Nusa yang Teronggok Terabaikan

Senin, 18 Maret. Kala itu hari masih pagi, lembayung mendung masih menggelayut manja di langit Jatinangor. Hari ini masyarakat di Nusa Tenggara Timur, tanah tumpah darah saya, melangsungkan pemilihan kepala daerah alias pilkada.

Teringat akan penyelenggaraan beberapa pilkada provinsi lain sebelumnya, saya cukup yakin akan ada stasiun televisi yang akan mengabarkan informasi perihal pilkada NTT. Seingat saya, saat pilkada Jawa Barat tak kurang tiga buah stasiun televisi swasta nasional (MetroTV, TVOne, dan KompasTV) secara besar-besaran dan maraton tak henti-hentinya menyiarkan tayangan langsung tentang pilkada dengan narasumber yang kompeten, lengkap dengan analisis mendalam soal profil kandidat dan potensi pemilih.

Sungguh luar biasa menyaksikan siaran televisi yang ditampilkan secara langsung, grafis yang memukau, dan analisis yang menyeluruh. Lihat juga saat pilkada Sumatera Utara.

Namun…

Apa lacur? Hingga mentari tinggi saya menanti di depan layar kaca, bolak-balik menekan tombol kendali jauh pesawat teve, menjelajah dari satu saluran teve nasional ke lainnya namun tak satu pun informasi yang menyinggung pilkada NTT! Menyedihkan. Teve saya matikan.

Saya beralih ke media daring. Saya masih yakin akan ada informasi, walau secuil. Sayang, berita yang saya cari tak jua saya temukan. Saya amati linimasa akun media sosial yang saya miliki, satu demi satu, tetap saja nihil.

Hingga akhirnya ketika mentari mulai condong di ufuk barat, satu per satu media daring mulai menuliskan kabar akan pilkada NTT. Beberapa paragraf pendek, laporan seadanya, mirip isi pesan singkat di perangkat selular.

Seketika saya sadar. Ternyata tidak seperti yang saya bayangkan.

Benar bahwa tayangan langsung di televisi membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Demikian juga dengan mengadakan proses hitung cepat. Saya pun tidak menginginkan sebuah tayangan megah nan kolosal. Saya juga tidak berharap muluk. Tak perlu mewah, cukup dengan running text saja. Namun itu semua hanya mimpi. Tak ada yang peduli.

Hingga tulisan ini saya buat, sebuah pertanyaan masih menggenang di benak saya. Sesungguhnya, seberapa sukarkah kabar baik dari NTT untuk mendarat di atas meja redaksi nun di arah mentari terbenam?

Saya ingat benar kala NTT disebut-sebut mengalami rawan pangan (baca: kelaparan) beberapa tahun lalu. Sontak ratusan bahkan ribuan pasang mata dan telinga tertuju ke sana. Bahkan RCTI mengirimkan seorang reporter cantik untuk memberitakan kehadiran para pembesar negeri di tanah kering berbatu yang saya sebut rumah itu.

Namun tidak kali ini. Hari Senin, 18 Maret, NTT (dan saya) menjadi kaum buangan.

Ibarat si kusta, NTT dihempas di sisi terjauh halaman belakang rumah bernama republik ini, dibalik rerimbunan semak belukar, tersembunyi dari tatapan mata pelintas yang lalu-lalang di pekarangan depan rumah yang dibikin hijau dan rindang. Tatkala potongan tubuh si kusta yang membusuk dan berbau menimbulkan rasa curiga dari para tetangga, berbondong-bondonglah seisi rumah keluar dengan setetes obat merah dan segalon pewangi.

Harum aroma semerbak lantas keras menyodok hidung dan bau busuk sudah tak lagi mengganggu, tetangga pun tak lagi gaduh, seisi rumah kembali dengan rutinitas dibalik pintu yang tertutup rapat. Sambil sesekali mereka menatap keluar dari jendela yang berteralis ganda menikmati birunya langit.

Apa yang selanjutnya akan terjadi dengan si kusta? Entah. Semoga Sang Khalik senantiasa mengasihi si kusta dan seisi rumah yang abai.

Salam,

Adhy Langgar

Leave a Reply