Semarak Cap Go Meh Bandung

Sabtu sore, 2 Februari 2013, saya sudah berada di depan pelataran Food Market Paskal Hyper Square Bandung. Suasana berangsur ramai. Orang-orang mulai berdiri di pinggir jalan, tanpa komando. Sebentar lagi Kirab Budaya Cap Go Meh 2546 Bandung dimulai. Saya pun bersiap.

Sebentar. Kirab Budaya Cap Go Meh? Apa itu?

Perayaan 元宵節 Yuan Xiao Jie, di Indonesia dikenal dengan sebutan Perayaan Cap Go Me, diperingati pada tanggal 15 bulan 1 Imlek merupakan penutup dalam rangkaian perayaan menyambut Sin Cia (Tahun Baru Imlek). Cap Go Me berasal dari bahasa Mandarin dialek Hok Kian. Mandarin : 十五晚 Shi Wu Wan, Hok Kian : Cap Go Me, yang berarti malam hari pada tanggal 15 bulan 1 Imlek. Di Tiongkok perayaan ini dikenal dengan nama 元宵節 Yuan Xiao Jie. Di Malaysia dan sekitarnya menyebut Cap Go Me sebagai Hari Kasih Sayang China atau Valentine China.

Cara merayakan Cap Go Me ini berbeda di setiap negara. Di Malaysia, perempuan yang belum menikah melemparkan jeruk di pinggir kali memohon agar cepat dapat jodoh. Jika laki-laki yang belum mendapat jodoh melemparkan apel ke pinggir kali. Kebiasaan ini tampaknya tidak ada di negara kita. Namun perayaan Cap Go Me dirayakan dengan sangat meriah di beberapa daerah di Indonesia, merupakan salah satu keunikan yang ada di negara kita, dan memperkaya keanekaragaman budaya di Indonesia.

Di negara asalnya Tiongkok, perayaan Cap Go Me terkenal dengan sebutan元宵節 Yuan Xiao Jie {Hok Kian : Gwan Siao}. Perayaan ini pernah dilakukan secara besar-besaran di masa Dinasti Tong [618 – 907 M] saat pemerintahan Kaisar Tong Kwee Cong (710 – 712 M). Kaisar ketika itu membuat ratusan pohon tinggi untuk dipasangi 50.000 buah lilin. Pohon ini belakangan dikenal dengan sebutan Go San. Pada setiap perayaan Cap Go Me, Kaisar selalu mempersilakan masyarakat ke istana sambil membawa lampion. Ini sulit terjadi jika bukan karena perayaan Cap Go Me. Rakyat berbondong-bondong masuk ke istana untuk minta berkah  keselamatan dan panjang umur.

Sumber: iptektionghoanews.blogspot.com

Oke, kan copas-nya?

Nah, perayaan Cap Go Meh di Bandung ditandai dengan pelaksanaan Kirab Budaya yang diselenggarakan oleh Vihara Dharma Ramsi Bandung. Kirab ini diikuti oleh banyak vihara atau kelenteng atau komunitas Tri Dharma yang berada di kota Bandung dan sekitarnya, bahkan dari sejumlah kota di Pulau Jawa, bahkan luar Jawa. Sayangnya rombongan peserta dari Kota Manado, Sulawesi Utara, batal bergabung.

Pada gelaran yang ketiga ini, Kirab Budaya dibuka dan dipimpin secara langsung oleh Walikota Bandung, Dada Rosada. Jalur yang dilalui oleh peserta kirab berawal dari Vihara Dharma Ramsi di Jalan Cibadak – Astana Anyar – Sudirman – Kelenteng – masuk Paskal Hyper Square – Jalan Kebonjati – Gardujati – Sudirman (melawan arus/menuju arah timur) – Otista – Cibadak – kembali ke Vihara Dharma Ramsi.

Awalnya saya berniat untuk berada di titik utama Jalan Cibadak, letak Vihara Dharma Ramsi Bandung. Namun saya batalkan pada menit-menit terakhir. Saya memilih untuk berada dalam kompleks Paskal Hyper Square, lebih nyaman bagi saya untuk mengambil gambar dan menikmati Kirab Budaya Cap Go Meh Bandung 2013, sekaligus agar terhindar dari praktek ilmu terapan pemilik ajian rogoh saku alias copet. Hehehe…

Hal yang membuat kirab Cap Go Meh a la Bandung ini unik adalah bukan saja kentalnya unsur Tionghoa namun juga kehadiran unsur budaya Sunda dalam perayaan. Mulai dari sisingaan, jangkungan, kuda renggong, hingga ondel-ondel berbentuk Cepot dkk. Selain itu, juga ada iring-iringan marching band, delman serta kavaleri berkuda TNI berpadu serasi bersama Liong dan Barongsai.

Meriah.

Walau mungkin tak seriuh suasana kirab yang melintasi jalan protokol Kota Bandung, lokasi tempat saya berdiri sejak awal prosesi kirab di Paskal Hyper Square tak kalah gempita. Seperti yang terlihat dalam album Galeri saya.

Selamat menikmati, semoga berkenan dan selamat Imlek buat Sobat sekalian.

Salam,

Adhy Langgar

Leave a Reply