Rasa NTT pada Malam PPI 2013

Dalam gelaran Pemilihan Puteri Indonesia (PPI) kali ini, yang disiarkan langsung oleh sebuah televisi swasta nasional,  ada beberapa hal yang terasa istimewa menurut saya. Saya sebut istimewa karena pada malam final PPI 2013 itu, ada 4 (empat) hal yang membanggakan bagi saya, seorang warga Nusa Tenggara Timur.

Apa saja?

Pertama, pembacaan puisi “Beri Daku Sumba” karya Taufiq Ismail.

Penggemar sastra Indonesia mana yang tak kenal puisi ini? Puisi yang ditulis oleh Taufiq Ismail pada tahun 1970 ini mengisahkan sebuah tempat dengan hamparan padang yang luas membentang, ringkik kuda, lenguhan kerbau dan sapi, iklim yang kering, serta kerja keras penggembala. Mirip Uzbekistan.

Sumba, nama sebuah pulau di Nusa Tenggara Timur, merupakan tanah yang disebut-sebut oleh Taufiq Ismail dalam puisinya tersebut. Sumba juga merupakan tanah lahir “umbu”, nama panggilan Umbu Landu Paranggi, yang Taufiq sebut dalam akhir baris kedua puisi tersebut.

Di malam puncak PPI 2013, penggalan puisi “Beri Daku Sumba” kembali didengungkan secara berantai oleh para pemenang PPI sebelumnya: Putri Raemawasti, Zivanna Letisha, Qory Sandioriva dan Maria Selena dalam video pembukaan acara, dengan latar pemandangan indah Pulau Sumba. Video puisi ini sekaligus mengawali perkenalan seluruh konstestan PPI 2013.

Kedua, penampilan permainan Sasando oleh Djitron Pah.

Siapa tak kenal Djitron Pah? Lelaki kelahiran Kupang, Nusa Tenggara Timur, ini mencuat ke pentas nasional setelah mengikuti kompetisi “Indonesia’s Got Talent”, sebuah kontes pencarian bakat  yang diselenggarakan oleh sebuah stasiun televisi swasta nasional pada tahun 2010 lalu. Djitron, dengan kepiawaiannya memetik dawai-dawai Sasando, berhasil  menyingkirkan ribuan peserta lainnya dan menempati posisi kelima terbaik.

Pada malam final PPI 2013 itu, Sasando–sebuah alat musik petik asal Rote, Nusa Tenggara Timur–dimainkan Djitron mengiringi awal babak 5 (lima) besar PPI 2013.

Ketiga, penampilan S4.

S4 merupakan hasil kompetisi seperti yang saya lihat dalam tulisan ini dan ini. Mereka adalah pemenang dalam ajang pencarian bakat Galaxy Superstar dan mereka mendapatkan pelatihan di Korea bersama sejumlah boyband terkenal di sana. S4 juga menyertakan salah satu anggota girlband asal Korea 4MinuteHyuna, dalam album debut mereka.  Salah satu personel S4 yang menarik perhatian saya adalah Arthur Stefano Anapaku, lelaki kelahiran Waingapu, Nusa Tenggara Timur.

Di malam puncak PPI 2013, S4 tampil dengan lagu andalan dari album debut mereka, She is My Girl (Versi Indonesia).

Terakhir, puncak dari seluruh keistimewaan gelaran PPI 2013 bagi saya adalah Putri Nusa Tenggara Timur berhasil masuk dalam 10 (sepuluh) besar finalis PPI 2013!

laras
Gambar: Putri-Indonesia.com

Dalam sejarah keikutsertaan Provinsi Nusa Tenggara Timur dalam kontes ini, belum sekalipun nama provinsi kepulauan ini disebut dalam babak final. Namun tidak kali ini. Clarasati Ayu Suhanda namanya, Puteri Indonesia utusan Nusa Tenggara Timur, berhasil merebut satu posisi dalam final PPI 2013 malam itu. Laras, demikian nona Kupang anak dari pasangan ibu berdarah Timor-Tionghoa dan ayah dari Sunda ini biasa disapa, berhasil merebut perhatian dewan juri selama masa karantina untuk berdiri sejajar dengan sembilan kontestan terpilih lainnya malam itu.

Sebelumnya, saat pentas Malam Seni dan Budaya/Malam Bakat Putri Indonesia, Laras memperlihatkan kemampuannya menari dalam balutan busana tradisional Alor, Nusa Tenggara Timur.

Sebagai finalis yang masuk 10 (sepuluh) besar, putri pasangan Suhari Suhanda dan Fatima Manek-Suhanda ini terlihat agak gugup saat menjawab pertanyaan juri yang disampaikan oleh pembawa acara. Namun ia berhasil mengatasi rasa grogi dan menyelesaikan jawabannya sebelum batas waktu.

Malam itu Laras tidak membawa pulang satu gelar pun. Tidak seperti Freska Gousario, Puteri Indonesia utusan Nusa Tenggara Timur tahun 2010 yang berhasil menyabet gelar Puteri Indonesia Intelegensia III 2010 atau Rakhmania Orpha Wacana Pian yang merebut gelar Putri Kepulauan Nusa Tenggara 2007. Walaupun demikian, Clarasati Ayu Suhanda berhasil selangkah lebih maju dibandingkan para pendahulunya:  Florentina Yunita (2004), Indri Mboeik (2005), Maria Djiling (2006), Rakhmania Pian (2007), Merlyn Y. K. Bolla (2008), Dona Rissi (2009), Freska Gousario (2010) dan Julia Blegur (2011), serta membuka lebih lebar kesempatan bagi perempuan muda berbakat lainnya asal Nusa Tenggara Timur untuk berprestasi lebih tinggi dalam ajang Putri Indonesia.

Terima kasih Laras, Arthur, Djitron dan Taufik Ismail untuk Malam Pemilihan Putri Indonesia 2013 yang begitu istimewa.

Selamat untuk Putri Indonesia 2013, Whulandary asal Sumatera Barat.

Salam,

Adhy Langgar

Leave a Reply