Skip to main content
paf bandung

Ramey-ramey di Ciwidey – PAF Bandung (1)

Sabtu, 16 Februari lepas pukul empat pagi, matahari belum nampak di ujung cakrawala namun saya dan Mega telah bergegas menuju parkiran depan komplek Pasir Kaliki Hyper Square. Ya, hari ini kami akan bergabung bersama rombongan Perhimpunan Amatir Foto untuk mengikuti puncak perayaan HUT-nya yang ke-89.

Parkiran depan komplek komersil ini tampak ramai. Sejumlah orang terlihat hilir mudik dengan tawa keras, jalan limbung, dan mata sayu, bahkan beberapa kendaraan roda empat terlihat melaju cepat. Ah, rupanya berbarengan dengan jadwal tutup diskotik. Salah satu bangunan yang menempati sisi depan Paskal Hyper Square ini memang sebuah night club yang cukup kesohor di Bandung. Tentunya, penuh dengan yang “bening-bening”. Lumayan, menyegarkan mata saya yang belum tidur sejak kemarin.

Tiba di luar komplek Paskal Hyper Square, tepat di pinggir jalan raya terparkirlah sebuah bus dan terlihat sekumpulan orang dengan tas punggung dan … tripod kamera! Tidak salah lagi, ini pasti rombongan PAF Bandung. Segera kami bergabung dan menunggu waktu keberangkatan.

Menjelang pukul lima, bus berisi rombongan mulai bergerak menembus dinginnya Bandung pagi itu. Teriakan dan makian mabuk tiga orang gadis belia akibat minum semalaman, yang sempat membuat puluhan kepala menoleh dan dahi mengernyit sebelumnya, perlahan terlupakan.

Deru mesin bus, lelah akibat begadang dan alunan musik dari ipod kesayangan membuat saya mengantuk dan tertidur. Seisi bus pun demikian. Kecuali sopir dan kernet bus, tentunya.

Saya mendadak terbangun. Entah sudah berapa lama saya tertidur.

Bus dalam keadaan diam, tak bergerak, deru mesin terasa pelan dan stabil. Perlahan saya membuka mata. Sayup-sayup terdengar sejumlah orang sedang bercakap-cakap. Ah, mungkin sedang menunggu peserta lain yang memilih untuk naik dari titik ini, batin saya.

Saya pun kembali pejamkan mata.

Udara kelewat sejuk yang turun dari ventilasi atap bus, yang tak tahu kapan dibuka, membuat saya terbangun. Saya tak ingat lagi sudah berapa lama saya terlelap.

Jalanan mulai menanjak dan berkelok. Tanda telah memasuki daerah Ciwidey rupanya. Hari sudah terang. Kiri-kanan terlihat orang-orang beraktifitas, kebun strawberry, dan angkot kuning Ciwidey yang berseliweran dengan penuh penumpang. Dari pengumuman panitia, tujuan pertama kami adalah Ranca Upas.

Jalanan masih terus menanjak. Semakin berkelok. Bertambah sempit. Sopir bus tampak bersusah payah mengendalikan laju bus taklukkan tikungan yang semakin tajam dan terjal. Pemandangan sekeliling telah berganti tebing dan lembah. Tampak kabut tipis melayang di perbukitan sekitar.

Pada sebuah tanjakan yang cukup curam dan panjang, mesin bus meraung kencang namun kendaraan malah merangkak semakin lambat, lalu sekonyong-konyong berhenti. Mesin bus mulai memelan kemudian mati. Penumpang lainnya terbangun, gumam bingung di sana-sini terdengar gaduh. Suara sopir bus terdengar pelan dan pasrah, “Mesinnya nggak kuat, Pak”.

Bus mogok, pemirsa!

Rupanya ini adalah mogok lanjutan setelah beberapa saat sebelumnya dan berdamfak patal, eh, berdampak fatal. Mesin bus tidak dapat lagi dihidupkan sama sekali.

Beberapa saat saya duduk di dalam bus, saling melempar komentar dengan beberapa penumpang lain yang duduk dekat saya dan Mega. Tak betah duduk berlama-lama, saya memutuskan untuk turun dan bergabung dengan beberapa penumpang lain yang sudah lebih dahulu berada di luar. Sopir dan kernet bus tampak mondar-mandir memeriksa mesin yang terletak di buritan bus, entah apa kerusakan yang terjadi namun cukup parah dan tidak bisa diperbaiki di tempat.

Lalu lintas pagi itu cukup ramai. Sopir dan penumpang angkutan umum, kendaraan pribadi, dan sepeda motor hilir mudik melintas sambil menebar tatapan penuh tanda tanya pada kami, segerombolan orang di luar bus yang terparkir begitu saja di tengah jalan yang menanjak dan menikung. Badan jalan beraspal mulus yang tak seberapa lebar itu tertutup separuhnya oleh bus yang kami tumpangi. Tidak banyak memang ruas kiri jalan yang tersisa. Kendaraan roda empat berlawanan arah yang melintas harus saling bergantian melaju.

Baca Juga:  Kisah (Belum) Usang Kota Karang

Panitia terlihat sibuk menelpon dan saling berdiskusi dengan sopir bus. Tak berapa lama, keputusan diambil. Kami akan meninggalkan bus tersebut, memindahkan bagasi bawaan ke sebuah kendaraan milik panitia dan melanjutkan perjalanan menuju Ranca Upas dengan angkot dan beberapa kendaraan pribadi peserta lainnya.  Tak apa, setidaknya saya sempat merasakan pengalaman naik angkot di Ciwidey.

Para peserta mulai sibuk memindahkan bagasi mereka dari bus ke atas mobil panitia dan menyisakan tas kamera masing-masing di pundak. Tapi tas ransel saya tetap saya bawa serta. Bukan karena tak percaya panitia, namun karena ada laptop dalam ransel yang berisi draft tesis yang saya tulis selama ini, yang sepertinya terlalu berharga untuk dipisahkan dari raga. Jadinya, saya terlihat aneh dengan ransel di balik punggung dan tas kamera di depan dada saat peserta lainnya “hanya” menenteng tas kamera.

Dua buah angkot kuning dan tiga (atau dua?) mobil pribadi beriringan melanjutkan perjalanan, menjauh dari bus yang teronggok di tengah jalan menunggu perbaikan, dan terus menanjak. Sebuah kendaraan milik panitia yang berisi barang-barang milik penumpang bus melaju ke arah sebaliknya, menuju Patuha Resort tempat kami akan menginap nantinya.

* * *

Kami pun tiba di Ranca Upas, sebuah komplek pemandian air panas dengan konsep alam terbuka. Cocok untuk kegiatan outbound maupun kegiatan outing lainnya. Beberapa tenda terlihat di sekeliling, tanda sejumlah orang tengah berkemah. Kabut tebal menggelayut diiringi rinai gerimis menambah dinginnya pagi itu. Hari menjelang pukul tujuh.

Penangkaran Rusa Timor
Penangkaran Rusa Timor

Pagi ini kami memulai kegiatan puncak perayaan HUT ke-89 PAF Bandung. Perhutani selaku pengelola Patuha Resort memberi kesempatan bagi peserta pagi itu untuk berkompetisi  lewat foto yang diambil di kawasan Ranca Upas, Kawah Putih, dan Cimanggu. Foto-foto yang diambil di ketiga kawasan ini akan langsung dikumpulkan dan diseleksi oleh juri, para senior PAF Bandung, malam nanti. Semua peserta tampak bersemangat dan mulai menyiapkan peralatan memotret masing-masing. Sementara itu, kabut semakin pekat dan rinai gerimis beralih jadi rintik hujan yang cukup deras.

Teringat akan kamera tersayang yang tidak tahan air serta lensa lebar pinjaman dari Pondok Lensa, saya enggan mengeluarkan kamera dari dalam tas. Namun sejumlah pemotret lainnya tampak berkeliling seolah tak peduli dengan tetesan air yang membasahi kamera mereka. Rain cover bening saya pakaikan pada kamera dan membungkus lensa sewaan rapat-rapat. Sejurus kemudian, saya larut dalam memencet tombol shutter, gerimis sudah tak digubris lagi.

Suara megaphone milik panitia terdengar lantang membelah pagi. Tidak banyak lagi waktu yang tersisa untuk berlama-lama di Ranca Upas. Tidak banyak juga foto yang sempat saya buat di sini. Kawah Putih telah menanti. Namun sebelum kembali masuk ke dalam angkot kuning yang setia menunggu, kami bergambar bersama.

Foto Keluarga Ranca Upas. Sumber foto: http://tinyurl.com/pafbdg
Foto Keluarga Ranca Upas. Sumber foto: http://tinyurl.com/pafbdg

* * *

Iring-iringan kendaraan meninggalkan Ranca Upas, kembali melintasi jalan sebelumnya, menuju Kawah Putih yang terletak agak jauh. Lalu lintas yang masih sepi pagi itu membuat angkot yang kami tumpangi melaju cepat tanpa hambatan sama sekali.

Tiba di kawasan parkir Kawah Putih, kami segera berkumpul kembali. Beberapa orang panitia telah terlihat menanti. Tibalah saat yang ditunggu, waktunya makan pagi! Segera barisan terbentuk, mengantri menu sarapan yang dikemas dalam kotak styrofoam yang dibagikan dari jok belakang sebuah mobil. Sungguh saat yang menyenangkan. Ada senyum yang tersungging, baik di bibir maupun di perut saya.

Sarapan, mulai! Sarapan, selesai!

Menjelang pukul delapan, kami mulai berkumpul kembali dan beranjak menuju Kawah. Angkot kuning kami tinggalkan. Saatnya menggunakan ontang-anting alias angkutan khusus bagi pengunjung yang hendak menuju Kawah Putih. Sebelum kami berangkat menuju halte angkutan, panitia sempat berpesan, “Jangan sebut odong-odong, nanti sopirnya marah”.

Baca Juga:  Pondok Lensa, Lensa Ini Aku Pinjam

Ukuran angkutan ini tidak seberapa besar, berisi dua penumpang di depan bersama sopir, dan sembilan lainnya di belakang duduk berhimpitan bertiga dalam tiga baris kursi yang rapat, tanpa pintu apalagi jendela. Perjalanannya? Luar biasa! Sang pengemudi  separuh baya yang sangat lihai di balik kemudi dan hapal medan tanpa ragu menekan pedal gas dalam-dalam saat melahap tanjakan curam dan menikung tajam tanpa mengurangi kecepatannya. Selama beberapa saat kami terayun ke kiri dan ke kanan, depan dan belakang, bagai sedang menaiki gabungan wahana Ontang-anting dan Halilintar di Dufan Ancol. Saya kini paham alasan penamaan ontang-anting pada angkutan ini.

Satu demi satu kendaraan di depan yang melaju pelan dilibas. Beberapa kendaraan pribadi peserta HUT PAF Bandung yang sempat mendahului kami beberapa saat sebelumnya berhasil dikejar dan didahului oleh angkutan yang kami tumpangi. Perjalanan menanjak dan berliku itu ditempuh selama lebih kurang lima belas hingga dua puluh menit. Mungkin juga kurang. Entah. Saya tidak begitu berkonsentrasi untuk menghitung waktu perjalanan karena lebih sibuk berpegangan pada kursi mobil dan memikirkan teknik meloloskan diri tercepat bila terjadi hal-hal yang mengerikan. Kami pun tiba di halte depan Kawah Putih. Utuh dan selamat. Haleluya. Sebuah blok huruf besar terlihat mencolok di depan kami.

Selamat datang di Kawah Putih
Selamat datang di Kawah Putih

Tanpa menunggu lama, kami langsung bergerak, berserak, menyebar, mencari lokasi tepat untuk mengambil gambar. Sebagian lainnya menapaki tangga dan langsung menuju kawah. Saya dan Mega pun demikian. Tak lupa masker dipakai. Aroma sulfur yang menyengat sudah menyambut kami, walau masih belum menyentuh kawah. Waktu menjelang pukul sembilan pagi.

 * * *

Kabut belerang yang menguap dan melayang dari permukaan air Kawah Putih tampak pekat. Baunya tajam menusuk dan terasa kering kala dihirup. Mendadak saya teringat akan tayangan yang pernah saya tonton di televisi tentang kisah pengangkut belerang di Kawah Ijen yang berjalan kaki berkilometer jauhnya, menapaki jalan terjal berbatu dengan berkuintal beban dipundak, sambil dikepung awan asap putih belerang yang penuh racun itu. Masker saya rapatkan sembari kaki mulai melangkah turun menuju kawah.

Kala tiba di kawah, kenikmatan memencet tombol shutter kembali melenakan saya. Kabut asap belerang dan tanaman yang meranggas dan mati kering seketika berubah menjadi target foto yang eksotis sekaligus mistis bagi saya.

Entah berapa sudah frame yang terekam, aneka sudut kawah yang saya jejaki, dan kini kaki saya lelah. Mega yang juga capai telah menunggu di dekat tangga untuk kembali menuju area parkir di atas kawah, tempat kami bermula beberapa saat lalu. Satu per satu anak tangga ditapaki, Saung Kecapi dilewati, lalu menurun ke parkiran. Sejumlah peserta lainnya telah berkumpul. Semburat lelah sedikit terlihat di sana.

Tak berapa lama, kembali terdengar megaphone menggema dari arah kawah. Suara dari handy talkie panitia yang berada dekat kami berkumpul di area parkir berderak, menggumamkan suara panitia yang tengah saling berkoordinasi mengumpulkan para pemotret yang masih berserakan di bawah sana. Tidak mudah memang. Cuaca yang cerah dan lokasi yang luas membuat peserta HUT PAF Bandung bergerak leluasa sesuai arah mata angin. Agak lama kemudian satu per satu peserta kembali, dengan senyum tersungging, sepertinya banyak frame bagus telah berhasil diabadikan. Saya juga.

Saatnya kembali melanjutkan perjalanan. Tujuan berikutnya adalah Cimanggu. Mesin ontang-anting telah menderu di halte sebelah bawah area parkir. Kembali kami berfoto bersama sebelum beranjak pergi.

Foto Keluarga di Kawah Putih. Sumber foto: http://tinyurl.com/pafbdg
Foto Keluarga di Kawah Putih. Sumber foto: http://tinyurl.com/pafbdg

Sekali lagi kami terayun dan terlonjak dalam angkutan yang melaju kencang. Kali ini jalanan menurun dan sang pengemudi, seorang pemuda usia dua puluhan, tampak tak repot menginjak pedal rem. Deru mesin yang menggeram kencang dari saluran knalpot racing saat engine break dan kendaraan yang meliuk-liuk mengikuti lajur jalan mengingatkan saya pada permainan Need for Speed. Seru sekaligus seram. Ngeri-ngeri sedap, meminjam istilah seorang politisi Senayan yang sering saya lihat di tayangan televisi.

Baca Juga:  Metal Sejenak di Bandung Berisik

Tak lama kemudian, kami tiba kembali di halte awal keberangkatan pagi tadi. Waktu sudah lepas pukul sepuluh pagi.

Percaya bahwa kami merupakan rombongan pertama yang turun dari Kawah Putih, kami -sekitar sepuluh orang- sepakat menunggu rombongan lainnya di sebuah warung dekat halte. Aneka gorengan hangat mengepul terlihat begitu menggoda. Segelas kopi tidak akan lama, demikian pikir kami waktu itu.

Entah berapa lama kami duduk di sana. Saling bertukar cerita dan canda tawa diselingi hiburan pengamen bergitar yang seolah tiada hentinya. Ketika akhirnya kami tinggalkan warung itu, tak terlihat seorang pun peserta HUT PAF Bandung di kawasan parkir. Wah!

Syukurlah saat itu masih ada seorang anggota panitia yang hendak memasuki kendaraan pribadinya, lalu melihat kami yang tengah kebingungan bagai anak ayam kehilangan GPS *hayah*.  Segera ia menelpon dan menunjuk ke arah jalan arah keluar. Sebuah bus telah menunggu di sana. Segera kami mempercepat langkah. Ternyata bus yang menunggu di ujung jalan itu baru saja selesai mengantar rombongan ke Cimanggu lantas kembali untuk menjemput sekelompok orang yang lemah imannya kala berhadapan dengan setumpuk gorengan dan minuman kopi yang hangat.

* * *

Cimanggu merupakan kawasan pemandian air hangat yang dikemas dalam bentuk bungalow terpisah. Privasi menjadi tawaran utama tempat ini. Pengunjung dapat menikmati kehangatan air belerang aktif di balik dinding yang tertutup rapat pada rumah-rumah beraksen tradisional Sunda. Panitia bahkan menawarkan peserta kesempatan untuk berendam barang sejenak di kawasan ini. Tak usah khawatir dengan baju ganti, katanya, silakan saja berendam tanpa busana.

Salah satu bungalow pemandian
Salah satu bungalow pemandian

Dengan acuh, para peserta HUT ke-89 PAF Bandung merangsek masuk kawasan Cimanggu bermodalkan aneka merk dan tipe kamera DSLR yang erat dalam genggaman. Selepas memotret bentang alam di Ranca Upas dan Kawah Putih, di sini para peserta seolah mendapat suasana baru. Arsitektur, obyek organik dari tetumbuhan hingga serangga, tak luput dari mata dan lensa para pemotret. Demikian juga saya.

Namun ternyata tidak demikian adanya. Bangunan yang semuanya terlihat mirip bagi saya seolah monoton. Obyek lain yang ternyata menarik perhatian saya telah lebih dulu dikerumuni pemotret dari berbagai sisi. Saya pun malas mengganti lensa lebar yang terpasang sejak dari Ranca Upas dengan lensa tele zoom guna mencicipi indahnya warna bunga, pohon yang menjulang maupun jaring laba-laba yang menjuntai di sana-sini. Tentu, saya kesulitan mengisolasi obyek foto dengan lensa lebar. Namun saya biarkan saja. Kelak, sebuah foto yang diambil dari kawasan ini menjadi foto pemenang kompetisi yang diadakan oleh Perhutani ini. Bukan foto saya, pastinya.

Saya lalu berjalan tak jelas, memotret tak jelas, berkeliling tak jelas. Ketika terlihat sejumlah pemotret tengah rapi berdiri untuk berfoto bersama, saya lantas buru-buru bergabung. Sebentar lagi kami akan menyudahi sesi pertama rangkaian HUT ke-89 PAF Bandung.

Foto Keluarga. Sumber Foto: http://tinyurl.com/pafbdg
Foto Keluarga. Sumber Foto: http://tinyurl.com/pafbdg

Kembali kami menaiki bus, bus pengganti yang dikirim penyedia angkutan yang disewa panitia, namun kali ini perjalanan terasa lebih sepi. Rupanya banyak peserta lainnya yang menyusul dengan kendaraan pribadi masing-masing dan telah melanjutkan perjalanan menuju Patuha Resort bersama peserta yang nge-bus sebelumnya.

Tiba di Patuha Resort, saatnya check-in dan menaruh barang bawaan di dalam kamar yang sudah disiapkan panitia. Hari sudah siang, menjelang pukul satu.

Ketika panitia mengumumkan waktunya makan siang, ada senyum yang mengembang baik di bibir maupun di perut saya.

Sobat telah mencapai akhir Bagian Pertama. Baca tulisan berikutnya di sini.

Salam,

Adhy Langgar

adhylanggar

Perkenalkan. Saya Aprianus Langgar, namun lebih nyaman disapa Adhy.

4 thoughts on “Ramey-ramey di Ciwidey – PAF Bandung (1)

  1. baru nyadar klo kawan lamaku ini udah nge-blog dan sedang dimabuk asmara photography…hehehhe

    mantabb!! teruskan dan kutunggu karya2 spektakulermu…:)

    1. Hehehe.. dua-duanya masih dalam tahap belajar masbro, baik blogging maupun fotografi.. 🙂

      Thanks udah mampir masbro, kapan-kapan mampir lagi ya..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*