Metal Sejenak di Bandung Berisik

Sesungguhnya ini kisah yang sangat terlambat untuk dibagikan. Namun saya merasa kurang lengkap bila tidak dituliskan. Jadi, berikut saya bagikan kepada Sobat, kisah saya berada dalam media pit saat konser Bandung Berisik 2013 di Stadion Siliwangi Bandung, 13 April  sebulan yang lalu. Begini. *tarik napas*

Awalnya informasi soal Bandung Berisik saya peroleh dari laman grup DCI alias DSLR Cinematografi Indonesia, sebuah kelompok pengguna Facebook yang memanfaatkan kamera DSLR untuk memenuhi kebutuhan sinematografi mereka. Sesungguhnya saya bukan seorang sinematografer, namun saya ingin menambah dan memperluas wawasan saya dalam dunia per-DSLR-an, jadi saya memanfaatkan grup FB ini untuk memperluas wawasan saya, dengan lebih sering menjadi seorang penghayat dan jempoler yang baik.

Apa itu penghayat dan jempoler yang baik?

Penghayat dan jempoler yang baik adalah orang yang membaca sebuah posting dalam hati lalu memberi jempol pada posting tersebut dan posting lainnya namun tidak dengan membabi buta alias jempoler murahan. Hehehehe.. Bermula dari om Adjie Aditya, seorang pemotret profesional, yang menebar undangan sekaligus tantangan lewat facebook event di laman DCI. Tantangan yang sederhana saja dan dituliskan lewat jejaring twitter.

Tergerak karena iseng, toh saya belum pernah memenangi perlombaan apa pun, jadinya ya saya merasa “nothing to lose” waktu itu, saya tuliskan kalimat berikut:

Kalimat yang begitu polos, lugu, sedikit unyu, namun tetap berusaha tampak garang dengan simbol ini >> \m/…  Eh, tak disangka dan tak diduga, nama saya masuk dalam 10 (sepuluh) orang yang terpilih untuk mendapatkan sebuah tanda pengenal yang luar biasa keren itu.

* * *

Tiba saatnya hari yang ditunggu-tunggu. Baterai kamera sudah diisi penuh, isi kartu memori dihapus bersih, lensa kinclong mengilap. Selepas pukul sebelas siang, saya sudah tiba di Stadion Siliwangi Bandung, tempat Bandung Berisik 2013 digelar. Setelah mengontak om Adjie untuk menerima tanda pengenal, kami pun melenggang masuk venue utama, di dalam stadion. Oh ya, saya diberi sebuah kaos resmi panitia, bukan versi souvenir booth. Mantap!

Maka jadilah saya secara resmi mengalami sensasi berbeda menikmati konser musik cadas. Bila dulu saya hanya terbiasa melihat penampilan band-band kampus kala masih menjadi warga Sastra Undip Semarang dan sesekali melihat konser metal kecil-kecilan di Taman Budaya Raden Saleh (TBRS) yang berlokasi dekat kosan (awal saya mengenal Godless, entah apa kabar mereka sekarang), maka kali ini saya berada tepat di bibir panggung setinggi dua meter dengan barikade penonton yang seluas lapangan sepakbola. Dahsyat.

Dalam album Galeri ini saya perlihatkan kepada Sobat sekalian hasil karya foto amatir saya dari pukul satu siang hingga sembilan malam (akibat kehabisan baterai) kepada Sobat sekalian. Beberapa band tidak sempat saya potret karena, sejak siang hingga sore, ketiga panggung yang ada berhentak secara bersama-sama dan saya lebih banyak menghabiskan shutter count di venue utama. Semoga berkenan.

Salam,

Adhy Langgar

Leave a Reply