Kisah (Belum) Usang Kota Karang

Masyarakat yang mendiami wilayah Provinsi Nusa Tenggara Timur merupakan kumpulan manusia yang majemuk, yang tersebar di ratusan  pulau dan terserak di puluhan kabupaten. Kemajemukan yang jelas terlihat di Kota Kupang, ibukota provinsi kepulauan ini. Tentu tak berlebihan jika saya menyebut Kupang kemudian menjadi melting pot alias wadah membaurnya aneka identitas kebudayaan daerah dari masing-masing suku bangsa yang menghuni gugusan pulau yang dikenal dengan akronim Flobamora yang merujuk pada 4 (empat) pulau besar di NTT: Flores, Sumba, Timor, dan Alor–beberapa orang juga menyebutnya sebagai Flobamorata (dengan menambahkan nama pulau Lembata pada ujung akronim Flobamora).

Mengusung slogan KASIH (Kupang Aman, Sehat, Indah, Harmonis), kota yang dijuluki Kota Karang oleh warganya ini terus berkembang dalam dinamika yang terjadi di dalamnya. Pesatnya pembangunan sarana dan prasarana transportasi turut memberi andil dalam menebalkan kebhinekaan kota ini. Lihat saja Bandar Udara El Tari dan Pelabuhan Laut Tenau Kupang yang menjadi pintu masuk-keluar pulau Timor, bahkan NTT.  Ratusan bahkan ribuan pasang kaki dari seantero pelosok Nusantara telah menjejaki kota yang khas dengan lalu-lalang angkutan kota ber-full musicini, lengkap dengan atribut kebudayaannya masing-masing. Ya, Kupang di era tahun dua-ribu-belasan ini bukan lagi Kupang yang mengisi relung memori masa kanak-kanak hingga remaja saya.

Kupang di masa ’80 hingga ’90-an adalah Kupang yang kecil, sempit. Saya menjalani masa SMA bersama-sama dengan teman-teman yang sama saat saya masih SD dan SMP. Jika saja saya tidak “diekspor” ke Jawadwipa oleh orang tua saya, mungkin saja saya akan menggenggam kesarjanaan saya bersama mereka, orang-orang dari masa kecil saya itu, di kampus yang sama. Bagi saya, Kupang lampau adalah Kupang yang mudah dikenali di balik kemajemukannya.

Satu hal yang lekat di benak saya tentang Kupang yang dulu adalah kemampuan (baca: kebiasaan) orang Kupang dalam mengorek identitas. Ketika mengunjungi rumah teman, atau saat berbincang dengan orang yang lebih tua, nama belakang atau nama keluarga (fam, Bahasa Melayu Kupang) menjadi sesi pembuka pembicaraan setelah menanyakan nama, dengan ujaran standar: “Lu pung fam apa?”[1]. Setelah mengetahui fam, bila sang penanya mengenali fam tersebut maka ia akan melanjutkan dengan pertanyaan: “Besong yang rumah di mana? Oebobo ko Naikoten?”[2]. Jika si penanya mengenali sosok pemilik fam yang berdomisili di suatu wilayah tertentu di Kupang, maka biasanya akan diteruskan dengan: “Jadi lu ni … (sebut nama orang) pung anak ko? We lu su besar e! Lu pung Bapa tu Om pung kawan sakolah. Dulu ketong biasa sama-sama pi mandi di Kali Dendeng ais itu pi ketu kujawas di Om pung Oma pung rumah. Pas ada asik-asik maale kujawas, ada anjing itam besar kaboak jahat mati pung datang ko kejar ame sang ketong!”[3]. Lalu… bla… bla… bla…

Nah, skenario di atas akan berubah bila sang penanya gagal mengidentifikasi pemilik fam dan kawasan tinggal. Jika pertanyaan tentang nama fam dan domisili mentok, maka penanya akan menggunakan pendekatan lain: “Lu pung Bapa karja di mana?”[4]. Apabila pertanyaan tersebut berhasil diurai, maka selanjutnya akan: “Oo, jadi lu ni … (sebut nama orang) pung anak ko? We lu su besar e! Lu pung Bapa tu Om pung Kaka pung kawan sakolah. Dulu ketong biasa sama-sama pi mandi di Kali Dendeng ais itu pi ketu kujawas di Om pung Oma pung rumah. Pas ada asik-asik maale kujawas, ada anjing itam besar kaboak jahat mati pung datang ko kejar ame sang ketong!” [5]. Lalu… bla… bla… bla…

Skenario pengorekan lainnya manakala sang penanya belum juga berhasil mengenali pemilik nama fam, domisili, dan pekerjaan, adalah dengan menanyakan asal pulau/suku: “Besong orang apa?” [6]. Biasanya ada saja unsur yang berhasil menjadi benang merah merajut kepingan informasi, misal dengan pertanyaan ini: “Lu kenal ini Om … (nama orang) ko sonde? Dia orang … (nama pulau/suku/tempat) ju sama ke lu[7]. Tak jarang, proses identifikasi ini berakhir sukses dengan: “Oo, jadi lu ni … (sebut nama orang) pung anak ko? We lu su besar e! Lu pung Bapa tu Om pung Kaka pung kawan manyanyi di gareja. Dulu ketong biasa abis latian sama-sama pi mandi di Kali Dendeng ais itu pi ketu kujawas di Om pung Oma pung rumah. Pas ada asik-asik maale kujawas, ada anjing itam besar kaboak jahat mati pung datang ko kejar ame sang ketong!” [8]. Lalu… bla… bla… bla…

Proses ini hampir selalu dipastikan berhasil karena Kupang di awal ’90-an benar-benar sempit, kecil. Tidak banyak titik keramaian yang tersedia sehingga memungkinkan orang-orang yang sama untuk saling bertemu kembali, di luar rutinitas keseharian mereka. Selain itu, falsafah keluarga besar (extended family) yang mengakar kuat dan peristiwa kawin-mawin yang terjadi antar suku bangsa yang ada di Kupang membuat interaksi antar pribadi menjadi lebih nyata dan intens, baik secara formal (lingkungan kerja/sekolah) maupun non-formal (perkumpulan sosial berbasis kelompok etnis, di Kupang dikenal dengan istilah “arisan keluarga”).

Satu hal yang pasti, Sobat, saya sama sekali tidak nyaman dengan prosesi “wawancara” a la Kupang tersebut. Semasa saya bersekolah, banyak guru di sekolah yang pernah diajar oleh orang tua saya kala mereka (para guru tersebut) masih berstatus mahasiswa. Ketika saya bekerja, saya lantas sekantor dengan orang-orang yang pernah menjalani masa muda dengan Om saya. Sobat jangan salah paham, ketidaknyamanan saya bukan lantas bermakna bahwa saya enggan dikenali sebagai bagian dari sebuah entitas yang lebih besar. Tidak, bukan seperti itu. Saya selalu diidentifikasi secara bersamaan dengan simbol keluarga, bukan sebagai individu. Selaku pribadi tentu saja saya menginginkan pengakuan atas kualitas persona saya, namun hal tersebut tidak mudah dalam sebuah komunitas yang menjunjung tinggi pengakuan atas kelompok sosial ketimbang nilai-nilai individualistik.

Benar adanya pendapat yang menyatakan identifikasi kelompok merupakan salah satu bentuk kontrol sosial. Individu yang ada dalam kelompok sosial tertentu akan berupaya untuk semaksimal mungkin tidak mencemarkan nama kelompok (baca: keluarga) yang disandangnya. Peribahasa karena nila setitik rusak susu sebelanga seolah menjadi panduan yang tak kasat mata. Itulah, dalam pandangan saya, salah satu alasan betapa kerasnya penolakan keluarga korban penembakan di Lapas Cebongan, Sleman, DIY, terhadap istilah preman. Istilah preman tidak hanya melekat pada keempat korban, namun juga pada keluarga intinya (nuclear family), keluarga besar (extended family), hingga pada rumpun keluarga yang berkait karena kekerabatan adat dan perkawinan. Ada sejumlah besar manusia yang terhimpun di dalamnya. Wajar saja mereka gusar, lalu marah.

Kembali lagi soal ritual “tanya-jawab” di atas. Setelah beberapa kali meninggalkan Kota Kupang karena alasan pendidikan dan pekerjaan, kali ini saya “diwawancarai” di Bandung! Saya tidak pernah menyangka bahwa di Kota Kembang pada tahun dua-ribu-belasan ini saya akan mendengar lagi pertanyaan: “Lu pung fam apa?”.

Ceritanya begini.

Suatu ketika, teman masa SMA saya yang kini sukses menjadi seorang dokter gigi ternama di Kota Kupang tengah berkunjung di Bandung untuk mengikuti sebuah kegiatan. Setelah bersepakat lewat telepon, saya lalu menyambanginya yang tengah menginap di sebuah hotel di kawasan Sarijadi, Bandung. Hari itu kegiatan beliau di hotel tersebut usai dan ia ingin berkeliling melihat-lihat suasana kota Bandung sebelum kembali ke Kupang keesokan harinya. Kami berdua lalu menumpang sebuah taksi yang meluncur perlahan menuju Pasteur. Kata teman saya itu, ia hendak menjemput seorang kerabat ayahnya yang telah belasan tahun bermukim di Bandung. Tiba di kawasan Jalan Pasteur, taksi lalu berhenti dan naiklah seorang perempuan separuh baya, bergabung bersama kami.

Setelah bertegur sapa sejenak, taksi pun meluncur kembali menuju Dago. Lalu muncullah pertanyaan sakti itu, namun saya bahagia mendengarnya dan bangga menjawabnya.

Mendadak dalam benak saya, taksi Gemah Ripah yang kami tumpangi berubah menjadi oto bemo Skid Row lampu dua [9], kawasan Pasteur terasa bagai di Kuanino, dan lamat-lamat bunyi radio dalam taksi terdengar seolah mendentamkan lagu 2LiveCrew [10] yang pernah tren di awal ’90-an di dalam angkot di Kupang, dengan bunyi bass yang menghentak.

Saya pun tak jengah lagi mendengar cerita sang kenalan baru, yang rupanya teman sekelas Om saya. Kupang masih sekecil daun kelor rupanya.

* * *

Di mana pun berada, orang Kupang akan tetap menjadi orang Kupang.

Orang Kupang dulu dan kini, baik yang tinggal di Kupang maupun di kota lain, walau beragam namun tetap mudah dikenali. Keragaman yang melebur dalam satu identitas “Kupang” masih dapat diurai lebih lanjut dengan sedikit menelisik keragaman itu sendiri. Kebhinekaan Kupang dalam suku, agama dan ras adalah sebuah karunia yang harus tetap dijaga agar kelak tidak berubah menjadi kutukan.

Sobat punya kisah yang serupa? Bagikan dalam kolom komentar di bawah, ya…

Salam,

Adhy Langgar

Terjemahan Bahasa Melayu Kupang – Bahasa Indonesia:

1. Lu pung fam apa? – “Apa nama margamu?”

2. Besong yang rumah di mana? Oebobo ko Naikoten? – “Dimana tempat tinggal keluargamu? Apakah di Oebobo atau di Naikoten?”

3. Jadi lu ni … (sebut nama orang) pung anak ko? We lu su besar e! Lu pung Bapa tu Om pung kawan sakolah. Dulu ketong biasa sama-sama pi mandi di Kali Dendeng ais itu pi ketu kujawas di Om pung Oma pung rumah. Pas ada asik-asik maale kujawas, ada anjing itam besar kaboak jahat mati pung datang ko kejar ame sang ketong! – “Jadi kamu adalah anak … (sebut nama orang) ya? Wah kamu sudah besar rupanya! Ayahmu teman sekolah Om. Dulu kami sering pergi bermain bersama-sama di Kali Dendeng lalu pergi memetik jambu di rumah nenek Om. Ketika sedang asyik menikmati jambu datanglah seekor anjing berwarna hitam berukuran besar dan galak sekali yang langsung mengejar kami.”

4. Lu pung Bapa karja di mana? – “Di mana Ayahmu bekerja?’

5. Oo, jadi lu ni … (sebut nama orang) pung anak ko? We lu su besar e! Lu pung Bapa tu Om pung Kaka pung kawan sakolah. Dulu ketong biasa sama-sama pi mandi di Kali Dendeng ais itu pi ketu kujawas di Om pung Oma pung rumah. Pas ada asik-asik maale kujawas, ada anjing itam besar kaboak jahat mati pung datang ko kejar ame sang ketong! – “Jadi kamu adalah anak … (sebut nama orang) ya? Wah kamu sudah besar rupanya! Ayahmu adalah teman sekolah Kakak Om. Dulu kami sering pergi bermain bersama-sama di Kali Dendeng lalu pergi memetik jambu di rumah nenek Om. Ketika sedang asyik menikmati jambu datanglah seekor anjing berwarna hitam berukuran besar dan galak sekali yang langsung mengejar kami.”

6. “Besong orang apa?” – “Dari mana asal keluargamu?”

7. “Lu kenal ini Om … (nama orang) ko sondeDia orang … (nama pulau/suku/tempat) ju sama ke lu” – “Apakah engkau mengenal Om … (sebut nama orang)? Dia juga berasal dari … (sebut nama pulau/suku/tempat) sama dengan keluargamu.”

8. “O, jadi lu ni … (sebut nama orang) pung anak ko? We lu su besar e! Lu pung Bapa tu Om pung Kaka pung kawan manyanyi di gareja. Dulu ketong biasa abis latian sama-sama pi mandi di Kali Dendeng ais itu pi ketu kujawas di Om pung Oma pung rumah. Pas ada asik-asik maale kujawas, ada anjing itam besar kaboak jahat mati pung datang ko kejar ame sang ketong!” – “Jadi kamu adalah anak … (sebut nama orang) ya? Wah kamu sudah besar rupanya! Ayahmu adalah rekan bernyanyi Kakak Om di gereja. Dulu sehabis latihan menyanyi kami sering pergi bermain bersama-sama di Kali Dendeng lalu pergi memetik jambu di rumah nenek Om. Ketika sedang asyik menikmati jambu datanglah seekor anjing berwarna hitam berukuran besar dan galak sekali yang langsung mengejar kami.”

9. bemo-292Angkot dalam bahasa Kupang disebut otobemo atau bemo. Angkot di Kupang diberi nama/judul, yang ditulis pada sisi kiri dan kanan. Skid Row adalah nama sebuah angkot bercat hitam dengan ban radial yang menjadi favorit saya dulu. Penumpang bemo usia remaja masa itu (sepertinya juga kini) memiliki kebiasaan hanya akan menumpangi bemo favoritnya walau harus berlama-lama menunggu. Ada kebanggaan yang terasa ketika berhasil duduk dalam bemo yang ditunggu oleh banyak orang tersebut. Lampu adalah istilah bagi trayek yang dilalui bemo. Sebelum diganti lampu berbentuk angka, bemo Kupang masa lalu menggunakan lampu berbentuk kerucut di atap bemo yang berjumlah satu hingga enam, sesuai jumlah trayek saat itu.

10. 2LiveCrew adalah sebuah kelompok hip-hop asal Miami, Amerika Serikat. Saya tidak mengerti asal-usul kehadiran musik mereka di Kota Kupang yang sangat fenomenal pada awal tahun ’90-an. Selain 2LiveCrew, hingar bingar musik otobemo Kupang diramaikan juga oleh Vanilla Ice, Milli Vanilli, Ace of Base, dsb. Sepertinya musik beberapa kelompok ini menjadi dominan karena menonjolkan karakter bass yang sangat kental dan cocok dengan selera dengar warga muda Kupang masa itu (hingga kini) yang mengutamakan bass yang mengelegar dari deretan pengeras suara ber-watt besar, yang memenuhi sisi bawah kursi penumpang. Dentuman bass begitu besarnya hingga terasa menghantam di dada dan menggetarkan seluruh kaca mobil. Demikianlah kriteria angkot favorit. Lihat videonya di sini.

Gambar Peta Timor diunduh dari wikipedia.

Comments

Leave a Reply