Getah atau Daging Buah, Nangka Dilema

Sobat tentu kenal dan tahu persis buah nangka. Buah khas dari tanaman bernama sama yang tumbuh di sepanjang garis khatulistiwa di wilayah Asia Selatan dan Asia Tenggara ini, dalam ensiklopedia daring Wikipedia berbahasa Inggris, disebut memiliki citarasa gabungan dari buah apel, mangga, pisang dan nanas. Nama ilmiahnya, Artocarpus heterophyllus. Dalam bahasa Inggris, tanaman dan buahnya ini disebut jackfruit.

Berdasarkan jenis buahnya, secara umum nangka dapat digolongkan dalam 2 (dua) jenis, yakni nangka bubur dengan karakter daging buahnya cenderung lembek, rasanya sangat manis dan beraroma sangat harum; dan nangka salak, cirinya daging buah tebal, lebih keras, rasanya tidak terlalu manis dan tidak seharum nangka bubur. Namun, bagi saya, nangka bubur atau salak sama sekali tidak menimbulkan kontroversi hati (!). Keduanya sama nikmatnya.

Buah nangka dapat dinikmati dalam berbagai olahan. Dapat disantap langsung saat telah matang di pohon atau dikombinasikan dengan aneka bumbu menjadi sebuah masakan yang menggoda selera. Sayur nangka muda (gori, Jawa), gudeg, gulai nangka, merupakan contoh kecil kreatifitas manusia Nusantara dalam mengapresiasi kekayaan agrikultural ini. Daging buah hingga bijinya (beton, Jawa), buah muda maupun buah matang, tak ada yang luput. Semuanya dapat dikonsumsi, kecuali kulit nangka tentunya. Kandungan gizinya? Jangan tanya lagi: rendah lemak, tanpa kolesterol, tinggi kalori dan penuh serat. Singkatnya, bermanfaat.

Nangka - Google Search

Selain buah, daun nangka bermanfaat khusus untuk pakan ternak. Saya belum menemukan adanya olahan daun nangka yang menjadi pendamping ritual makan nasi. Jika batang pohonnya cukup besar, tanaman ini juga menjadi alternatif sumber kayu untuk kebutuhan papan olahan walau kualitasnya tak secemerlang kayu jati. Meski demikian, kayu nangka menjadi kayu pilihan utama pembuatan alat musik tradisional di Nusantara, misalnya untuk alat musik gendang Jawa/Sunda.

Namun, selain daging buah, daun dan batang pohonnya, nangka juga kondang dengan satu keunggulan lain. Getahnya.

Jika Sobat penggemar burung, getah nangka merupakan ramuan penting dalam sarana penjebakan untuk menangkap burung di alam liar, biasanya burung kicau yang berukuran kecil. Unsur lengket yang ramah lingkungan ini sama menguntungkannya dalam proses menangkap tonggeret (dik-dik, Melayu Kupang; congreret, Sunda; garengpung, uir-uir, Jawa). Di beberapa tempat di Indonesia, tonggeret yang juga populer dengan sapaan Cicada (Latin), menjadi serangga pilihan sumber asupan yang kaya protein. Daging dari tonggeret betina merupakan favorit dan lebih diburu karena ukurannya lebih besar dan dagingnya lebih banyak dibandingkan  tonggeret jantan–tonggeret betina tidak mengeluarkan bunyi karena tidak memiliki tymbals alias organ akustik sumber bunyi yang menjadi senjata utama tonggeret jantan dalam memikat sang betina.

Tapi, keunggulan getah nangka itu menjadi sirna kala berhadapan dengan urusan makan nangka. Siapa yang tak sebal melihat benda lengket itu menempel erat pada pisau pembedah kulit buah nangka, tangan, bahkan bibir, “yang sulit move-on” jika tidak diseka dengan minyak goreng? Makan nangka adalah sebuah strategi. Tanpa strategi, makan nangka adalah pengorbanan dan kerja keras.

Benar, Sobat. Strategi.

Sejatinya, buah nangka adalah buah yang bersahaja. Low profile. Lihat saja bentuknya. Silinder tak sempurna, kadang dengan tongolan dan tonjolan di sana-sini. Buah nangka tak se-seksi buah apel, misalnya. Buah yang menjerumuskan Hawa dan Adam dari Taman Eden itu sungguh memikat. Melihat sebutir apel, kita diserang secara multimedia. Bentuknya yang bulat dengan sedikit aksen lengkung di tengah buah, kulitnya yang mengilap memantulkan sinar, warnanya yang cerah memikat indera penglihatan. Mulusnya permukaan kulit buah apel memanipulasi indera peraba kita seolah tengah membelai licinnya marmer. Semerbak wangi manis apel menyeruak masuk ke dalam rongga hidung dan memicu otak memberikan rasa nyaman lantas merangsang lidah untuk mencicipi. Tanpa sadar kita tergoda untuk menjangkau, meraih, mengambil dan mengerat secuil daging buahnya, yang manakala tergigit, mengeluarkan bunyi yang sangat khas. Luar biasa bukan? Pantas saja Ular memilih buah ini dalam memorak-morandakan isi taman firdaus. Tapi tidak nangka.

Nangka tidak indah dilihat. Ia biasa-biasa saja. Ia tak punya pesona apel, kemewahan pir, kepongahan anggur, maupun keganasan durian. Walau humble laksana semangka, nangka masih kalah pamor. Nangka tidak segegas semangka.

Nangka itu pemalu. Ia buah yang cenderung introvert. Daging buah dan bijinya ia sembunyikan rapat-rapat dan samarkan dalam bungkusan serabut daging buah semu yang menempel pada sisi dalam kulitnya. Berbeda dengan Jambu Monyet yang saling bersaing gede-gedean biji. Silakan Sobat coba endus buah nangka matang yang belum dibelah, aromanya samar. Kulit buahnya tidak mencolok berganti warna saat matang. Tipis saja gradasi warna yang terlihat. Ia tidak segahar mangga.

Mangga, bersama apel, adalah buah yang “bombastis-fantastis-spektakuler” (ucapkan ini dengan meniru mimik Marcella Lumowa, lebih nendang!). Buah mangga akan mengubah warna kulitnya seiring dengan bertambahnya usia kematangan. Secara bertahap, perubahan tampilan visual pada buah mangga terlihat semakin menjadi-jadi. Aromanya apalagi. Sobat tentu punya kenangan masa kanak-kanak mencuri buah mangga milik tetangga, bukan? Tapi pastinya tidak seheboh kenangan mencuri nangka.

Tentu, buah nangka pun tak luput dari sasaran pencuri. Saya ingat betul pada suatu ketika, buah nangka yang tambun dan hampir matang tiba-tiba lenyap dari batang pohon di belakang rumah. Bapak saya sempat timbul amarahnya, karena buah itu berasal dari salah satu pohon kesayangan beliau. Beliau betah berlama-lama mengurusi kebun kecilnya di belakang rumah sementara Ibu sibuk dengan taman bunganya. Bagi kami, para anaknya (terutama saya), kebun dan taman itu berarti satu: tugas menyiram yang tak ada habisnya. Tiap sore musti basiram bunga ais itu pi siram kebun lai. Kalo sonde, pohon talinga manyala.

Namun nangka tidak seperti itu.

Nangka tak punya janji indah.

Nangka tidak memberi harapan vulgar.

Nangka tak punya apa-apa selain warna keemasan daging buahnya.

Sobat tidak bisa memaki nangka dengan, “Percuma saya menyukaimu, nangka. Kau tidak memberiku manfaat lebih. Kita cukup sampai di sini!” Nangka memang bukan buah teman jalan-jalan. Pernahkah Sobat melihat seseorang menenteng nangka sambil santai window-shopping di mal BIP? Di mal Flobamora? Di Plaza Indonesia?

Nangka tidak romantis.

Tidak percaya? Berikan nangka pada pasangan Sobat yang sedang merengut, lalu lihat apa yang terjadi. Itu. Super sekali..

Nangka membutuhkan keteguhan.

Kulitnya yang keras akan melunak dengan sendirinya jika saatnya tiba. Tak seperti kulit durian yang sejak awal sudah keras, bertambah tajam pula. Sobat tunggu saja, bersabarlah dalam menghadapi nangka. Take your time.

Jangan minta nangka menjadi apel. Itu sama ajaibnya dengan lirik tembang kenangan populer sepanjang masa karya Rinto Harahap yang didendangkan oleh Broery Pesolima, “…buah semangka berdaun sirih…”

Jika lantas sempat terlontar dari bibir Sobat, “Nangka, aku menyukaimu, engkaulah idamanku…” atau sambil lirih mengerang, “Nangka, puaskan aku…”, satu keniscayaan adalah Sobat tak boleh melupakan getah, dua sisi dari keping mata uang sejati nangka. Manisnya daging buah nangka muskil dipisahkan dari lengketnya getah.

Getah nangka adalah perjuangan. Getah nangka adalah kesabaran. Bukan untuk menguji determinasi. Bukan sarana jihad apalagi jalan menjadi martir. Namun bagian tak terpisahkan dari nangka itu sendiri. Getah dan nangka adalah Yin dan Yang.

Sobat tak bisa menikmati paduan cita rasa yang kompleks, seolah menikmati apel-mangga-pisang-nanas secara sekaligus dalam tiap-tiap gigitan daging buah nangka dan pada saat bersamaan Sobat menuntut social value yang getah-free dari buah masing-masing (apel, mangga, pisang, nanas).

Sebuah strategi sederhana saya sarankan kepada Sobat dalam menghadapi nangka, yakni menikmati. Nikmati kesahajaannya. Nikmati diamnya. Nikmati manisnya. Nikmati getahnya.

Nangka adalah nangka. Ia unggul, ia lemah. Jika memang Sobat tidak menemukan keunggulannya bahkan menuai kelemahannya, mungkin nangka bukan buah yang tepat untuk Sobat. Sobat tidak salah. Nangka pun tak salah. Nangka dan Sobat hanya tidak berjodoh, itu saja. Bukan kiamat.

Silakan coba kelapa sawit. Saya doakan semoga Sobat beruntung.

Sudahkah Sobat makan nangka hari ini? Saya lebih suka pisang…

Salam,

Adhy Langgar

1. Sumber Gambar: Google Image Search, kata kunci: “Nangka”.
2. Tulisan untuk dibaca kala masih senggang:

  1. Jackfruit dalam wikipedia. Lihat.
  2. Nangka dalam wikipedia. Lihat.
  3. Tonggeret dalam wikipedia. Lihat.
  4. Tymbals pada tonggeret. Lihat.
  5. Lirik lagu Aku Begini, Engkau Begitu. Lihat.
  6. Cara menghilangkan getah pada pisau dan tangan. Lihat.
  7. Kidung birahi gerengpung di musim pancaroba. Lihat.
  8. Kumpulan resep mengolah nangka. Lihat.

Comments

Leave a Reply