(Akhirnya) Kembali ke Ede

Sebuah perjalanan pulang tentu menyenangkan. Kenangan lama akan masa kecil yang indah, damai dan penuh cerita menyeruak perlahan seolah tengah menanti untuk diingat lagi. Apapun temanya, pulang adalah kembali pada kenangan.

Ede, nama sebuah kampung kecil di kaki bukit Delo. Secara administratif berada di wilayah kecamatan Wewewa Selatan, Kabupaten Sumba Barat Daya. Nama lain dari kampung ini ada We’e Wulla. Di sinilah saya menjalani masa kecil dalam buaian sarung milik Oma. Saya pernah menjalani hidup selama beberapa masa di rumah Opa Langgar, bersama tanaman jeruk di depan rumah yang berdinding bambu, kuda jantan dalam kandang di samping rumah, kandang babi di belakang rumah, kandang kerbau dan hamparan sawah yang mengitarinya. Ayam peliharaan Oma dilepas bebas ditingkahi gonggongan anjing yang berkejaran.

Kenangan terakhir saya tentang Ede, juga Sumba, berada pada belasan tahun yang lalu. Kala itu, untuk mencapai Ede saya harus menggunakan angkutan umum yang jarang ada dari Waimangura, di Wewewa Barat, dan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki dari Tenateke, sebuah kampung kecil tempat perhentian akhir angkutan umum. Bila beruntung, saya bisa menumpang truk material yang kebetulan melintas. Tidak mudah menaklukkan jalur menuju Ede. Jalan yang berliku dan terjal menjadi alasannya.

Sumba yang saya ingat adalah Sumba yang hanya bisa dijangkau dengan kapal Pelni atau kapal feri ro-ro milik ASDP. Penerbangan dari Waingapu, satu-satunya kota dengan bandar udara di pulau yang penuh dengan sabana dan stepa ini, memang sudah ada namun dengan harga tiket yang sangat mahal waktu itu. Perjalanan menuju Sumba berarti sebuah pelayaran panjang puluhan jam dari Pelabuhan Tenau di Kupang. Jika dari Pelabuhan Bolok, tempat kapal feri berlabuh, bisa lebih lama lagi. Manakala akan menumpang kapal Pelni, ibu saya biasa menyiapkan bekal lauk dan beberapa sachet kopi siap seduh. Nasi hangat bisa diperoleh dari pantry kapal, dalam piring alumunium yang legendaris itu. Namun jika menggunakan kapal feri, maka bekal makanan dan minuman yang harus dibawa harus berlipat ganda. Betapa tidak? Jika cuaca bersahabat, pelayaran selama tiga hari penuh harus ditempuh.

Setelah tiba di Waingapu, perjalanan dilanjutkan dengan bus. Bentuk bus yang saya ingat lalu lalang di jalanan lintas Sumba pun tidak biasa. Sisi depan bus terangkat tinggi, agak mirip moncong pesawat udara. Bumi Indah, nama perusahaan otobus yang kondang masa itu. Armadanya banyak.

Ya, Ede dan Sumba yang saya ingat adalah Ede dan Sumba yang terakhir saya kunjungi di akhir tahun 90-an, kala liburan kuliah.

Kali ini, kondisi sudah berubah. Walau belum jua ada sarana transportasi umum yang menyinggahi kampung ini, namun setidaknya pilihan moda transportasi dari kota Waitabula, Waikabubak, maupun Waimangura sudah lebih banyak. Di sepanjang jalan menuju Ede, tak lagi terasa menyeramkan akibat sepi. Sudah banyak rumah yang berdiri gagah di kanan dan kiri jalan.

“Sekarang sudah ramai di sana,” kata Yuris, kakak sepupu yang menjemput saya di bandara.

Pagi itu sekitar pukul sembilan, pesawat ATR milik maskapai Garuda Indonesia yang saya tumpangi dari Bandara Ngurah Rai tiba di Tambolaka. Saya terpaksa tidak menyinggahi Kupang sama sekali akibat sukarnya memperoleh tiket pesawat terbang dari Kupang menuju Tambolaka di Sumba Barat Daya maupun Waingapu di Sumba Timur. Untuk mencapai Bali, saya gunakan pesawat Citilink yang take-off dari Bandara Husein Sastranegara Bandung. Satu malam saya habiskan di Bali, menunggu penerbangan keesokan harinya. Dari Bali, penerbangan menuju Sumba merupakan penerbangan lanjutan setelah menyinggahi Bandara Komodo di Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, di Flores.

Pintu pesawat dibuka, kaki saya menapak turun.

Hari itu, Jumat, 21 Maret 2014, saya kembali ke Tanah Marapu. Kepulangan saya kali ini untuk mengantarkan Om tercinta ke liang lahat, ke tempat peristirahatannya yang terakhir.

Salam,

Adhy Langgar

Leave a Reply