Pilgub NTT 2018 dan Saya

Sebelum Hari Kasih Sayang, KPUD NTT telah menetapkan empat pasangan Calon Gubernur dan Calon Wakil Gubernur untuk mengikuti Pemilihan Kepala Daerah Provinsi NTT 2018 alias Pilgub NTT.

Para kandidat kepala daerah yang dimunculkan oleh partai-partai politik sebelum masa pendaftaran calon sangat beragam. Walau begitu, keberadaan sebagaian dari mereka bisa dilacak kembali hingga sejauh saat pilkada masih dilakukan oleh para anggota dewan. Tulisan ini adalah kumpulan ingatan dan pengetahuan yang saya gabungkan dengan aneka cuplikan informasi lain yang tersedia secara daring.

***

Berawal pada Juni 2003. Adalah Viktor Bungtilu Laiskodat yang menggebrak politik NTT ketika ia berhadapan dengan petahana (alm) Piet A. Tallo. Dalam Menunggu “Anggur Merah” Frans Lebu Raya, secuil kisah proses pemilihan kepala daerah oleh Anggota DPRD Provinsi NTT ini digambarkan dramatis. Berlangsung dalam dua babak, Piet Alexander Tallo dan Frans Lebu Raya berhasil mengalahkan pasangan Victor Bungtilu Laiskodat dan Simon Hayon dengan posisi 28 melawan 27 suara. Pasangan Esthon L. Foenay dan Gaspar Parang Ehok sudah kalah dalam putaran pertama. Konon sempat ada drama yang mengharu biru antara dua orang cagub dalam Pilgub NTT ini.

Piet A. Tallo dan Frans Lebu Raya memimpin NTT. Nama Esthon Leyloh Foenay mulai berkibar dan menguat pengaruhnya dalam politik NTT sementara Viktor B. Laiskodat lebih memilih Jakarta sebagai tempat untuknya meluaskan pengaruh dalam kancah politik nasional.

Ketika digandeng Frans Lebu Raya dalam Pilgub NTT 2008, Esthon L. Foenay benar-benar menunjukkan pengaruhnya di pemilih Kupang. Walau berhadapan dengan Ibrahim Agustinus Medah, mantan Bupati Kupang periode 1999 hingga 2009, yang berpasangan dengan Paulus Moa, suara untuk Frans Lebu Raya dan Esthon L. Foenay seolah tidak terbendung. Pasangan Gaspar Parang Ehok dan Julius Bobo pun tak sanggup menandingi. Saat itu, pasangan Benny Kabur Harman dan Alfred Kase hanya bisa melihat pertarungan ini dari kejauhan, karena bersama empat pasang bakal calon lainnya, mereka tidak lolos verifikasi KPU NTT. Kini Frans Lebu Raya bersama Esthon L. Foenay yang memimpin NTT.

Memasuki tahun 2013, tiba lagi waktunya untuk Pilgub NTT. Pertarungan antara lima pasang kandidat kali ini mengerucut pada persaingan antara pasangan Frans Lebu Raya dan Benny A. Litelnoni versus pasangan Esthon L. Foenay, yang memutuskan untuk melepaskan diri dari Frans Lebu Raya, dan Paul Tallo. Dua putaran berlangsung ketat dari bilik suara hingga Mahkamah Konstitusi. Frans Lebu Raya dan Benny A. Litelnoni berhasil mengalahkan Esthon Foenay dan Paul Tallo.  Posisi ketiga dikuasai oleh Ibrahim A. Medah yang berduet dengan Melki Laka Lena.

Ada sebuah catatan baru dalam perjalanan pilgub NTT 2013. Untuk pertama kalinya, calon perseorangan berhasil lolos dan mengikuti pelaksanaan pilgub. Walau kalah, namun perolehan suara Christian Rotok dan Paul Liyanto membuat mereka berada di peringkat empat. Dengar-dengar, sumbangan terbesar suara untuk pasangan ini berasal dari Manggarai Raya. Di peringkat akhir, ada Benny K. Harman dan Wellem Nope.

Melihat potensi besar di depan mata, Esthon L. Foenay langsung bulatkan tekad untuk menggandeng Christian Rotok pada Pilgub 2018. Christian Rotok, politisi yang pernah memimpin Kabupaten Manggarai pada 2005 hingga 2015 ini dipandang memiliki modal yang kuat. Jika saya tak keliru, Esthon-Chris mulai dikenalkan pada masyarakat NTT pada sekitar 2016. Gerindra NTT sepertinya sangat percaya diri walau jumlah kursi di DPRD NTT tidak cukup.

Tahun 2017 belum berjalan lama, namun geliat politik menyambut Pilgub NTT 2018 sudah terasa .

Dinamika dalam tubuh Golkar dan Nasdem pada masa sebelum pilgub NTT diwarnai banyak plot twist. Jika PDIP sepanjang 2017 tampak diam seolah mengulur waktu menunggu momen terbaik, kedua partai ini malah penuh intrik.

Ada persaingan internal antar sesama pengurus dalam Golkar, yakni Ibrahim A. Medah dengan Melki Laka Lena. Golkar NTT lantas menetapkan Melki Laka Lena sebagai calon kandidat gubernur dari partai, yang mulai bergerak menggiring pemilih muda seantero NTT. Ibrahim A. Medah yang kecewa memutuskan hengkang dari Golkar dan berharap pada Hanura.

Lain Golkar, lain Nasdem. Merasa telah dijamin oleh Surya Paloh sang Ketua Umum, Jacky Uly, seorang jenderal purnawirawan POLRI sekaligus politisi Partai Nasdem NTT, mulai merasa nyaman menampakkan diri kepada khalayak NTT. Tanpa ada peringatan, duet Jacky Uly dan Melki Laka Lena sebagai cagub dan cawagub disodorkan kepada publik.

Upaya koalisi Golkar dan Nasdem ini di luar dugaan dan banyak menuai protes dari pendukung Melki Laka Lena. Entah apa yang terjadi selanjutnya, ternyata duet Jacky Uly dan Melki Laka Lena hanya seumur jagung. Orang Kupang bilang takuju ada, takuju su sonde ada lai.

Mendadak dari ujung cakrawala, datanglah Viktor B. Laiskodat menggamit Yoseph A. Nai Soi, politisi Golkar mantan Anggota DPR RI. Golkar dan Nasdem kembali bergandengan tangan ditemani PPP dan Hanura.

Sudah kepalang basah berkeliling NTT tawarkan Esthon L. Foenay dan Christian Rotok untuk Pilgub NTT, Gerindra NTT masih percaya diri dengan prospek perolehan suara memang jadi daya pikat utama. Tapi tampak seolah tidak ada partai lain yang berminat. Apakah karena partai lain merasa tidak memiliki keterwakilan dalam pasangan ini? Mungkin saja.  Setelah lama menanti, akhirnya PAN menyambut tawaran Gerindra.

Benny K. Harman rupanya masih menyimpan hasrat menjadi cagub, walau sudah dua kali percobaan yang gagal. Apa daya, perolehan kursi Demokrat di DPRD NTT tidak cukup untuk mencalonkan diri sendiri. Tidak banyak figur dengan tingkat keterpilihan baik yang bersedia mendampinginya untuk menjalani percobaan cagub kali ketiga.

Komunikasi mulai dibangun dengan Benny A. Litelnoni, petahana wakil gubernur. Ada dukungan PKPI untuk mereka, namun tanpa tambahan kursi yang signifikan, pasangan Benny K. Harman dan Benny A. Litelnoni kelimpungan. Puji Tuhan, ada PKS.

Di lain pihak, PKB NTT sedang kesulitan. Mereka punya sedikit modal kursi dan sedang tak punya sosok andalan yang layak jual. Tawaran yang ada pun kurang menarik sehingga tak digubris. Sementara itu, PDIP NTT masih belum juga menentukan sikap. Apakah Daniel Tagu Dendo, Kristo Blasin, Raymundus Fernandez atau Lusia Adinda Lebu Raya, tak ada yang tahu.

Singkat cerita, PKB mendekat, PDIP merapat. Marianus Sae dari Ngada disodorkan PKB. Gayung bersambut. Popularitas Bupati Ngada dua periode ini sangat menarik untuk dilewatkan. Namun ada perhitungan politis yang harus dibuat oleh PDIP dengan mengusung Marianus Sae. Harus ada kader asli PDIP agar suara di wilayah basis tidak hilang.

Kejutan yang sesungguhnya menurut saya adalah Emelia J. Nomleni. Perempuan berkacamata ini, setahu saya, telah lama menjadi bagian dari PDIP NTT. Aktifitasnya sebagai pimpinan Badan Pengelola Kawasan Industri Bolok membuat wajah Emelia J. Nomleni tak tampak asing di lantai dua Gedung Sasando. Namun, namanya tidak pernah disebutkan sekalipun dalam pemberitaan jelang penentuan calon yang akan diusung oleh PDIP. Saat itu banyak nama kandidat yang disebut-sebut, tapi tidak ada Emelia Nomleni.

Ketika akhirnya ia ditunjuk oleh partai untuk mendampingi Marianus Sae, Emelia Nomleni resmi menjadi perempuan pertama dalam sejarah pemilihan Gubernur NTT dan satu-satunya perempuan dalam kontes pilgub kali ini.

Menurut amatan saya, pada saat itu pasangan Marianus Sae dan Emelia J. Nomleni tampak cukup menarik untuk diperhatikan lebih lama dan lebih jauh.

Harus diakui bahwa keberadaan kandidat perempuan dalam pilkada yang sudah-sudah di NTT nyaris tiada. Sejauh yang saya tahu, hingga saat ini baru Maria Geong, seorang dokter hewan, yang berhasil terpilih menduduki jabatan wakil bupati di Manggarai Barat. Walau sempat riuh rendah dalam beberapa kali pelaksanaan pilkada, misalnya saat menjelang pemilihan Wali Kota Kupang beberapa waktu lalu, tak satu pun kandidat perempuan NTT selain Maria Geong yang berhasil mencetak fotonya dalam surat suara di pilkada mana pun. Lain ceritanya bila membahas sengitnya pertarungan para perempuan NTT dalam pemilu legislatif.

Emelia Nomleni ditugaskan mendampingi Marianus Sae, Bupati Ngada yang sedang dalam masa kepemimpinan periode kedua di kabupaten penghasil Kopi Bajawa ini. Dalam pilkada Kabupaten Ngada 2010 lalu, mantan pengusaha kayu yang menjadi politisi ini merebut jabatan Bupati dengan dukungan 48% suara pemilih. Pada 2015, Marianus Sae yang petahana berhasil meyakinkan 78% pemilih untuk memilihnya agar terus menjadi Bupati Ngada hingga 2020.

Kemudian negara api menyerang, eh, maksud saya, Marianus Sae pun dicokok Komisi Pemberantasan Korupsi RI dalam Operasi Tangkap Tangan dari sebuah kamar hotel saat berada di Surabaya. Hal ini terjadi tepat sehari sebelum penetapan calon gubernur oleh KPUD NTT.

Marianus Sae kini pesakitan. Komisi Pemberantasan Korupsi mendakwanya menerima suap untuk sejumlah proyek infrastruktur di wilayah yang dipimpinnya. Sudah barang tentu ia tidak akan berada di panggung kampanye Pilgub NTT bersama Emelia Nomleni, sang calon Wakil Gubernur.

* * *

Pilgub NTT 2018 terasa spesial bagi saya. Sejauh yang saya ingat, saya belum pernah mengikuti pemilihan gubernur sama sekali. Pemilihan Gubernur NTT secara langsung pada 2008 terpaksa harus saya lewatkan tanpa mencoblos Frans Lebu Raya karena sejak 2007 hingga 2009 saya mendapat penugasan di Bali. Selanjutnya, pada pilgub 2013. Pada saat itu, saya kehilangan lagi kesempatan emas untuk mencoblos Frans Lebu Raya karena tengah berada di Jatinangor. Sayang sekali.

Oh, hampir lupa, saya sempat menulis sedikit kesan tentang Pilgub 2013 waktu itu. Silakan baca di sini.

Tapi kali ini, saya tidak kemana-mana. Saya ada di Kupang dan pada Pilgub NTT Tahun 2018 ini saya pastikan akan mencoblos Fra…

Resmi sudah para calon gubernur dan calon wakil gubernur dalam pilgub kali ini. Ada Benny K. Harman-Benny A. Litelnoni disodor oleh Demokrat-PKPI-PKS, Viktor Bungtilu Laiskodat-Yoseph Nae Soi digotong oleh Golkar-NasDem-Hanura, Esthon L. Foenay-Christian Rotok diusung oleh Gerindra-PAN, lalu Marianus Sae-Emelia Nomleni diangsur oleh PDIP-PKB.

Keempat pasangan calon ini adalah sosok-sosok terbaik yang telah dipilah oleh partai politik untuk dipilih oleh para pemegang hak pilih di NTT. Gunakan semua kemampuan Anda untuk menilai sebelum memutuskan pasangan kandidat yang dipercaya.

Selamat memindai, selagi masih ada waktu.

Salam,
Adhy Langgar.

Leave a Reply