Melayang di Lasiana

Adhy, apa tempat wisata di Kupang?

Pertanyaan di atas sering saya peroleh jika sedang bertukar sapa dengan teman baru, terutama dengan orang yang baru saja mendengar nama kota tempat saya dibesarkan ini.

Secara geografis wilayah Indonesia memang sangat luas, pulau Jawa pun luas. Tidak salah jika Kupang, nun di Timor sana, tidak terdengar akrab di telinga kebanyakan orang yang saya temui kala di perantauan. Jika hendak dirunut, wawasan pariwisata sisi timur Indonesia bagi kebanyakan warga kota yang pernah saya singgahi, secara garis besar adalah melulu Bali, Lombok, Komodo, lalu Papua. Timor yang mereka pahami adalah sebuah negara yang pernah menjadi salah satu provinsi di Indonesia.

Lalu Kupang di mana?

Melalui tulisan ini saya bukan hendak menghakimi persepsi mereka soal pengetahuan dasar wilayah kepulauan yang mereka kenali “dari Sabang sampai Merauke”, bukan pula ingin meminta keadilan pemberitaan antar kutub, timur dan barat, yang sampai kiamat pun saya yakin tak akan pernah imbang. Sekali lagi. Apa tempat wisata di Kupang?

Bagi saya dan banyak warga kota Kupang, pertanyaan ini sejak dulu sudah punya jawaban pasti: Lasiana. Sebuah desa pantai di teluk yang berair tenang dengan pasirnya yang lembut. Letaknya yang masih di wilayah kota dan mudah dijangkau membuat pantai Lasiana jadi rujukan pertama dan terutama bagi warga Kupang dalam menikmati hari libur dan senggang.

Bila cuaca mendukung, menghabiskan hari di Lasiana sungguh pengalaman yang menyenangkan. Sekadar berjalan santai bertelanjang kaki menyusuri bibir pantai sambil merasakan debur ombak yang perlahan membelai pasir pantai sudah memberi kepuasan tersendiri. Jika Sobat berkunjung bukan pada hari libur, pantai ini sepi saja.

Pada mulanya, Lasiana merupakan sebuah pemukiman nelayan yang terletak di sebuah hutan kecil, Lase Ana, di pinggir laut Teluk Kupang.  Di sana mereka memanen lontar dan menangkap ikan. Perkembangan pembangunan di Kupang lantas membawa kawasan ini menjadi favorit pengganti pantai Pasir Panjang yang sudah ramai dengan aktifitas niaga.

Sedang menata Haik, wadah penampung nira lontar.
Sedang menata Haik, wadah penampung nira lontar.

Di Lasiana, jejeran pohon lontar (tuak, Bahasa Melayu Kupang; borassus sundaicus, Latin) meneteskan nira segar dari bunga mayangnya yang dipanen setiap pagi dan sore. Nira yang terkumpul dapat dinikmati langsung (aer tuak, serupa legen di Jawa Timur) maupun diolah lebih lanjut menjadi gula lempeng, gula merah pohon lontar. Perahu-perahu nelayan tertambat di sana-sini sementara di ujung cakrawala tampak bagan, alat penangkap ikan, tertancap tegar menyongsong deru arus Laut Sawu.

Jangan Sobat bayangkan Pantai Lasiana yang seriuh Parangtritis, sesibuk Kuta, seramai Nusa Dua. Hal yang Sobat peroleh di Lasiana adalah pantai itu sendiri. Tak ada penjaja perhiasan kulit kerang yang berkeliaran merayu pembeli, tiada dokar/andong yang hilir mudik mengganggu pemandangan, juga tak ada penyewaan wahana air yang harganya selangit. Semua pengunjung Lasiana menikmati air, angin dan pasir laut yang sama dengan caranya masing-masing. Bagi saya pribadi, Lasiana yang ini adalah Lasiana yang cukup. Lasiana yang menawarkan alamnya, bukan yang lain.

Bagi kebanyakan pengunjung pantai Lasiana, keadaan pantai yang “seadanya” ini terlalu biasa bahkan menjemukan. Tak ada hal yang membanggakan sejauh mata memandang, menurut mereka. Mungkin mereka mengharapkan secuil Ancol atau Legian di sini.

Siapapun yang pernah berkunjung tentu mahfum akan fasilitas umum di Pantai Lasiana yang jauh dari memadai. Siapapun yang pernah berkunjung tentu sepakat bahwa pemandangan mentari terbenam di Pantai Lasiana tiada tandingannya.

Mungkin ini soal perspektif. Saya tidak ingin larut dalam perdebatan tentang apa saja hal yang harus ada di sebuah pantai, selain hal-hal dasar seperti toilet umum dan ruang bilas, agar Lasiana layak disebut sebagai lokasi wisata. Bagi saya, semua itu hanya akan berujung pada penyeragaman. Sekadar informasi tambahan, kini Pemerintah Provinsi NTT selaku pengelola kawasan pantai ini tengah berencana untuk menyediakan tenaga pijat dan ruang karaoke di Pantai Lasiana untuk menarik lebih banyak kunjungan.

Jika Sobat lakukan pencarian gambar di dunia maya dengan kata kunci “pantai lasiana kupang” atau “lasiana beach” maka pemandangan yang tercuplik adalah pemandangan pantai yang nyaris serupa. Pantai, pasir, pohon lontar. Itu saja. Sekali lagi, mungkin ini melulu soal perspektif belaka.

Namun ada sudut pandang yang berbeda tentang Lasiana yang ditawarkan oleh Reinheart Damanik, seorang fotografer dan videografer profesional yang bermukim di Kupang. Dengan perangkat videografi aerial miliknya, ia memberi apresiasi berbeda atas Lasiana. Ya, Lasiana dari atas. Bird-eye view.

Dalam YouTube channel miliknya, Reinheart Damanik mengunggah sebuah video yang ia ambil beberapa waktu lalu di pantai ini. Video yang berdurasi pendek, 2 menit 53 detik, namun cerdas menangkap seluruh aspek yang ada dan tersedia di pantai Lasiana. Alam dan manusianya.

Dalam perbincangan singkat sekaligus perkenalan saya dengan beliau menggunakan instant messenger, beliau menyembulkan sebuah asa untuk mengabadikan lebih banyak lagi tempat indah di Nusa Tenggara Timur dengan cara ini. Jika menilik hasil video yang sudah beliau produksi, saya yakin itu bukan sebuah pepesan kosong. Apabila Sobat tertarik untuk terlibat, saya yakin beliau akan terima dengan tangan terbuka.

Dalam video di bawah ini, Reinheart Damanik merekam secara tepat Lasiana dan isinya.

Sobat dan saya dibawa melayang perlahan di atas air laut yang tenang, remaja yang bermain sepakbola di atas pasirnya, keluarga yang berkumpul, perahu yang tertambat, nelayan yang bekerja, dan pohon lontar yang melambai, dengan bunyi petikan Sasando yang merdu di latar belakang. Sebuah video yang benar-benar memberi pengalaman baru bagi saya tentang Lasiana yang tenang, Lasiana yang saya kenal. Sungguh karya video yang indah.

-Karya Reinheart Damanik. Ditayangkan atas izin-

Sobat, kapan berkunjung (lagi) ke Lasiana? Ditunggu.

Salam,

Adhy Langgar

Comments

Leave a Reply