Occasionally English

Hai. Halo. Apa kabar? Sehat?

Begini. Beberapa saat yang lalu saya sempat membuka laman Google Analytics dan memerhatikan data-data dalam laporannya. Bagi Sobat yang belum tahu, Google Analytics merupakan piranti lunak yang disediakan oleh Google untuk mengawasi perkembangan sebuah situs web. Piranti ini ditujukan untuk memenuhi kebutuhan sang webmaster (pengembang situs) dalam memantau situs yang tengah ia bangun/kerjakan.

Macam-macam fasilitas yang ditawarkan oleh Google Analytics, salah satunya adalah Audience Overview alias Tinjauan Pengunjung Situs. Jika Sobat sedang mengembangkan situs pribadi dengan domain berbayar seperti saya, maka Google Analytics adalah salah satu online web analysis yang wajib Sobat pergunakan.

google analytics

Audience Overview merupakan salah satu tool dari Google Analytics yang sering saya pantau. Apalagi entri “negara asal”. Tool ini memberi saya kemampuan untuk mengetahui asal negara dari pengunjung situs ini. Ini cukup seru bagi saya. Mengetahui bahwa ada seseorang di luar sana—di tanah yang hanya bisa saya bayangkan bentuknya—tengah membuka situs ini sungguh luar biasa bagi saya. Tanpa harus meninggalkan sapa di dalam kolom komentar, jejak mereka (juga Sobat) sudah dicatat oleh Analytics.

Sesungguhnya saya tidak terlampau serius memikirkan perihal site hit and rank, kategori yang sering dipergunakan untuk mengukur tingkat popularitas sebuah situs. Penambahan jumlah “like” pada laman facebook untuk situs ini saja sudah merupakan apresiasi yang sangat besar bagi saya, terutama dari Sobat sekalian.

Namun saya merasa telah jadi seorang tuan rumah yang kurang baik. Mereka, pengunjung situs dari negara asing dan bukan penutur Bahasa Indonesia, telah saya abaikan. Saya lebih mementingkan penutur Bahasa Indonesia. Saya sudah terjebak dalam dikotomi picik-terkutuk mayoritas versus minoritas. Ibarat rumah, saya adalah pemilik rumah dan saya lebih memerhatikan banyak tamu yang berbahasa Indonesia, sementara mereka yang sedikit itu saya biarkan terdiam di sudut teras. “Mereka sudah capek-capek mampir, lho! Kok dicuekin? Kok nggak diajak ngobrol? Tuan rumah karmana ni?!”

Ini era internet, era global. Bahasa seharusnya bukan jadi penghalang. Seharusnya.

Situs ini memang saya tujukan sebagai situs berbahasa Indonesia saja. Sesekali saya sisipkan istilah-istilah dalam Bahasa Melayu Kupang yang saya yakini sudah cukup asing bagi penduduk wilayah lain di NKRI yang kebetulan sedang berkunjung. Tidak terpikir untuk membuat situs yang multibahasa. Maksud saya, situs yang benar-benar disiapkan untuk pemenuhan kebutuhan bahasa penggunanya, bukan sekadar menaruh “translation widget” lalu berdoa dan berharap semoga hasil terjemahan otomatis yang diperoleh tidak malah semakin membingungkan pembacanya.

Dari hasil pengamatan saya, jumlah pengunjung alias traffic pada situs saya ini tidak terlampau istimewa. Tidak banyak visit per hari yang diterima. Paling tinggi 30; itupun jika situs ini baru saja diperbarui dengan tulisan baru. Jika sedang sepi tulisan, jumlah kunjungan berkisar antara 20 s.d. 25 per hari. Pernah juga terdapat tiga pengunjung selama seharian penuh. Mungkin mereka tersesat. Kasihan.

Pengunjung terbesar hingga saat ini memang masih merupakan pengunjung asal Indonesia. Google Analytics yang bilang begitu. Saya percaya saja. Tapi, saya juga mendapat laporan dari Google Analytics bahwa, selain pengunjung dari Indonesia, ada juga pengunjung dari wilayah dunia lain.

google analytics
Bahasa
google analytics
Lokasi

Kedua gambar di atas merupakan cuplikan data kunjungan pada situs saya dalam jangka waktu satu minggu terakhir, sejak 20 April hingga 26 April.

Dari gambar di atas, porsi pengguna bahasa Inggris terlihat jauh lebih besar dari pengguna Bahasa Indonesia. Untuk Sobat pahami, Google Analytics mendeteksi bahasa pengguna berdasarkan jenis bahasa yang dipergunakan oleh perangkatnya saat mengakses situs ini, bisa berupa PC, laptop, ponsel, atau tablet.

Walau sejatinya data ini masih sangat bias, karena saya (dan mungkin banyak orang Indonesia) menggunakan Bahasa Inggris untuk bahasa antarmuka pada laptop dan ponsel saya, namun tidak bisa diabaikan bahwa ada pengunjung situs ini yang menggunakan bahasa Inggris dan variasinya (dalam tabel di atas disimbolkan dengan en-us “Inggris Amerika”, en-gb “Inggris British”, dan en “Inggris”).

Dalam kepala saya timbul pertanyaan.

Apa yang mereka, para tamu jauh itu, lakukan di situs ini? Apakah mereka langsung menekan tombol “close tab/window” karena proses loading yang lama akibat server situs ini yang berlokasi di Jakarta? Apakah mereka tetap memaksa diri untuk membuka satu-dua tulisan saya lantas mengernyit tak mengerti lalu mendengus kesal sembari meneruskan berselancar di dunia maya? Pertanyaan terbesar saya adalah apakah situs ini sudah memberi manfaat, sekecil apapun itu, bagi pengunjungnya? Bukan lantas menjadi bagian dari sampah maya yang berceceran di antara seliwaran lalu lalang data ber-megabita di negeri yang jika Menkominfo-nya tidak diganti maka koneksi internetnya tak akan pernah kencang ini?

Lantas, saya pun termenung. Tercenung.

Bukan, bukan soal sang menteri pantun itu.

Sudah to, ko beta sonde mangarti dia ada tulis apa di situ.
Na beking apa beta lama-lama di situ?

Usi Mia, Wirausahawati Sopi.

Ini soal bahasa. Soal komunikasi. Soal interaksi. Toh, inti dari web 2.0 adalah user interaction, user benefit. Benefit apa yang akan seseorang peroleh jika membaca saja susah? Beda bahasa. Tutup tab browser. Selesai sudah. Hal ini saya lakukan manakala kesasar masuk di situs-situs asing yang menggunakan huruf-huruf selain huruf romawi. Apalagi jika tak ada pilihan bahasa Inggris.

Tak mungkin saya memaksa semua pengunjung situs ini untuk menguasai Bahasa Indonesia. Mustahil juga jika saya mendadak harus menulis dalam berbagai bahasa daerah, dari Sabang sampai Merauke, agar Sobat se-NKRI terpuaskan, seperti bangsa ini yang langsung sumringah saat Barrack Obama menyapa, “Appa kabahr? I love Baksho, Nasi Gowreng…”.

Kita pasti akan sumringah manakala ada sosok yang tampak asing namun sanggup menyajikan secuil kesamaan fitur dengan kita, yang kita kenali sebagai salah satu unsur kebudayaan, yaitu bahasa.

Ini era internet, era global. Bahasa seharusnya bukan jadi penghalang. Seharusnya.

– Adhy. Ditulis sekali lagi dengan format kutipan agar dramatis.

Jadi, agar saya bisa memberi sumringah yang sama bagi pengunjung yang bukan pengguna dan penutur asli Bahasa Indonesia namun penutur bahasa Inggris, maka saya akan menayangkan tulisan dalam bahasa Inggris sebagai bahasa pendamping dalam situs ini.

Bukan karena kemampuan saya yang luar biasa dalam berbahasa Inggris atau skor TOEFL saya yang mencapai tujuh digit, namun saya ingin melakukan hal yang seperti mendiang Nelson Mandela pernah utarakan semasa ia hidup.

google analytics
Mandela

To all visitors, my non-Indonesian-speaking-yet-English-speaking-visitors, I will be posting articles in English here in this blog. I do realize that I lacked the proficiency but I believe you will guide me along the holy path of grammar and spelling, right?

My upcoming posts will be either my previous Indonesian post being rewritten into English or entirely new post for English reader. Another post option is perhaps to be in the form of bilingual posts.  A language icon will appears inside my future Indonesian posts to provide the link to the supported language, whenever available. To make it less difficult to search, a new post category will be added to the website menu list,  as soon as the awaited post being published, of course.*  So, see you at the next article. An English article, I hope.

Salam,

Adhy Langgar.

*update: please visit AdhyLanggar.com for my posts in English.

Leave a Reply