Skip to main content
paf bandung

Ramey-ramey di Ciwidey – PAF Bandung (3)

Tulisan saya yang ketiga (dan sepertinya yang terakhir) dalam serial Ramey-ramey di Ciwidey. Baca tulisan pertama dan kedua dulu ya (jika belum) …

* * *

Minggu pagi, 17 Februari di Patuha Resort. Suasana terasa sepi. Dengan malas saya angkat tubuh yang sulit disebut ramping ini dari atas kasur. Sedikit rasa menyesal menyembul saat teringat akan ajakan hunting lansekap beberapa jam yang lalu.

Saya intip suasana luar dari balik kain jendela kamar, tak tampak seorang pun. Saya lirik jam di ponsel, sudah pukul tujuh. Sepertinya semua orang tengah asyik di luar sana. Saya pun bersiap.

Pintu kamar saya tutup lalu saya kunci. Dengan tergopoh-gopoh saya menapaki tangga, melewati kolam renang, lalu berpapasan dengan seorang rekan sesama peserta HUT ke-89 PAF Bandung.

“Lho, kok nggak pake kaos yang dikasih panitia?”, tanya beliau sambil menambahkan, “wajib pake lho…”

“Wah, saya nggak tau, om. Baru bangun soalnya…”, jawab saya.

“Oh, kalo gitu ambil kaosnya sekalian sarapan aja…”, sahutnya seraya berlalu.

“Oke, makasih ya…”, saya menutup perbincangan. Lalu melanjutkan langkah.

Sejenak saya berhenti. Sepertinya ada yang kurang. Ah, saya lupa name tag! Sial. Terpaksa harus kembali ke kamar. Aturan paling utama adalah: no name tag, no cekrek, no eat!

* * *

Area lobby Patuha Resort nampak lengang. Namun terdengar hiruk pikuk dari arah parkiran depan resort. Acara Reli Foto sudah dimulai rupanya. Segera saya menuju ruang makan, menikmati sarapan dengan cepat, mengambil jatah kaos dari panitia, dan merapat ke keramaian  di area parkir depan Patuha Resort.

Pagi itu suasana nampak ramai. Lebih ramai dari kemarin. Peserta HUT ke-89 PAF Bandung bertambah. Panitia memberlakukan 3 (tiga) pilihan keikutsertaan bagi kami semua, dalam bentuk Opsi A, B dan C.  Lengkapnya bisa dilihat di sini. Saya, Mega, om Robert dan peserta lainnya adalah peserta Opsi A alias keberangkatan Sabtu pagi, menginap di Patuha dan menggunakan sarana transportasi yang disediakan. Opsi B menawarkan keberangkatan pada Minggu pagi, tanpa menginap di Patuha. Sementara Opsi C disediakan bagi peserta yang ingin menginap di tempat lain dan memiliki kendaraan sendiri.

Menjelang Reli Foto. Sumber foto: http://www.tinyurl.com/pafbdg
Menjelang Reli Foto. Sumber foto: http://www.tinyurl.com/pafbdg

Nah, pada pagi ini seluruh peserta Opsi B telah tiba dan bergabung bersama kami peserta Opsi A dan C. Memang peminat Opsi B ini sangat banyak, tujuan utama mereka adalah event Lomba Foto Model yang PAF Bandung selenggarakan. Namun lomba memotret model baru akan dilangsungkan siang nanti, setelah sesi Reli Foto. Pagi ini area parkir Patuha Resort pun sangat semarak.

Reli Foto, atau  kerennya Photo Rally, adalah lomba foto dengan teknik menjawab soal. Panitia membagikan sebuah buku pada tiap-tiap peserta berisi 20 pertanyaan/perintah yang harus dijawab/dilaksanakan oleh peserta dalam bentuk karya foto. Setiap soal memiliki ciri khusus yang harus ditemukan oleh peserta. Jadi, jawaban peserta bergantung sepenuhnya pada imajinasi dan kejelian peserta lomba dalam menafsirkan soal dan menemukan ciri khasnya. Mirip saat ujian mata kuliah semiotika, menurut saya.

Selanjutnya jawaban atas 20 pertanyaan ini dikumpulkan dalam format karya foto sesuai urutan pertanyaan, dalam sebuah kartu memori yang akan dikembalikan setelah makan siang. Buku soal saya ambil dari panitia, lalu saya bergabung bersama Mega, om Robert dan peserta lainnya.

Lomba ini menyenangkan. Kami dipaksa untuk menafsirkan soal, menemukan obyek, lalu memotretnya sesuai ketentuan yang ada sebagai jawaban soal tersebut. Selesai briefing singkat dari panitia, peserta mulai bergerak. Kawasan Patuha Resort yang luas menimbulkan tantangan tersendiri. Soal-soal yang diberikan pun tidak mudah. Kalimat pertanyaannya sederhana, instruksinya pun demikian.

Awalnya saya ingin mengikuti lomba ini. Meski pun saya tidak membawa kartu memori cadangan, panitia mengijinkan peserta untuk memotret dengan kamera ponsel. Masalahnya, baterai ponsel saya tidak bersahabat. Tepat pada soal ke-11, ponsel saya mati. Nasib! Alhasil detik itu juga saya berubah dari peserta menjadi penggembira.

Menjelang pukul sepuluh, Reli Foto berakhir. Waktunya memotret model.

* * *

Lima gadis cantik berdiri tegak di hadapan kami. Hm, panitia HUT ke-89 PAF Bandung sepertinya tidak tanggung-tanggung menyiapkan yang terbaik bagi peserta, dua diantara kelima model tersebut berasal dari Ukraina. Muka tirus, hidung mancung, mata tajam, wow!

Sebelum lomba foto model dimulai, kami berfoto bersama. Tentunya agar sah. Sah? Sah! Hahaha…

Foto Keluarga di Patuha. Sumber foto: http://tinyurl.com/pafbdg
Foto Keluarga di Patuha. Sumber foto: http://tinyurl.com/pafbdg

Selepas briefing sejenak, panitia mengatur peserta dalam lima kelompok, sesuai jumlah model yang akan dipotret. Setiap kelompok akan didampingi oleh satu orang panitia dan berhak mendapatkan jatah waktu lima belas menit pada setiap model. Kelima model tersebut akan ditempatkan pada lima lokasi berbeda dan bertahan di sana. Jadi, pemotret yang akan berkeliling dari satu lokasi model ke lokasi model berikutnya.

Dua orang model ditempatkan di area depan Patuha Resort, dua lainnya di depan Aula, dan seorang lagi di samping kolam renang.

Baca Juga:  Semarak Cap Go Meh Bandung

Pemotretan pun dimulai!

Saya bersama om Robert berada dalam kelompok yang sama. Model yang kami potret pertama adalah Evie, Miss Bangka Belitung 2011. Lampu kilat mulai memancar. Suara rana memecah kesunyian. Suasana menjadi ramai saat pemotret mulai bersahutan memanggil nama sang model. Saling senggol mencari angle yang tepat demi frame terbaik. Hal yang biasa, sama seperti pada hunting foto massal lainnya.

Siap sedia. Sumber foto: http://www.tinyurl.com/pafbdg
Siap sedia. Sumber foto: http://www.tinyurl.com/pafbdg

Lima belas menit kemudian, panitia pendamping kelompok menggegas kami menuju model selanjutnya. Kami tinggalkan Evie berhadapan dengan rombongan pemotret lainnya yang telah mengarah ke sana. Saatnya bersama Esther, model asal Ukraina.

Selesai menghabiskan waktu berkualitas bersama Esther, kami lalu melangkahkan kaki ke dalam Patuha Resort. Lokasi yang kami tuju adalah Gedung Aula. Lumayan jauh perjalanan kami. Tapi tak apa, Maya -Miss Sumatera Selatan 2011- sudah menanti di sana.

Ternyata selain Maya, ada Olga (Olya?) juga. Olga yang asal Ukraina ini tengah ramai dikerubuti para pemotret. Sambil melintas, saya mencuri dengar salah seorang anggota panitia yang tengah menggerutu, “Fotografernya pada gak mau disuruh pindah, euy…”

Tanpa menunggu lama, kami langsung beraksi. Maya berpose, kami memotret. Maya tak berpose, kami tetap saja memotret. Hahaha.. Hingga akhirnya panitia memutuskan Maya dan Olga harus beristirahat sejenak. Selesai istirahat, Maya kembali jadi sasaran bidik lensa kamera kelompok kami.

* * *

Namun, keberadaan dua orang model pada titik lokasi yang sama membawa tantangan tersendiri. Ada dua kelompok pemotret di sana. Tanpa ada arahan dari pendamping kelompok, para pemotret mulai berpindah dari Maya ke Olga dan sebaliknya. Suasana menjadi riuh, gaduh, sedikit tak teratur.

Saya menyingkir, menjauh, tidak nyaman dengan semua ini, namun masih berusaha untuk memotret. Boleh saja berebut frame, silakan saja saling mencari komposisi foto yang sempurna, tapi jangan lupakan kehadiran orang lain, orang yang sama-sama sudah membayar dan sama-sama membutuhkan spot untuk framing gambar. Bagi saya, sikap saling menghargai saat memotret itu lebih baik dari pada berjuta hasil frame foto yang sempurna. Apa mau dikata, tidak banyak pemotret yang taat pada pendamping kelompok. Godaan hadiah menggiurkan bagi pemenang lomba jauh lebih kuat. Benar kata orang, jika sudah memotret, lupa segalanya.

Tidak lama kemudian pendamping kelompok mengarahkan kami untuk mulai memotret Olga, namun sang gadis Ukraina itu masih dikerumuni pemotret dari kelompok lain. Tatapan mata tajam milik si model asing ini rupanya membius mereka untuk terus menerus memencet tombol shutter. Saya mencoba masuk dalam kerumunan. Beberapa frame berhasil saya dapatkan. Saat hendak berpindah posisi, mencari angle yang berbeda, Patuha Resort diguyur hujan. Ouch!

Melalui pendamping kelompok, panitia menyatakan sesi pemotretan model untuk Lomba Foto Model dihentikan. Hujan, bosbro! Dari lima model foto yang disiapkan panitia, saya dan kelompok saya sempat memotret empat. Cukuplah untuk menutup HUT ke-89 PAF Bandung. Panitia juga mengumumkan kepada seluruh peserta untuk mengumpulkan karya foto paling lambat Jumat, 22 Februari.

* * *

Selepas makan siang, saatnya seremoni penutupan. Saya bersama seluruh peserta HUT ke-89 PAF Bandung dikumpulkan di Ruang Aula. Acara yang disiapkan panitia cukup padat. Mulai presentasi produk kamera dan printer dari Canon selaku sponsor acara ini, sambutan-sambutan dari panitia penyelenggara dan PAF Bandung, perayaan HUT PAF, doorprize, pengumuman pemenang lomba foto hingga lelang barang. Oh iya, pemenang lomba foto yang diselenggarakan hari Sabtu kemarin adalah Jeremy, rekan sekamar saya. Foto juaranya ia ambil ketika berada Cimanggu. Nais, Gan! *salaman*

Foto Juara
Foto Juara. Sumber foto: http://tinyurl.com/pafbdg

Seremoni masih terus berlangsung sementara hari semakin sore. Sudah pukul setengah empat. Suasana Aula masih ramai. Belum ada tanda-tanda kegiatan akan berakhir. Saya dan Mega terpaksa meninggalkan Aula Patuha Resort sebelum acara usai. Kami masih harus mengejar jadwal keberangkatan kereta api yang akan ditumpangi Mega kembali ke Jakarta. Tiket kereta sudah ia beli jauh-jauh hari.

Muncul persoalan baru. Bagaimana cara pulang ke Bandung? Dalam benak saya jawabannya adalah dengan menggunakan angkot kuning ke terminal Ciwidey, lalu disambung lagi menuju Soreang, hingga Leuwi Panjang di Bandung. Apakah akan cukup waktu hingga Stasiun Bandung? Entah. Namun hal pertama yang harus segera dilakukan adalah berjalan kaki hingga keluar komplek Patuha Resort. Nanjak, beud… *urut betis*

Kami melangkah keluar dari aula setelah sejenak berpamitan pada om Robert dan teman-teman yang lain. Mereka tengah asyik mengikuti acara lelang barang yang sedang berlangsung seru.

Belum jauh melangkah dari gerbang keluar bangunan Patuha Resort, kami melihat di belakang kami dua orang laki-laki tampak memasuki sebuah kendaraan roda empat. Mega memberanikan diri meminta tumpangan hingga ke terminal Ciwidey. Yes, boleh!

Sungguh tidak terbayangkan bisa kami tidak diizinkan menumpang. Ternyata tak satu pun angkot kami temui di sepanjang perjalanan pulang. Tiba di terminal Ciwidey, saya meminta diturunkan di situ. Sang pengemudi mobil menolak. Beliau menawarkan untuk meneruskan perjalanan bersama mereka hingga Bandung. Tawaran yang tentu tidak kami sia-siakan. Puji Tuhan!

Baca Juga:  Menyalin Piksel

Tidak lama setelah meninggalkan kawasan terminal Ciwidey, kabut mulai turun dengan cepat disertai gerimis. Dari balik kabin mobil yang hangat dan di atas jok yang empuk, saya bersyukur dengan kebaikan yang kami terima ini.

Belum separuh perjalanan pulang, sang pengendara mobil dan rekannya memutuskan untuk berhenti sejenak. Beliau meyakinkan kami untuk tetap bersama-sama. Kami mengiyakan walau segan.  Mobil lantas berbelok masuk ke halaman sebuah restoran masakan sunda. Saat masuk, kami sempat berpapasan dengan rombongan model asing HUT PAF Bandung, Esther dan Olga bersama pendamping mereka, yang sedang melangkah keluar.

* * *

Seekor ikan gurame besar goreng terhidang di meja bersama Tumis Kangkung, Tahu Goreng, Sambal Kecap serta sebakul nasi putih yang masih mengepul. Makan besar, bro! Sejenak saya dan Mega tertegun. Kami sungkan. Jika saja suasananya berbeda, seisi meja pasti sudah saya bikin ludes tak tersisa!

Selesai makan, kami melanjutkan perjalanan. Hari semakin sore. Sudah lepas pukul empat. Jalanan ramai. Sang pengemudi dengan cekatan menggerakkan mobil meliuk mengikuti irama lalu-lintas di depannya. Kami saling bertukar cerita sepanjang perjalanan. Tak terasa Kota Bandung kami masuki. Titik kemacetan klasik di depan sebuah mal di kawasan Terusan Kopo berhasil kami hindari tanpa kepadatan yang berarti karena rekan sang pengemudi sangat mengenal jalur di kawasan ini. Belok sini, belok sana, tembus sini, tembus sana, lalu wuuss… Macet? Lewat!

Tiba di lampu merah perempatan jalan Kebon Jati kami turun. Pemilik mobil hendak meneruskan perjalanan ke arah yang berbeda. Kami cepat-cepat berpamitan sekaligus mengucapkan terima kasih kepada dua orang yang berjasa besar pada kami sore itu, Pak Hans dan Pak Dibyo. Ya, Pak Dibyo Gahari sang maestro fotografi inframerah Indonesia yang memberi tumpangan pada kami, menraktir kami makan serta mengantar kami hingga jarak sepelemparan batu dari Stasiun Bandung. Terima kasih, Pak Dibyo. Terima kasih, Pak Hans.

* * *

Saya dan Mega berjalan menyusuri Jalan Kebon Jati yang tidak begitu ramai. Kami sengaja tidak menggunakan angkot menuju stasiun. Jaraknya toh tidak seberapa jauh dari tempat kami turun. Sejenak kemudian kami tiba depan terminal lama angkot. Mega menyempatkan diri membeli cemilan sebagai buah tangan untuk temannya di Jakarta.

Kami menyeberangi Jalan Kebon Jati, menyusuri kawasan terminal angkot yang lebih menyerupai kawasan warung kaki lima ketimbang sebuah terminal. Tidak jauh dari situ, Pintu Selatan Stasiun Bandung sudah menanti.

Sambil berjalan, terdengar suara azan Magrib. Perjalanan yang cukup cepat berhasil kami tempuh bersama Pak Dibyo dan Pak Hans. Namun satu hal yang pasti, jika kami tidak bertemu kedua orang baik itu, kami mungkin masih terombang-ambing dalam angkot menuju Leuwi Panjang; tak pasti kapan tiba di stasiun. Tapi kini, menjelang pukul enam kami sudah masuki pelataran Stasiun Bandung.

Otak saya berpikir cepat. Saya masih harus meneruskan perjalanan ke Jatinangor. Terlintas di benak saya jalur angkot yang masih harus saya tempuh: Stasiun – Gedebage, Gedebage – Cileunyi, lalu Cileunyi – Jatinangor. Perjalanannya panjang, masberoh! Memang tidak sebanding perjalanan yang harus Mega tempuh hingga Gambir. Tapi tetap saja, dari Stasiun hingga Jatinangor tidak bisa disebut dekat. Gila kali lu, Ndro!

Saya lalu teringat sesuatu. Bagaimana kalau naik kereta juga? Bukan, bukan kereta eksekutif a la si Mega, melainkan kereta lokal ekonomi trayek Bandung – Cicalengka. Saya dapat turun di Rancaekek nantinya. Setidaknya saya bisa menghindari kepadatan lalu lintas yang menyebalkan dan melelahkan sepanjang jalur stasiun hingga Jatinangor. Tekad saya bulatkan.

Murah Meriah. Sumber foto: Dok, 2013
Murah Meriah.

Karcis kereta sudah di tangan. Satu tiket kereta ekonomi untukku, satu tiket kereta eksekutif untuk Mega. Sambil menunggu Mega yang antre masuk ke dalam peron lewat pintu gerbang eksekutif, saya tanyakan jam keberangkatan kereta ekonomi trayek Cicalengka pada sang penjaga peron ekonomi tempat saya melintas. Jawaban dari sang satpam penjaga peron adalah: “Bentar lagi, kok. Biasanya, sih, bakal masuk jam segini. Tunggu aja…”. Baiklah.

Kata-kata ‘bentar’, ‘biasanya’, ‘bakal’, ‘segini’ yang dirangkai utuh dalam satu kalimat lalu ditutup dengan frasa ‘tunggu aja’ memang sukar untuk dipahami, apalagi dibantah. Hahaha…

Saya ikuti saja perkataan sang satpam. Sementara itu, jadwal keberangkatan kereta untuk Mega sekitar jam delapan.

Sekitar pukul setengah tujuh malam, kereta ekonomi jurusan Cicalengka memasuki lintasan dua di Stasiun Bandung. Sempat disangka kereta tujuan Padalarang, saya akhirnya harus terburu-buru memanjat pintu masuk gerbong depan setelah berpamitan cepat dengan Mega. Ia tidak keberatan saya tinggalkan di stasiun. “Gue aman kok di sini …”, katanya.

Baca Juga:  Metal Sejenak di Bandung Berisik

Saya sepakat.

* * *

Hampir pukul tujuh malam kala kereta ekonomi mulai bergerak perlahan keluar dari Stasiun Bandung. Gerbong kereta terisi padat. Saya berdiri bersama banyak penumpang lainnya. Kereta pun melaju.

Menjelang stasiun Cikudapateuh, kursi dekat saya berdiri kosong ditinggal penumpangnya yang hendak turun. Tak ada perempuan hamil atau penumpang lansia di dekat saya, kursi itu langsung saya tempati. Kereta bergerak kembali meninggalkan Cikudapateuh.

Tiba di Stasiun Kiaracondong kereta ini berhenti kembali. Bukan sekadar untuk menaik-turunkan penumpangnya, namun berhenti untuk memberi jalan bagi kereta lainnya. Kereta berpenumpang dengan tarif lebih mahal tentunya.

Seorang perempuan merangsek mendekat dan berdiri di samping kursi saya. Ia ternyata teman dari perempuan muda yang duduk di depan saya. Sejatinya, saya ingin memberikan tempat duduk saya kepada si Teteh yang berdiri itu. Saya khawatir melihat ia digencet oleh seorang laki-laki paruh baya yang seolah menikmati “prosesi penggencetan” yang sedang dia lakukan. Namun, situasi penumpang yang sangat berdesakan membuat saya kesulitan. Belum lagi dua buah tas punggung penuh berisi yang sedang saya pangku.

Kereta ternyata harus berhenti lebih lama lagi. Suasana gerbong terasa gerah. Belum lagi kaki saya yang sedari tadi berulang kali terinjak kaki si Teteh cantik yang berdiri di samping saya. Entah terinjak atau diinjak.

Okelah, saya paham.

Ketika kereta akhirnya mulai berangkat dan penumpang yang tadi berdesakan pergi entah ke mana hingga gerbong terasa longgar, saya bangun dan menyilahkan si Teteh untuk duduk.

Tentu saja ia menolak dengan halus.

Tentu saja saya bersikeras.

Tentu saja ia lekas bersedia duduk seraya berterima kasih sambil tersenyum manis. Kelewat manis sepertinya.

Ya, berdiri terasa lebih baik ketimbang jempol kaki yang memar karena terinjak sepanjang perjalanan.

Beberapa saat setelah melintasi Stasiun Cimekar, kereta akhirnya tiba di Stasiun Rancaekek. Saya cepat-cepat turun dan melangkah keluar stasiun. Sepertinya saya harus menyewa ojek. Setahu saya, angkot di Rancaekek tidak ada yang beroperasi lebih dari pukul lima sore. Ah, kali ini sepertinya tidak perlu mengojek. Saya coba teruskan berjalan kaki. Saya terus berjalan ke arah Dangdeur, hingga tiba di palang pintu perlintasan kereta. Lalu saya capek. Lalu saya haus. Lalu saya membeli sebotol minuman dingin, menenggaknya hingga tandas, kemudian memanggil ojek!

Ya, jika diingat kembali, bukankah lebih cerdas bila menyewa ojek sejak awal?

Saya tiba di Dangdeur, entah nama sebuah pasar atau kawasan, di tepi ruas jalan yang menghubungkan Garut, Tasikmalaya, dan puluhan kota lainnya di Jalur Selatan dengan kota Bandung. Sebuah angkot hijau jurusan Cileunyi sudah menanti. Setelah sampai di Cileunyi, perjalanan dilanjutkan dengan angkot cokelat menuju Jatinangor. Sekitar pukul setengah sembilan, saya tiba di kamar kos. Haleluya!

* * *

Hari Senin sore saya bertemu om Robert di BEC Bandung. Kami sengaja saling menyempatkan waktu untuk sekadar ngopi-ngopi santai. Saya memang berencana ke Ciumbuleuit untuk mengembalikan lensa pinjaman di Pondok Lensa.

Sembari ngopi, beliau sempat menceritakan lanjutan seremonial penutupan HUT ke-89 PAF Bandung yang berlangsung hingga pukul lima sore. Ia mengaku tiba di Kopo sekitar pukul setengah tujuh karena perjalanan yang agak tersendat. Teringat lagi saya akan Pak Dibyo dan Pak Hans. Tanpa mereka, Mega pasti ketinggalan kereta.

Hari Rabu siang saya menerima kabar dari Mega. Ia mengaku telah tiba di Jakarta dengan selamat, sejak Minggu malam. Syukurlah. Ia sudah tiba dengan selamat di sana. Dua hari yang lalu.

Akhir pekan yang menyenangkan saya habiskan bersama PAF Bandung, tempat saya mencatatkan diri sebagai anggotanya yang resmi lengkap dengan KTA. Bukan semata karena berisi lomba dan hadiah, namun karena selama dua hari tersebut saya memperoleh hal penting yang saya cari saat memotret, yakni bersenang-senang. Saya memotret karena saya ingin bersenang-senang. Itu perkara yang utama.

Lantas bagaimana dengan lomba? Saya tidak mengirimkan karya foto untuk disertakan dalam lomba foto model. Saya juga tidak menyerahkan foto untuk lomba reli foto. Saya tidak merasa rugi telah menghabiskan uang sebanyak dua ratus ribu rupiah untuk mengikuti acara puncak perayaan HUT ke-89 PAF Bandung ini dengan tanpa mengikuti lomba apapun, karena saya telah menemukan hal yang saya cari: memotret dan bersenang-senang serta berkesempatan untuk mengenal lebih banyak orang. Dan itu sudah lebih dari cukup bagi saya.

Benar bahwa rangkaian acara tidak berlangsung lancar dan mengalir, banyak kekurangan di sana-sini, namun porsinya tidak sebesar porsi bersenang-senang yang saya dapatkan. Jadi, saya tetap merasa puas. Walau saya terpaksa harus meninggalkan acara lebih awal. Selamat Ulang Tahun yang ke-89 PAF Bandung, senang bisa bergabung denganmu.

Salam,

Adhy Langgar

adhylanggar

Perkenalkan. Saya Aprianus Langgar, namun lebih nyaman disapa Adhy.

5 thoughts on “Ramey-ramey di Ciwidey – PAF Bandung (3)

  1. Kata kuncinya : bersenang-senang
    Terima kasih untuk Pak Dibyo dan Pak Hans. Beliau2 itu adalah malaikat yg diturunkan Tuhan buat kita, terutama gue. Semoga beliau2 diberi kelimpahan rejeki dan umur panjang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*