Ramey-ramey di Ciwidey – PAF Bandung (2)

paf bandung

Sobat, ini adalah tulisan kedua. Bila tulisan yang pertama belum dibaca, silakan baca dulu di sini.

* * *

Saya, pada hari Sabtu, 16 Februari pukul empat sore, memutuskan untuk mandi. Aroma keringat yang menempel di tubuh sejak pagi hingga siang telah menimbulkan gejolak sosial. Campuran aroma alkohol yang menempel akibat melintas depan night club dini hari tadi (lewat doang, nempel apanya…) dan belerang oleh-oleh dari Kawah Putih (nah, yang ini beneran) sungguh tidak ramah bagi indera penciuman siapa pun. Jadi, saya pun mandi lalu mengganti baju. Sesungguhnya ini merupakan paragraf pembuka yang benar-benar tidak bermutu. Abaikan saja. Sebaiknya jangan dibaca. Oh, sudah terlanjur? Baiklah, lanjutkan saja membacanya.

Mendadak, di sela-sela suara gaduh orang berbincang yang ditingkahi bunyi televisi di kawasan penginapan saya, terdengar suara om panitia dari balik megaphone. Penjurian foto spontan dari tiga lokasi yakni Ranca Upas, Kawah Putih, dan Cimanggu telah dimulai. Foto-fotonya sudah dikumpulkan sebelum makan siang tadi. Tiap-tiap peserta lomba berhak mengumpulkan paling banyak lima buah foto yang dia anggap terbaik untuk dikompetisikan. Foto tidak boleh diubah dengan peranti lunak apapun kecuali yang disediakan oleh kamera yang bersangkutan dan diserahkan dalam kartu penyimpan data kamera. Yang menarik bagi saya adalah bukan sistem on-the-spot yang dipakai kali ini, namun penjurian foto yang berlangsung terbuka! Saya belum pernah melihat yang sedemikian rupa.

 

Panel Juri
Panel Juri. Sumber foto: http://tinyurl.com/pafbdg

Tiga orang juri, Pak Paul dan Pak Effendie (dua orang senior PAF Bandung) serta Pak Yadi Yasin (fotografer lansekap ternama sekaligus pembicara tunggal dalam seminar malam), tampak serius mengamati layar monitor masing-masing. Dua buah monitor lainnya berada di belakang para juri. Lewat dua monitor tersebut, kami mengamati penilaian juri. Skor yang diberikan oleh masing-masing juri akan dijumlahkan menjadi skor foto. Total skor tiap-tiap foto akan diurutkan mulai dari yang tertinggi hingga terendah. Para juri berhak menilai tiap-tiap foto dengan skor mulai dari 1 hingga 9. Sebanyak 209 buah foto telah terkumpul dan akan berkompetisi saat itu juga.

Penjurian dimulai. Saya takjub. Sistem komputerisasi yang dipakai panitia membuat kami semua bisa melihat foto yang tengah dinilai sekaligus skor yang diperolehnya. Para juri menggunakan numpad khusus berisi tombol 1 hingga 9 untuk melakukan input skor. Untuk tahap pertama, setiap foto yang telah dinilai akan dirangking untuk menemukan 28 foto terbaik, lalu dikerucutkan menjadi 12 terbaik dalam tahap kedua, kemudian dicari 5 karya foto terbaik pada tahap berikut.

Saya (sekali lagi) takjub. Otomatisasi penjurian yang diperlihatkan oleh tim TI PAF Bandung benar-benar mengagumkan. Selain itu, penjurian terbuka memberi sensasi sendiri. Jantung saya berdegub kencang saat melihat karya foto saya tengah dinilai. Oh iya, skor terendah untuk masuk 28 besar adalah 15.

Tahap pertama usai. 28 buah foto berhasil terpilih untuk masuk dalam tahap berikut. Salah satu foto saya ada di sana. *Hore*

Demikian juga karya foto milik om Robert, seorang pemotret asal kota Batam. Juga karya foto milik Jeremy, teman sekamar saya.

Operator TI meminta waktu istirahat sebentar untuk system refresh. Saya dan om Robert menyingkir dari kerumunan dan bergerak menuju meja kecil di ruang makan. Beliau perlu teh, saya butuh kopi. Belum selesai saya habiskan sesapan pertama, penjurian tahap dua dimulai. Ke-28 karya foto akan dinilai kembali untuk mencari 12 terbaik. Saya deg-degan lagi. Sambil cemas, saya menunggu giliran karya foto saya tayang dan dinilai.

Tahap dua selesai. Juri berhasil memilah 12 karya foto terbaik dan menyingkirkan 16 lainnya, termasuk diantaranya karya foto saya dan om Robert. Bukan masalah. Kami malah lebih menikmati proses penjurian ini. Kedua karya foto kami masing-masing mendapat skor 16, selisih 1 poin dari skor minimal 17 untuk masuk tahap berikutnya.

Tahap tiga langsung dilanjutkan. Ke-dua belas karya foto itu langsung dibahas oleh ketiga juri dan satu demi satu dieliminasi untuk memperoleh 5 karya foto terbaik. Penjurian berformat diskusi tiga juri ini berlangsung cukup panjang. Urutan karya foto yang dinilai berulang kali dirombak dengan aneka pertimbangan. Hingga akhirnya, yang terpampang di layar monitor hanya tinggal 5 buah karya foto. Semua yang ada dalam ruangan penjurian sudah tak sabar menanti.

Panitia mengumumkan bahwa pemenang lomba foto spontan akan disampaikan pada saat penutupan besok, sekaligus penyerahan hadiah. Sebagai penutup, para juri akan menyampaikan penjelasan untuk karya foto yang telah ditolak masuk.

Saya takjub (lagi.. *takjub melulu, ah*). Dari pengalaman saya yang baru seumur jagung dalam memotret dan mengikuti lomba, belum pernah saya melihat penjurian terbuka DAN komentar juri atas karya foto yang tidak terpilih. Maka, secara bergiliran, Pak Paul, Pak Effendie dan Pak Yadi Yasin berdiri dan membahas kriteria penilaian yang masing-masing beliau pakai.

Penjelasan Juri
Penjelasan Juri. Sumber foto: http://tinyurl.com/pafbdg

Keseluruhan kegiatan yang berlangsung sejak sore hingga malam itu diakhiri sekali lagi dengan pernyataan panitia bahwa pemenang lomba akan diumumkan saat seremonial penutupan acara HUT ke-89 PAF Bandung, keesokan harinya (Minggu, 18/2).  Saya dan om Robert bergeser dari ruangan penjurian. Sebentar lagi makan malam.

* * *

Malam makin larut. Udara dingin terus menyergap turun di Patuha Resort tempat saya dan seluruh peserta HUT ke-89 PAF Bandung menginap. Jaket dan kaus kaki terpasang namun masih saja suhu dingin berhasil menyeruak menyentuh pori-pori kulit tubuh saya yang jauh dari halus ini.

Bunyi tapak kaki yang ramai melintas depan kamar sepertinya hendak mengajak saya untuk bergabung di lobby Patuha Resort. Jeremy dan Idham, dua rekan sekamar saya, telah duluan melangkah. Benar saja. Tak berapa lama, panitia mengarahkan kami menuju ruang Aula yang terletak di sisi belakang area lobby. Saatnya seminar fotografi lansekap bersama Pak Yadi Yasin.

Hm? Tidak kenal Yadi Yasin? Coba googling, deh

Seminar Foto oleh Yadi Yasin
Seminar Foto oleh Yadi Yasin

Materi yang disampaikan oleh Pak Yadi cukup lengkap. Portofolio beliau tak terbantahkan. Karya foto indah yang beliau ciptakan membuat saya berhasil melupakan rasa kantuk. Pengalaman memotret bertahun-tahun di berbagai lokasi di dunia beliau bagikan secara terbuka kepada para peserta seminar malam. Berbagai karya foto hasil kreasinya beliau pampangkan pada slide presentasi malam itu.

Malam itu saya melihat seluruh peserta seminar tampak antusias mendengar pemaparan Pak Yadi. Antusiasme yang sama juga terlihat kala tiba sesi tanya-jawab. Diskusi berlangsung dinamis. Namun saya malah sibuk sendiri  dengan pertarungan yang seru antara menahan kantuk yang semakin mendera atau melawan udara dingin yang semakin menyelusup. Malam itu Aula Patuha seolah memiliki air conditioner berkekuatan 700 PK! Wuih!

Seminar pun usai, ditutup dengan ajakan untuk hunting landscape bareng Pak Yadi, pukul empat dini hari nanti. Sepertinya akan sangat menarik. Kami pun digiring keluar oleh panitia menuju pelataran aula untuk melihat kembang api. Hilang kantukku. Mendadak langit malam Ciwidey riuh rendah dengan ledakan warna-warni yang membahana ke seluruh lembah. Sementara itu, sebuah kejutan lain ternyata juga telah disiapkan panitia.

HBD Om Lauw Nam Ie. Sumber foto: http://tinyurl.com/pafbdg
HBD Om Lauw Nam Ie. Sumber foto: http://tinyurl.com/pafbdg

Keriaan malam itu diakhiri dengan atraksi sulap dari salah seorang senior PAF Bandung. Sungguh pengalaman sehari yang menyenangkan. Saya sudah semakin rindu pada kasur, bantal dan selimut.

Setelah kembali ke kamar penginapan, saya sempat berbincang santai dengan Jeremy. Idham telah lama menghilang di balik selimut yang membungkus rapat tubuhnya. Kami ngobrol selama beberapa saat sebelum akhirnya masing-masing tertidur. Rencana mengikuti hunting pagi nanti sama-sama kami amini: “Liat gimana nanti aja…”

* * *

Mata saya terasa sangat berat. Seolah ada Nikon D2X plus Nikkor 800mm (mahal beud…) di atas kelopak mata dan menjuntai turun mencegah saya untuk bangun.

Samar-sama saya ingat suara Jeremy mengajak ikut hunting. Lalu semua gelap.

Samar-samar saya dengar suara Mega memanggil. Lalu semua gelap.

Samar-samar saya dengar bunyi dering ponsel. Lalu semua gelap.

Samar-samar saya mendengar kasur seolah berbisik, “Tiduri aku lebih lama…”

. . .
Akhir bagian Kedua. Baca kelanjutannya di sini, ya…

Salam,

Adhy Langgar

Leave a Reply