Skip to main content

Antar Aku, XTrans!

Malam terus beranjak jelang akhir hari. Mobil Elf milik XTrans yang saya tumpangi bergerak perlahan. Sang pengemudi menyapa satpam yang berdiri di sisi lain areal parkir depan Hotel Batara, Cihampelas. Terdengar suaranya dari balik kaca jendela yang terbuka separuh, “Jalan dulu, ya”, katanya. “Hati-hati,” balas sang satpam. Singkat namun akrab.

Hari ini, tepatnya tengah malam ini, hari Sabtu, 4 Oktober 2014, saya tinggalkan Jatinangor, dan Bandung, dan Jawa Barat, dan Tatar Sunda, kembali ke rumah di Kupang, Tana Timor yang konon “lebe bae”. Setidaknya menurut warganya, penduduknya, asli atau bukan.

Dari arah depan, sayup-sayup terdengar obrolan sang sopir dengan penumpang di kursi nomer satu. Seorang perempuan muda, usia dua puluh-an, mahasiswi tingkat awal sebuah kampus teknika di Bandung. Ia mengaku hendak menuju Manado, pesawatnya akan berangkat pukul tujuh pagi nanti. Sang sopir sempat berujar, setengah berintuisi, kami akan tiba di Cengkareng, Tangerang, Banten, tidak lebih dari pukul dua pagi. Semoga saja begitu, karena pesawat udara yang saya miliki tiketnya dijadwalkan mengudara pukul empat. Soetta, Juanda, lalu El Tari.

Jam menunjukkan hari telah berganti, sudah Minggu.

Mobil melaju, membelah jalur tol Cipularang yang tergolong sepi. Arah menuju Jakarta tidak seperti sebaliknya. Kelebatan lampu kendaraan yang terlihat dari sisi jendela kanan, tempat saya duduk, tampak sering dan rapat. Mungkin mereka peserta mudik akhir pekan yang bertepatan dengan Idul Adha kali ini.

Lamat-lamat mengalun lagu yang disetel dengan volume rendah. Sepertinya Pak Sopir punya selera musik yang harus saya apresiasi. Tembang demi tembang ber-genre slow rock tahun 80-an dan 90-an silih berganti membuai kami, disela-sela gucangan akibat permukaan jalan tol yang tak mulus, apalagi rata.

Roda mobil terus berputar. Tak terdengar lagi obrolan dari arah depan. Si gadis kursi nomer satu tampak serius memelototi pemandangan lampu jalan di depannya. Laki-laki bercelana panjang sempit di kursi nomer dua, sudah lama lelap. Demikian halnya pemuda berkacamata di baris depan saya, penghuni kursi nomer 3. Di sebelah kiri, kursi nomer 4, pria bercelana pendek yang beberapa menit sebelumnya terlihat bersemangat memainkan Pokopang, sudah bersandar dengan leher yang tergolek lemas, lelap.

Baca Juga:  Semarak Cap Go Meh Bandung

Saya masih ingat masa awal menjejakkan kaki di Bumi Parahyangan. Waktu itu saya hanya membawa satu buah koper ukuran sedang, berisi baju dan sepatu, serta sebuah tas ransel kecil, yang hanya cukup untuk sebuah laptop.

Kini, saat tapak terakhir saya terangkat dari tanah Urang Sunda ini, saya membawa serta dua ransel besar, satu travel bag, satu tas selempang, dan satu koper besar. Ini sisa dari timbunan dus beraneka ukuran dengan berat keseluruhan berkisar antara 150 hingga 160 kilogram. Entah bagaimana awalnya hingga sebanyak itu, saya tidak punya jawaban pasti. Namun satu hal yang pasti, buku adalah penyumbang berat terbesar. Tidak kurang delapan puluh kilogram dihabiskan hanya untuk buku-buku saya saya. Nyaris tiga juta rupiah untuk membayar ongkos kirim, dari Jatinangor hingga Kupang. Untuk pengiriman hampir semua buku-buku, serta beberapa perangkat elektronika, saya percayakan pada Pandu Logistik. Kebetulan, loket agen Pandu belum lama mulai beroperasi di Jatinangor. Letaknya di seberang toko donat cabang internasional satu-satunya di Jatinangor, atau Nangor, biasanya nama kecamatan ini disingkat.

Jalan tol yang terdiri dari tiga lajur tampak sepi. Duran Duran tengah mengulang tanya, “Who do you love, who do you need, when you come undone?” Dari arah belakang, dua barisan kursi di belakang saya tidak terlihat dan terdengar apapun. Semua lelap, pulas.

Saya menggeser posisi duduk. Sudah hampir satu jam perjalanan. Di kiri dan kanan tol hanya tampak gelap malam dan kerlip lampu warga. Alam pun tengah lelap. Saya kehilangan kemampuan mengenali kawasan ini. Entah sudah dimana kami?

Tubuh saya penat. Pundak terasa pegal, betis kaki mulai terasa kaku. Seharian ini saya menggotong dus-dus dengan berat puluhan kilogram, menurunkan dari lantai atas, tempat kamar kos saya, menuju gerobak dorong milik Mang Amin, seorang penjaja pecel lele kaki lima langganan saya, yang terparkir di ujung cabang gang sempit depan rumah kos.

Dari kursi nomer tiga tiba-tiba terdengar dengkur keras, bertepatan kala REM tengah bersabda, “…but that was just a dream”.

Tinggallah saya, penumpang mobil travel yang wajahnya bermandikan sinar dari layar ponsel, memencet tombol-tombol di papan kunci, membuat tulisan ini.

Baca Juga:  Melayang di Lasiana

Sesungguhnya tubuh saya sangat letih. Butuh istirahat. Namun otak saya memutuskan lain. Benak saya berlari dan melompat dari satu kenangan ke kenangan yang lain, terus dan terus begitu. Ia melayang dari satu ide, ke ide lainnya. Beginilah saya bila “terlalu lelah”. Kepenatan membuat mulut saya menguap, untuk melayani peningkatan drastis akan kebutuhan oksigen di otak saya. Mungkin saya akan tertidur dalam penerbangan nanti. Entah.

Selang beberapa menit dari pukul satu, mobil travel melambatkan laju kendaraan dan berhenti. Tiba di gerbang Cikarang Utama. Lagu-lagu yang sebenarnya bertema putus cinta dan patah hati namun dibungkus dengan mantapnya gebukan drum dan lengkingan melodi gitar masih mengalun dari pelantang yang berada di kabin sopir. Si mahasiswi calon penumpang maskapai singa merah bersayap, betah dalam lelapnya. Laki-laki pemain Pokopang di sebelah saya entah sedang memimpikan apa, kaki kanannya terdengar menapak beberapa kali dengan keras. Kabin penumpang gelap pekat. Tak banyak cahaya dari luar kendaraan yang berhasil menerobos masuk kain tirai jendela yang rapat mengawal jendela.

Sejenak mata saya terpejam. Tak dinyana, sudah lajur Tol Dalam Kota kami rambahi. Dua orang penumpang yang hendak menuju Pondok Indah diturunkan. Pemilik kursi tiga dan kursi tujuh. Sesaat setelah kembali malaju, Sambil tetap mengemudi, sang sopir berdiskusi dengan penumpang lain, pemilik kursi dua, yang hendak menuju Pluit. Mobil terus melaju meninggalkan suram lampu papan nama Stasiun Cawang berwarna jingga kelabu yang kalah pamor dari cahaya lampu sebuah gerbang tol di dekatnya.

Saya melihat sekitar. Para penumpang lainnya sudah terlihat awas. Dari balik kaca tampak suasana kota Jakarta di pukul satu lewat empat puluh menit. Alam terasa sepi, hanya saja penuh cahaya, tak seperti beberapa menit sebelumnya, walau jalan masih terus terasa lengang.

Menjelang sebuah jalan menurun mobil dipelankan. Sang penumpang meminta turun di situ. Tangannya bergerak cepat mengayun ke arah pengemudi, yang sigap menyambut. Ada sesuatu yang berpindah tangan, entah apa.

Mobil lalu membelok ke kiri selepas Pluit, masuk Tol Bandara. Di sini lalu lintas tampak ramai. Beberap buah taksi tampak kencang melaju tergesa. Waktu sudah hampir pukul dua.

Baca Juga:  Membuat Paspor itu Mudah dan Cepat

Kembali terdengar obrolan ramai dari arah depan, suara pak sopir dan sang gadis kursi satu, yang samar-samar terlihat lebih segar usai lelap sejenak. Rambutnya ia kuncir seadanya dengan beberapa helai rambut lepas yang tampak jatuh di pelipis dan dahinya. Playlist sudah lama berganti. Tak terdengar lagi lengkingan vokalis hard rock dengan lagu-lagu slow rock, berganti siaran radio. Raungan mesin diesel yang menembus masuk kabin dan obrolan pak sopir yang terdengar bersemangat karena ditemani gadis manis tujuan Manado yang baru bangun dari tidurnya membuat saya sukar mendengar isi siaran yang di setel ala kadarmya.

Jam tangan saya menunjukkan pukul dua lepas enam menit. Gerbang besar Bandara Internasional Soekarno Hatta tampak di kejauhan menyambut kami. Ada semu sedih di kelabu warnanya malam ini. Entah. Mungkin ini hanya perasaan saya.

Pak sopir menghentikan mobil di sisi kiri jalan. Hitung penumpang, ujarnya sambil membuka pintu dan menggeser pantat secara nyaris bersamaan. Di sisi jalan, di jalur lambat, nampak sebuah bangunan dengan cahaya redup, mungkin bangunan untuk pengawas kendaraan travel ini. Botol kecil air mineral jatah penumpang saya buka. Satu teguk cukup menyegarkan. Sebentar lagi, saya akan turun di Terminal 1 C Bandara Soetta.

Si gadis kursi satu sudah turun di terminal 1A, belum juga jauh bergerak seorang lelaki berparas Arabia mencegat mobil. Rupanya calon penumpang Lion Bali, kata pak sopir. Ini peluang.

Dengan sigap ia parkirkan mobil. Ada tiga kursi kosong untuk ia isikan. Dari gayanya, sepertinya ini sudah sering ia lakukan. Uang mudah dari tiga laki-laki arab. Yang satu dengan rambut dicat kemerahan, satunya lagi berkacamata dan menenteng kopi, dan satunya lagi dengan jambang lebat.

Tiba di terminal 1C, semua penumpang dari Bandung pun turun. Sang sopir pun melanjutkan perjalanan. Saya melangkah menuju ruang check-in. Sebentar lagi akan terbang menuju Surabaya dengan Citilink.

*Dari kursi nomor lima XTrans travel, sabtu dan minggu, empat dan lima oktober, dua ribu empat belas.

Salam,

Adhy Langgar

adhylanggar

Perkenalkan. Saya Aprianus Langgar, namun lebih nyaman disapa Adhy.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*