Skip to main content

Kain Tenun NTT, Selayang Pandang

Nusantara, sebuah kepulauan dengan letak yang strategis dalam lalu lintas perdagangan masa lalu. Ratusan tahun sudah manusia yang mendiami wilayah pesisirnya berinteraksi dengan para pedagang yang hilir mudik di perairan yang mengitarinya. Para pedagang dari Cina, India, Arab, hingga Eropa, berbagi lautan dengan pedagang-pedagang Malaka, Makassar, Jawa, dan Sumatera. Pertukaran terjadi antara barang-barang dagangan berkualitas tinggi. Tekstil dari India, sebagai contoh.

Kain dari India, yang mula-mula dibawa oleh pedagang Gujarat, sudah sejak lama menjadi mata dagang penting yang turut mengisi lambung kapal pedagang asing dan nusantara yang berburu rempah-rempah di wilayah timur nusantara. Sejak para pedagang mulai merapatkan kapalnya di pantai pulau-pulau Maluku demi tanaman pala dan cengkih, sejak saat itu tekstil menjadi salah satu mata uang yang juga diminati oleh penguasa setempat. Hal ini pun terjadi di Timor, saat mereka bertransaksi cendana.

Cendana, tumbuhan kayu yang menghasilkan minyak yang sangat harum, sudah dikenal di India dan Cina sejak abad ketujuh. Minyak cendana itu hanya bisa diperoleh dari jenis kayu cendana putih alias Santalum Album yang hanya tumbuh di dua pulau yang berdekatan, pulau Timor dan Sumba. Pada abad keenam, perairan Timor dan Sumba sudah disinggahi oleh kapal-kapal pedagang dari India dan Cina, dan mulai terjadi secara teratur mulai abad ke-11 hingga abad ke-13 Masehi. Di abad ke-13 hingga abad ke-14, cendana sudah sangat populer sebagai salah satu mata dagangan unggulan pedagang dari Jawa, Sumatera, dan Makassar dari kawasan ini. Tome Pires yang mengunjungi Malaka pada tahun 1515 menulis, katanya, “Pedagang Melayu mengatakan bahwa Tuhan menciptakan Timor untuk kayu cendana dan Banda untuk bunga pala (fuli) dan Maluku untuk cengkih, dan barang dagangan ini tidak dikenal di tempat lain di dunia kecuali di tempat itu”.

Ratusan tahun sudah tekstil turut mewarnai perdagangan di Asia Tenggara. Banyak pedagang dari aneka pelabuhan yang menukarnya dengan hasil bumi di satu tempat, lalu ditukar lagi dengan benda logam di tempat yang lain. Dari satu pelabuhan, tekstil berpindah tangan menuju pelabuhan yang lain. Tingginya nilai tukar yang dimiliki oleh tekstil membuat benda ini selalu menjadi incaran penjual dan pembeli di wilayah Nusantara, termasuk di kepulauan Nusa Tenggara Timur masa lalu.

Tidak mudah menelusuri jejak awal keterampilan menenun di wilayah kepulauan Nusa Tenggara Timur. Tidak banyak bukti yang tersisa akan hal ini. Sejumlah ahli menyatakan bahwa, sebelum mengenal kapas, kepandaian membuat bahan penutup tubuh di wilayah ini sudah dimulai dengan menggunakan kulit kayu yang dipukul hingga pipih lalu dijemur kering. Sisa-sisa bukti keterampilan ini masih bisa ditemui di kampung Abui, di Pulau Alor. Keterampilan yang sama juga masih terlihat di kawasan Papua, di sekitar Danau Sentani.

Galeri Nasional Australia di Canberra memiliki sebuah benda koleksi berupa sebuah patung perunggu yang berbentuk seorang perempuan yang tengah duduk berselonjor sambil menyusui anaknya. Tepat di tapak kakinya, terdapat sebuah alat yang tersambung hingga ke belakang pinggangnya, dengan jejeran benda tipis serupa benang yang terentang di pangkuannya. Bentuk alat tersebut sangat mirip dengan alat tenun tradisional yang dipergunakan oleh perempuan Nusa Tenggara Timur kala menenun. Patung yang diberi nama “The Bronze Weaver” ini diperoleh Galeri Nasional Australia dari sebuah keluarga di pulau Flores yang telah menyimpannya sebagai benda warisan turun-temurun. Setelah serangkaian pengujian laboratorium terhadap patung itu, para ahli berhasil memperkirakan masa pembuatan patung tersebut, yakni sekitar tahun 556 hingga 586 atau pada akhir abad 6 Masehi.

Walau penampilan fisik dan aksesori perempuan yang diperlihatkan dalam patung tersebut tidak merujuk secara tepat pada penampilan masa lalu perempuan Flores atau wilayah lain di sekitarnya, para ahli bersepakat bahwa setidaknya rupa alat tenun pada patung setinggi 25,8 cm ini memberi gambaran perihal awal masa menenun di pulau Flores dan sekitarnya, juga di kawasan Asia Tenggara.

Baca Juga:  Museum di Nusa Tenggara Timur? Apa saja?

Diperkirakan kain tenun mula-mula yang dikerjakan di Nusantara dan juga di kepulauan Nusa Tenggara Timur masih berupa tenun katun yang sederhana dengan benang kapas yang masih dipintal secara kasar. Kemampuan menenun ini diyakini merupakan lanjutan dari pengetahuan yang diperoleh dari pembuatan anyaman dari dedaunan, rumput-rumputan dan serat kayu untuk memenuhi kebutuhan akan busana dan keperluan lainnya. Keterampilan ini kemudian diterapkan pada benang yang terbuat dari kapas maupun dari serat tumbuhan. Selanjutnya, keterampilan menenun menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat di Nusa Tenggara Timur, wilayah yang biasa disebut dengan akronim Flobamora, merujuk pada nama-nama pulau utama yang ada di wilayah ini, yakni Flores, Sumba, Timor dan Alor.

Kehadiran kain patola, kain dari India, membawa inspirasi bagi perkembangan kain tenun di Nusantara, termasuk Nusa Tenggara Timur. Ragam hias yang dihasilkan oleh penenun Nusa Tenggara Timur lambat laun berkembang dan terjadi percampuran ragam hias patola dengan ragam hias setempat. Unsur-unsur yang dibawa oleh kain dari India ini berupa kombinasi ragam hias bunga bersegi enam, ragam segitiga dan ragam belah ketupat. Kain ini terbuat dari benang sutra dengan teknik ikat ganda dan warna yang beragam. Dalam perkembangannya, ragam hias patola ini diserap oleh para penenun di Flobamora dalam kain tenunannya dengan teknik ikat tunggal, bukan ganda, dan menggunakan benang kapas, bukan benang sutra. Semuanya itu dilakukan dengan alat tenun yang sederhana.

Selain unsur-unsur patola, kain di Nusa Tenggara Timur juga diwarnai oleh pengaruh dari lingkungan sekitarnya. Interaksi antara kerajaan-kerajaan kecil di seluruh kepulauan Flobamora, naik turunnya kerajaan dan kesultanan di Nusantara yang meluaskan wilayahnya hingga ke kepulauan ini turut memberi andil dalam keragaman ragam hias dalam sebuah kain tenun dan pemanfaatannya. Makna kain tenun semakin beragam sejak masuknya pengaruh dari bangsa-bangsa Eropa, yakni Portugis, juga Belanda.

Pembuatan ragam hias pada kain tenun sudah dilakukan sejak sebelum dan dilanjutkan sepanjang proses pembuatan kain itu sendiri. Berbeda dengan kain batik yang ragam hiasnya dibentuk setelah kain selesai dibuat. Secara umum di Nusa Tenggara Timur terdapat dua teknik pembuatan ragam hias pada kain, yakni teknik ikat dan teknik songket. Di sini kedua teknik ini dikenal dan berkembang secara baik. Namun secara keseluruhan, teknik ikat mendominasi jenis kain tenun yang ada.

Teknik ikat merupakan suatu teknik perancangan ragam hias melalui pewarnaan pada kumpulan benang yang hendak ditenun. Penenun membuat ikatan-ikatan terpisah di titik-titik tertentu pada benang berdasarkan bentuk ragam hias yang akan dibuat lalu melakukan proses pencelupan untuk pewarnaan benang. Tujuan pengikatan benang sebelum pewarnaan adalah agar terjadi pemisahan antara bagian yang terbuka, yaitu pada bidang benang yang tidak diikat, dengan bagian benang yang tertutup, yang diikat. Pada kain tenun ikat sederhana, saat ikatan benang dibuka, bidang benang berwarna akan menjadi warna kain tenun dan bidang benang yang tidak berwarna menjadi warna ragam hiasnya. Teknik mengikat dan mewarnai akan semakin rumit manakala terdapat banyak warna pada ragam hias dalam sebuah bidang kain.

Teknik ikat terbagi atas tiga, yaitu ikat lungsi, ikat pakan dan ikat ganda. Lungsi dan pakan adalah istilah yang merujuk pada jenis benang yang menyusun sebuah kain tenun. Lungsi merupakan susunan benang secara vertikal searah panjang kain saat ditenun, sedangkan pakan merupakan benang yang menjalin secara horisontal seturut lebar kain, sekaligus membentuk benang lungsi menjadi kain yang utuh.

Baca Juga:  Dyathra Silvana Baten Penantang di PPI 2014

Dalam teknik ikat lungsi, benang ditata berjajar pada alat tenun untuk selanjutnya diikat secara berkelompok, pada titik-titik tertentu secara terpisah, lalu dilepas dari alat tenun dan dilanjutkan dengan proses pewarnaan benang. Manakala usai proses pewarnaan, kumpulan benang ini lalu disiapkan kembali pada alat tenun dan ikatan pada benang pun dibuka. Saat pelepasan ikatan-ikatan pada benang, ragam hias pada sebuah kain tenun ikat lungsi sudah dapat terlihat. Sementara itu, pembuatan ragam hias dengan teknik ikat pakan membutuhkan keterampilan yang lebih dibanding ikat lungsi. Hal ini terjadi karena saat proses menenun, benang lungsi bersifat statis dan benang pakan bergerak menjalin benang lungsi hingga ragam hias ikat pakan baru akan terlihat saat tenunan selesai dikerjakan. Tenun ikat ganda merupakan gabungan teknik ikat lungsi dan ikat pakan pada selembar kain tenun. Ragam hias terbentuk akibat persilangan benang bercorak pada benang lungsi dan benang pakan yang tepat bertumpu pada titik pertemuannya. Di Nusantara, hanya kain Geringsing asal Tenganan, Bali, yang menggunakan teknik yang sangat rumit ini. Namun belum bisa dipastikan kaitannya secara langsung dengan kain patola yang juga merupakan kain dengan teknik ikat ganda.

Selain teknik ikat, di Nusa Tenggara Timur terdapat keterampilan membuat kain dan ragam hiasnya dengan teknk songket. Teknik songket merupakan teknik menciptakan ragam hias dengan memasukkan benang pakan tambahan saat menenun. Para penenun dari Nusa Tenggara Timur menggunakan benang kapas yang sudah diwarnai sebagai benang pakan tambahan untuk membuat tenun songket. Proses penenunan diawali dengan mengangkat atau mengungkit benang lungsi sesuai corak ragam hias yang dikehendaki dan disisipi batang lidi untuk menjaga posisi benang tetap terpisah. Ketika menenun, lidi ini diambil dan digantikan dengan benang tambahan, ragam hias pun tercipta.

Kain tenun dibuat secara merata di seluruh wilayah Nusa Tenggara Timur. Di Pulau Flores bagian barat yang meliputi Manggarai dan sebagian Ngada, penduduk setempat mengembangkan tenun songke atau songket sementara sebagian wilayah Ngada hingga timur pulau, teknik yang berkembang adalah teknik ikat lungsi. Masyarakat di Pulau Timor juga menggunakan teknik ikat lungsi dalam membuat ragam hias. Teknik ini kadang digabungkan dengan teknik pakan tambahan yang disebut sotis dan pa’uf menambah keunikan kain tenun Timor karena ragam hiasnya yang timbul di permukaan kain. Ikat lungsi juga terlihat di Alor, Rote, Ndao dan Sawu. Penambahan benang lungsi yang disertai dengan kerang terlihat dalam tenun ikat lungsi asal Sumba. Masing-masing pulau memiliki karakteristik tenun yang sangat beragam, sesuai dengan kearifan budaya suku setempat yang hingga kini tetap dijunjung tinggi.

Bagi masyarakat di Nusa Tenggara Timur, kain tenun bukan sekadar kain penutup tubuh. Ia lebih dari itu. Kain tenun di Nusa Tenggara Timur memiliki makna sosial dan religius yang sangat tinggi. Kepercayaan setempat, status sosial, hubungan kekerabatan, nuansa dan kenangan peristiwa, hingga ungkapan rasa dan keadaan alam sekitar, semuanya memiliki motifnya sendiri dalam kain tenun Nusa Tenggara Timur. Motif kain, demikian ragam hias biasa disebut, memiliki makna yang melekat bersama kainnya, pada pemakai atau pemiliknya.

Kain tenun adalah segalanya. Seorang anak yang baru lahir akan dibungkus dengan kain tenun dan dirayakan kelahirannya. Seumur hidupnya, ia beraktifitas dalam balutan kain tenun di tengah-tengah masyarakat. Ia akan dikenali sebagai bagian dari sebuah komunitas dari ragam hias kain tenun yang dikenakannya. Ia akan memperoleh kedudukan dan peran di tengah-tengah masyarakatnya sesuai dengan motif kain yang ia kenakan. Kain tenun membantunya menemukan pasangannya. Kain tenun membantunya mengungkapkan rasa suka atau rasa duka. Kain tenun pula yang akan kembali membungkusnya kala ia mati dan dirayakan kematiannya.

Baca Juga:  Melayang di Lasiana

Di Nusa Tenggara Timur, kain tenun adalah segalanya; tentang kehidupan, tentang kematian, tentang kehidupan setelah kematian.

 

Daftar Rujukan:

Barnes, Ruth. 2007. THE BRONZE WEAVER A Recent Acquisition at the National Gallery of Australia dalam Oxford Asian Textile Group Newsletter No. 37

Barrkman, Joanna. 2006. ENTWINED, The influence of Indian patola and trade cloths on the ritual practices and textile motifs of the Atoin meto people of West Timor. A thesis submitted to the School of Fine Arts in the Faculty of Law, Business and Arts, Charles Darwin University. Tidak diterbitkan.

Doko, I.H. 1981. Perjuangan Kemerdekaan Indonesia di Nusa Tenggara Timur. Jakarta: PN Balai PUstaka

Forshee, Jill. 2001. Between the Folds. Honolulu: University of Hawai’i Press.

Fox, James J. 1996. Panen Lontar, Perubahan Ekologi dalam Kehidupan Masyarakat Pulau Rote dan Sawu. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan

Gero, Christine M.A. 2011. Makna Kain Tenun Sumba Timur dan Penataannya di Museum Provinsi Nusa Tenggara Timur. Tesis Program Pascasarjana Magister Museologi Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran Jatinangor. Tidak diterbitkan.

Groeneveldt, W.P. Nusantara dalam catatan Tionghoa. Depok: Komunitas Bambu

Hamilton, Roy W. 1994. Gift of the Cotton Maiden, Textile of Flores and the Solor Islands. Los Angeles: The University of California.

Hann, M.A. (ed). 2005. Patterns of Culture – Techniques of Decoration and Coloration. Leeds: The University of Leeds International Textiles Archive (ULITA)

___________. 2008. Patterns of Culture The Textiles of Bali and Nusa Tenggara. Leeds: The University of Leeds International Textiles Archive (ULITA)

Hoopen, Peter Ten. Pusaka Collection, Ikat Textile from Indonesia. http://www.ikat.us/

Indonesia, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik. 1977/1978. Adat Istiadat Daerah Nusa Tenggara Timur. Jakarta: Proyek Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan Daerah

Kartiwa, M.Sc, Dra. Suwarti. 1989. Kain Songket Indonesia, Songket Weaving in Indonesia. Jakarta: Penerbit Djambatan.

Kartiwa, Suwati dan Unggul Ermanto, 2010. Tenun Ikat, Indonesia’s Ikat Weaving Traditions. Jakarta: Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia

Kana, Dr. Nico L. 1983. Dunia Orang Sawu. Jakarta: Penerbit Sinar Harapan

Lapian, Adrian B. 2008. Pelayaran dan Perniagaan Nusantara Abad ke-16 dan 17. Depok: Komunitas Bambu

Maxwell, Robyn. The Bronze Weaver. National Gallery of Australia http://nga.gov.au/BronzeWeaver/

Moeldjiono, Atika Walujani (ed). 2011. Ekspedisi Jejak Peradaban NTT, Laporan Jurnalistik KOMPAS. Jakarta: Penerbit Buku Kompas

Neonbasu SVD, Ph.D, Gregor (ed). 2013. Kebudayaan: Sebuah Agenda (Dalam Bingkai Pulau Timor dan Sekitarnya. Jakarta: Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama

Riawan, Indra (ed). 2010. Petunjuk Museum Tekstil Jakarta. Jakarta: UPT Museum Tekstil Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta

Rai, Dipika. Antique Indian Textile. Asian Textile Art: http://www.asiantextileart.com/tradecloths.html

Reid, Anthony. 2011. Asia Tenggara dalam Kurun Niaga 1450-1680: Jaringan Perdagangan Global. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia

Timo, Dr. Eban Nuban. 2007. Sidik Jari Allah dalam Budaya, Upaya Menjajaki Makna Allah dalam Perangkat Budaya Suku-suku di Nusa Tenggara Timur. Maumere: Penerbit Ledalero

Therik, Jes A. 1989. Tenun Ikat dari Timur, Keindahan Agung Warisan Leluhur, Ikat in Eastern Archipelago An Esoteric Beauty of Ancestral Entity. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan

Timur, Museum Nusa Tenggara. 2011. Kain Tenun Nusa Tenggara Timur, Menjaga Tenun Ikat Warisan Leluhur. Kupang: UPTD Museum Nusa Tenggara Timur

______________________. 2005. Katalog Museum Daerah Nusa Tenggara Timur. Kupang: UPTD Museum Nusa Tenggara Timur.

Zumar, Dhorifi. 2009. Tenun Tradisional Indonesia. Jakarta: Dewan Kerajinan Nasional (DEKRANAS) bekerjasama dengan Direktorat Jenderal Industri Kecil dan Menengah Departemen Perindustrian Republik Indonesia

Salam,

Adhy Langgar

adhylanggar

Perkenalkan. Saya Aprianus Langgar, namun lebih nyaman disapa Adhy.

5 thoughts on “Kain Tenun NTT, Selayang Pandang

  1. MAKASIH INFONYA, apa motif sumba tergolong motif warisan ya mas, atau mungkin juga ada inovasi untuk tenun sumba TokoTenun Jepara

    1. Mas/Mbak yang baik,

      Komentar Anda terpaksa saya edit karena mencantumkan link dalam kolom komentar sehingga langsung dianggap spam oleh WP. Satu link aktif ke situs mas/mbak di sini sudah lebih dari cukup, kok… 🙂

      Nah, jawaban untuk pertanyaan (?) di atas adalah, ya. Motif alias ragam hias pada kain tenun merupakan warisan intelektual pada komunitas pemilik motif tersebut, yang diturunkan dari para ibu kepada anak-anak perempuannya dan seterusnya. Hal ini berlaku bukan hanya bagi orang Sumba semata.

      Soal inovasi kain Sumba, sudah banyak penenun yang melakukan itu, demi tuntutan pasar. Pastinya, kain “yang penuh inovasi” tersebut tidak memiliki nilai dalam konteks sosial.

  2. Sangat bermanfaat buat saya.
    Terima kasih. Ada tentang arti motif2nya tenun ikat sumba ga ya om?

    1. Terima kasih, kak Bagus. Semoga berkenan.

      Soal makna motif tenun Sumba, mungkin kak Bagus bisa temukan di salah satu dari daftar referensi tulisan saya di atas.

      Secara garis besar ragam hias kain tenun Sumba sangat banyak dan masing2 daerah memiliki maknanya sendiri. Sulit untuk dijelaskan dalam kolom komentar.

      Mungkin, di masa yang akan datang, akan berupa sebuah tulisan blog di sini. 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*