Skip to main content

Menyicip Filsafat Tanpa (Banyak) Kerut Alis

Saya dan kuliah filsafat ibarat pengen mandi tapi gak ada air jadi harus nimba tapi laper. Males banget.

Sejak masa kuliah di Undip hingga kini di Unpad, mata kuliah yang satu ini tak pernah seksi di mata saya. Bukan apa-apa. Pemikiran para pemikir hebat masa lalu yang pikirannya sama sekali tidak terpikir pada masanya itu sesungguhnya berat untuk dipikirkan. Singkatnya, ngantuk.

Lagipula kuliah Filsafat Ilmu, demikian judulnya saat masa kuliah di Sastra Undip, selalu diselenggarakan secara berjamaah. Mahasiswa dari tiga jurusan: Sejarah, Sastra Indonesia, dan Sastra Inggris dikumpulkan, berdesakan, riuh dalam sebuah ruangan kelas yang sumpek di kampus Pleburan. Kombinasi antara ratusan peserta kuliah, siang hari di Semarang, kantuk sisa semalam, membuat kuliah filsafat tak lebih dari rutinitas menjemukan: datang, ngabsen, ngantuk, pulang. Memalukan.

Demikian juga saat masuk Sastra Unpad. Saya berjumpa lagi dengan kelas filsafat. Namun kali ini, kelasnya lengang. Sebelumnya ratusan teman ketawa-ketiwi, kini cuma belasan. Rasa gerah tipikal Semarang kala siang kalah oleh sejuknya siang Jatinangor. Walau kadang masih ada sisa kantuk semalam, tapi tak jadi soal. Saya selalu sukses menyelundupkan tumbler berisi kopi ke dalam ruang kelas. Jadi sebenarnya, poin utama yang menjadi persoalan bagi saya mengikuti kelas filsafat (serta kelas mata kuliah lainnya hingga akhirnya saya lulus S1 saat injury time *tsurhat* dan saat tulisan ini dibuat, saya belum juga menyelesaikan tesis *tsurhat lagi*) adalah malas. Iya, saya pemalas. Sekali lagi, agar dramatis, PEMALAS.

Filsafat punya periodesasi. Masa ini-itu dengan pencetusnya masing-masing. Semua tokoh dengan teorinya, penting. Tak boleh tertukar apalagi terlupa. Saya suka mengingat tapi malas menghapal. Gimana, coba?

Padahal, menurut para pengajar filsafat ilmu, sebelum kita mempelajari sebuah ilmu, kita harus memahami filosofi ilmu tersebut. Makanya harus belajar filsafat ilmu. Pelajari ilmu terlebih dahulu sebelum ilmu itu dipelajari sehingga manakala ilmu tersebut dipelajari, kita sudah memahami prinsip keilmuan dari ilmu tersebut. Ilmu-ception, menyitir film Inception yang sempat bikin heboh itu. Sama, saya juga bingung. Konon, bingung adalah respon terbaik dalam menanggapi filsafat. Tanyakan lagi jawaban yang diperoleh. Bukan untuk membantah, namun untuk menggali lebih dalam.

Baca Juga:  Kain Tenun NTT, Selayang Pandang

Akhirnya, kelas filsafat jilid dua ini berhasil saya lalui. Syukurlah.

Ternyata dua edisi kelas filsafat yang pernah saya ikuti cukup memberi bekal untuk menikmati tayangan film yang berbahasa Norwegia dengan judul “Sofies Verden” alias Sophie’s World.

Tema film cukup sederhana, yakni tentang sejarah filsafat yang dituturkan oleh tokoh utama Sofie dan Alberto. Tapi proses penuturannya itu, menurut saya, jauh lebih sederhana lagi. Cerdas membingkai banyak filsuf dunia dalam sebuah alur narasi yang mengalir.

Sobat, saya bukan penggemar filsafat, bukan penggemar film, bukan juga penggemar novel dunia. Otak saya lebih berisi Rancid ketimbang Socrates. Saya makhluk awam penuh dosa, bukan manusia suci pembaca tumpukan buku dan bergelimang ide bernas solusi pemanasan global dan perdamaian dunia. Namun ketika saya menonton film Sofies Verden, mendadak keping puzzle yang selama ini membingungkan, jadi eureka.

Sungguh tidak saya sangka, pembelajaran sejarah filsafat ternyata bisa menyenangkan. Bisa sembari santai bahkan sambil duduk mengangkang. Bahasa pengantar film ini pun terdengar indah di telinga saya walau terasa asing di ujung lidah. Durasi tiga jam tidak jadi masalah. Syaratnya hanya satu: sudah kenal atau pernah kenal dengan sejarah filsafat dan tokoh-tokohnya. Itu saja. Tidak bisa berbahasa Norse? Tenang Sobat, sudah ada subtitle dalam bahasa Inggris.

Klik di sini untuk menonton (baca: belajar) sejarah filsafat yang diangkat dari novel karya Jostein Gaarder ini.

Hvor er du?  Hvor kommer verdon fra?

 

Salam,

Adhy Langgar

adhylanggar

Perkenalkan. Saya Aprianus Langgar, namun lebih nyaman disapa Adhy.

3 thoughts on “Menyicip Filsafat Tanpa (Banyak) Kerut Alis

  1. Bang adhy, kok filmnya gak ada. Sudah lama saya cari, tolong infonya atau link yang masih menayangkan film ini!

    1. Mas Iqbal, sepertinya film tersebut dihapus oleh YouTube karena copyright dan, sayangnya, saya tidak bisa membantu lebih jauh.

      Terima kasih sudah berkunjung.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*