Menyalin Piksel

Selama lebih kurang tiga tahun keberadaan saya di Jatinangor, jalur pejalan kaki di area depan Gerbang Lama UNPAD bukanlah sebuah kawasan yang asing bagi saya. Jalur ini pasti saya lewati setiap kali hendak menuju halte bus DAMRI atau saat ingin mengambil uang tunai dari jejeran mesin anjungan tunai mandiri yang terletak di balik pagar gerbang. Pemandangan yang tersaji tidak begitu istimewa. Hilir mudik mahasiswa-mahasiswi yang melintas, ditingkahi keramaian warung-warung yang berjajar membuat jalur yang satu ini cukup sesak saat hari kuliah tiba.

Namun, pada Jumat kemarin, ada sesuatu yang sontak menarik perhatian saya.

Sore itu kawasan pedestrian ini cukup lengang. Berbeda dengan kondisi di sebelahnya, di balik pagar yang membatasi pinggir jalan sepanjang Gerbang Lama, tampak berjejer pedagang sedang sibuk menata aneka jajanan untuk berbuka puasa dalam keriuhan deru kendaraan bermotor yang melintas. Saya yang tengah terburu-buru hendak kembali ke kos setelah perjalanan dari Gedebage, mendadak menghentikan langkah. Ada yang menarik.

Sejak awal kehadiran saya di Jatinangor, selain deretan warung, tempat fotokopi, kios koran dan lapak penjaja kaos kaki, ada penyedia jasa kaki lima yang senantiasa menarik perhatian saya di kawasan depan Gerbang Lama ini. Jasa yang ditawarkan adalah melukis foto. Membuat sketsa wajah.

Bagi saya pribadi, pelukis foto sudah sering saya lihat di berbagai sudut banyak kota. Di Bandung misalnya, banyak yang saya lihat mengadu nasib di sepanjang Jalan Braga, maupun di beberapa titik keramaian lainnya. Demikian juga di Jatinangor. Akan tetapi kali ini ada hal yang tampak tidak biasa.

Awalnya, dalam pemahaman saya, sang pelukis membuat guratan sketsa wajah bermodalkan selembar cetakan foto sebagai patokan untuk ditransformasikan menjadi sebuah karya visual yang memberi citarasa berbeda, namun seiring dengan perkembangan jaman proses pemindahan ini dapat dipersingkat dengan pemanfaatan teknologi digital.

Jika sebelumnya proses kerja visual ini berawal dari sebuah karya foto, yang selanjutnya dicetak, kemudian dijadikan sketsa, maka kali ini proses cetak diabaikan (berkat fotografi digital) dan langsung bermuara pada proses sketsa. Bagi saya, ada secuil ironi yang terpampang. Ketika keagungan kehidupan digital yang dielu-elukan oleh generasi masa kini dan dipuja sebagai representasi fisik dalam interaksi global, pemandangan yang saya lihat sore itu seolah menegaskan sifat digital yang sejati. Digital adalah maya. Virtual. Tak berujud. Hampa, namun ada. Digital hanyalah sekumpulan kode binari yang tersusun sedemikian rupa dan memanipulasi penginderaan kita sehingga kita “melihat” dan menyatakan “keberadaannya” sesuai ujud benda tempat ia (digital) menumpang. Ya, digital menjadi “ada” hanya jika ada media untuknya. Tapi ia (digital) tetap tanpa rupa.

Saat saya melintas, sang pelukis tengah asyik memainkan ujung pensil guna memindahkan kecantikan seorang gadis yang terpampang di layar tabletnya ke atas selembar kertas.

Tangannya terus bergerak, sesekali mengganti pensilnya dengan bolpen, atau pensil berwarna. Kang Rijal, namanya, sudah tiga tahun merintis usaha ini. Hilir mudik orang yang melintas tak ia hiraukan. Ia tenggelam dalam fokus dan konsentrasi meliukkan mata pena, pensil atau apapun itu guna memberi kepuasan visual dalam format berbeda bagi pelanggan yang telah mempercayainya. Dalam pemaknaan saya, ia adalah pemindai keindahan. Lihat galeri dalam tautan ini.

Namun sayang, pertemuan kami harus terhenti. Langit sore Jatinangor berubah kelam dan hujan pun menjelang. Saya harus segera kembali ke kamar kos saya. Atap kamar saya tidak bisa dipercaya, selalu bocor di saat yang tak diduga. Menyebalkan.

Kegelisahan saya yang terpantik sore itu seakan menihilkan kembali segala keunggulan yang berbasis digital. Ketika kehebatan masa lalu bisa kita lihat pada tinggalan dashyat yang berupa Borobudur, Piramida dan lainnya, lantas apa yang akan disisakan bagi generasi berikutnya oleh kebudayaan digital yang sejatinya ada namun tiada ini?

Entahlah.

Salam,

Adhy Langgar

Comments

  1. rijal

    Salam, mas Adhy.. apa kabar nih?? Wah tulisannya bagus banget… hehehe. Keknya udah bikin banyak karya tulis bermutu tinggi ya mas…. skill menulisnya keren banget.

    Salam,
    Rijal Ismail
    dari gerlam unpad 😀

Leave a Reply