik memotret model dengan pencahayaan tunggal dan multi. Saat yang menyenangkan.

Saya ingat saat sesi tanya jawab dalam workshop tengah berlangsung, saya menyampaikan pertanyaan seputar teknik pencahayaan dalam memotret produk/benda mati. Jawaban tidak langsung saya peroleh saat itu. Baik Kang Chandra maupun Kang Agung saling mengiyakan bahwa penanganan pencahayaan kala memotret produk memiliki perbedaan mendasar dengan pencahayaan pemotretan model, serta membutuhkan persiapan teknis yang berbeda pula. Kondisi prasarana studio saat workshop itu tidak mendukung untuk kegiatan memotret produk secara baik karena telah dimaksimalkan untuk pemotretan model.

Tak disangka, pertanyaan saya tersebut dirembug lagi oleh kedua pemotret profesional tersebut dan dijawab dalam sebuah workshop pencahayaan untuk pemotretan produk. Hebatnya, workshop kedua itu digelar gratis sama seperti kala workshop pertama serta masih bertempat di studio foto milik Kang Agung. Luar biasa.

Peserta Workshop Still Life
Peserta Workshop Still Life

Ketika memotret model, saya dikenalkan dengan istilah modelling light, main light, back light, fill light serta seabrek aksesoris dengan istilah asing semisal snoot, barndoor, backdrop dan lain sebagainya. Saat memotret produk saya dikenalkan lagi tentang table-top. Memang terkesan rumit, namun percayalah, tidak serumit yang Sobat sangka.

Dari pelatihan yang saya peroleh secara cuma-cuma dari Kang Chandra dan Kang Agung, prinsip dasar pencahayaan yang bisa saya pelajari adalah mengenali kebutuhan akan bayangan. Ya, bayangan memberi kesan dimensi pada hasil karya fotografi. Dengan mengenali arah jatuhnya bayangan serta kebutuhan dimensi yang kita inginkan, arah sumber cahaya dapat disesuaikan. Sumber cahaya yang dikendalikan secara penuh memberi kebebasan bagi saya dan Sobat untuk berkreasi lebih jauh dan pada saat itu yang menjadi batasan hanyalah kreatifitas kita sendiri.

Oh ya, kala memotret produk, pemotret ditantang untuk mengasah kemampuannya menyiapkan komposisi. Warna, sifat, bentuk, dan material dasar dari benda yang dipotret harus dipahami benar oleh sang pemotret. Misal saat memotret produk kuliner, pemotret harus memiliki kejelian “memahami dan mendandani” produk tersebut agar pesan yang hendak disampaikan lewat karya foto tersalurkan secara baik dan utuh kepada penikmat karya foto.

Kedua workshop waktu itu diselenggarakan pada tahun 2012. Sudah lama sekali.

Hingga suatu ketika di penghujung bulan Februari, 2013, lalu.

Poster
Poster

Sewaktu saya melihat pengumuman adanya workshop yang bertema fotografi produk di beranda FB grup PAF Bandung, saya langsung tertarik. Dalam flyer yang diunggah memang terpampang nama Sigma, sebuah merk lensa yang menyediakan kebutuhan lensa third-party. Saya menduga ajang ini sekaligus menjadi kesempatan untuk memasarkan produk lensa mereka.

Biasanya, dalam kegiatan seperti ini pemotret akan diberi kesempatan untuk mencoba keunggulan fitur yang ada pada lensa yang disiapkan. Saya sempat gundah. Saya memiliki titik lemah pada lensa jenis wide dan fixed 35mm. Saya khawatir, jika saya sempat mencoba “menyicip” salah satu dari kedua jenis lensa tersebut, saya akan kesulitan mengembalikannya. Ha.ha.ha.

Singkat cerita, tibalah saat workshop. Lantai tiga restoran Djoeroe Masak yang terletak di jalan Veteran Bandung mendadak ramai pagi itu. Usai mendaftar ulang pada meja panitia, saya melangkah menuju tempat duduk, sambil menatap nanar pada jejeran lensa Sigma yang secara provokatif diletakkan tepat di depan pintu masuk ruangan aula restoran ini. Begitulah pemasaran.

Kegiatan workshop kali ini dipandu oleh Priadi Soefjanto, seorang pengajar fotografi pada Institut Kesenian Jakarta. Pemotret senior yang akrab disapa Mas Pri ini secara lugas dan terbuka berbagi pengalamannya dalam memotret. Latar belakang pekerjaan beliau yang juga adalah seorang dosen membuat suasana workshop sedikit terasa seperti dalam ruang kuliah, namun berhasil beliau imbangi dengan gaya pemaparan yang santai namun tetap padat pengetahuan dan teknik fotografi.

Dari Mas Pri saya peroleh satu lagi pengetahuan dalam memotret produk, yakni pemilihan PoI alias Point of Interest dengan melakukan isolasi fokus. Pemotret tidak perlu mengambil keseluruhan obyek benda yang dipotret. Menajamkan fokus pada satu titik tertentu dan membuat sisi lainnya (baik sebagai foreground atau background) terlihat blur akan memberi dimensi lain pada sebuah foto produk. Tentu saja hal ini harus disesuaikan dengan material dasar benda yang dipotret dan kebutuhan visual yang dicari.

Bermain dengan area tajam

 

Beliau juga membagikan kebiasaannya membawa serta kertas kalkir, lakban, dan karton putih saat berkunjung ke sebuah tempat yang baru. Kertas kalkir dapat dipakai untuk melembutkan cahaya alami (window light) manakala perlu, lakban untuk merekatkan kertas kalkir ke jendela terdekat, serta karton putih sebagai reflektor. Benar-benar sebuah kebiasaan yang harus ditiru jika Sobat ingin meningkatkan kemampuan fotografi produk dengan menjelajahi kekayaan kuliner.

Kembali pengetahuan fotografi saya diperkaya dengan workshop kali ini. Walau keringat mengucur deras karena penyejuk udara yang tidak berfungsi baik serta ukuran ruangan yang relatif sempit untuk sebuah aktifitas workshop, saya tetap antusias mengikuti keseluruhan kegiatan hingga sore hari.

Namun yang pasti, memotret (makanan) tak pernah membosankan! Ini buktinya. Sobat punya pengalaman memotret makanan? Silakan bagikan dalam kolom komentar di bawah, ya…

Salam,

Adhy Langgar

Sumber Gambar:

  1. Gambar 1 dan 2: akun twitter @fotobdg
  2. Poster:  diunduh dari sini.

Leave a Reply