“Titi Batu” untuk Lion Air

Pukul satu siang, tanggal sebelas, bulan September, tahun dua ribu tiga belas, telepon selular saya berdering. Saya lihat nama BTC Lion Jakarta terpampang di layarnya.

Saya angkat.

“Halo?”

“Halo, selamat siang, Pak. Dengan Pak Aprianus?”

“Betul, Pak.”

“Saya dari Lion, Pak. Uangnya sudah saya kirim.”

“Ini Pak Noor, ya?”

“Iya, Pak. Saya sendiri yang mengirimkan uangnya ke rekening Bapak. BCA, eh Mandiri, kan, Pak?”

“Rekening saya Mandiri, Pak. Baik kalo begitu. Terima kasih.”

“Terima kasih, Pak.”

Sambungan telepon selesai.

Demikian percakapan singkat yang menandai usainya proses panjang klaim bagasi saya yang hilang dalam penerbangan Lion Air dari Cengkareng tujuan Kupang, nomor penerbangan JT696, tanggal 29 Januari 2012. 

Atas kehilangan bagasi berupa koper berukuran sedang, berwarna coklat, dengan luggage-strap warna oranye bertuliskan “Eiger”, berat 18-an kilogram (saya lupa tepatnya dan oleh Lion dianggap tepat 18kg), Lion Air memberi ganti rugi sebesar Rp200.000,- (dua ratus ribu rupiah) untuk setiap kilogram bagasi tercatat. Hal ini sesuai dengan Peraturan Menteri Perhubungan RI Nomor 77 Tahun 2011 tentang Tanggung Jawab Pengangkut Udara.

* * *

Tidak mudah.

Frasa di atas tepat menggambarkan semesta perasaan yang saya alami sejak 30 Januari 2012 hingga 11 September 2013. Satu tahun dan delapan bulan saya menunggu. Tawaran ganti rugi yang diajukan oleh manajer operasional maskapai ini di Bandara El Tari Kupang seminggu setelah kejadian itu saya tolak mentah-mentah. Saya masih berharap kembalinya koper yang berisi barang-barang yang sangat berharga bagi saya.

Bukan, Sobat. Barang-barang berharga yang saya maksudkan bukan yang bernilai jutaan rupiah seperti perhiasan, jam tangan mewah dan yang sejenisnya. Namun berharga dalam pengertian memento alias benda kenangan.

Saya kehilangan benda kenangan. Sebagian perjalanan hidup saya kehilangan buktinya. Lenyap bersama koper tersebut.

Sependek pengetahuan saya, manusia adalah makhluk kebendaan. Materialisme. Bukti akan keberadaan, bahwa ia ada atau pernah ada, existing/existed. Penanda ia berujud, bukan khayalan.

Manusia membuat/menghasilkan benda agar kualitas individunya diakui di dalam kelompok. Manusia menempelkan atribut dirinya pada benda yang ia miliki/hasilkan. Dari benda tersebut, manusia dapat diurai kembali jati dirinya dalam sebuah kumpulan ingatan secara utuh. Ingatan (memori) yang hanya tersimpan dan disediakan oleh sebuah organ kecil bernama otak.

Otak manusia memang luar biasa. Ia sanggup merekam seluruh informasi dan pengalaman (baik dari kita sendiri maupun dari orang lain) yang diperoleh dari senses (panca indera) kita sejak keluar dari rahim hinga beberapa saat setelah jantung berhenti berdetak.

Namun keunggulan otak manusia ini mempunyai keterbatasannya sendiri. Informasi yang terekam dalam otak (baca: memori) tersimpan dalam lapisan-lapisan (layers) sesuai urutan waktu. Oleh karenanya Sobat dan saya mengenal istilah ingatan jangka panjang dan ingatan jangka pendek, long-term memory and short-term memory. Otak membutuhkan pemicu, memory trigger, untuk mengakses “timbunan” informasi, baik jangka panjang maupun jangka pendek. Pemicu untuk recall ‘memanggil kembali’  memori yang tersimpan. Pemicu yang dibutuhkan oleh otak berasal dari panca indera, mata-telinga-hidung-kulit-lidah, yang bekerja secara simultan.

Jika saya menulis: “Seorang anak kecil bercelana pendek merah, berkemeja putih, bersepatu hitam, dan berkaos kaki putih” maka masukan sinyal visual yang diperoleh otak dari retina Sobat akan diterjemahkan dan diidentifikasi. Hasil identifikasi dari otak berupa persepsi. Dalam benak Sobat, tulisan dalam tanda petik di atas akan merujuk pada “murid Sekolah Dasar”. Persepsi ini Sobat dapatkan walau Sobat bukan seorang murid SD, juga tidak sedang melihat gambar murid SD di depan mata, melainkan karena Sobat pernah bersekolah di SD, pernah melihat murid SD, atau sedang tinggal atau pernah tinggal di Indonesia, bisa berbahasa Indonesia, melek huruf, dan seterusnya. Tulisan saya dalam huruf yang terlihat di layar monitor Sobat yang memicu memori secara tanpa sadar. Tanpa bukti (tulisan saya itu), ingatan/persepsi/kenangan Sobat tentang “murid SD” tidak akan muncul begitu saja.

Jika saya menulis: “Где здесь туале´т?” maka bisa jadi hasil identifikasi otak Sobat untuk rangsangan visual ini tidak dalam bentuk persepsi tunggal. Mungkin Sobat akan mengenali tulisan dimaksud sebagai bahasa Rusia dari bentuk hurufnya, lalu timbul persepsi lain akan musim dingin yang mengerikan dan salju yang tebal, vodka, atau malah gadis-gadis Balkan yang terkenal dengan kecantikannya. Mengapa ini terjadi? Karena Sobat tidak memiliki memori yang tepat untuk memahami simbol dari tulisan tersebut. Oleh sebab itu, otak Sobat memberi identifikasi lain yang diperoleh dari memori (informasi dan pengalaman dari menonton film, misalnya). Respon yang Sobat alami akibat ketiadaan memori ini berupa rasa bingung, penuh tanda tanya, menebak, dan seterusnya. Respon ini bukan karena kebodohan, namun akibat belum ada memori. Jika Sobat bisa berbahasa Rusia, maka persepsi yang muncul mungkin kenangan saat mengikuti pelajaran bahasa Rusia dalam sebuah ruang kelas.

Saya kehilangan pemicu memori. Saya kehilangan bukti kenangan. Tak terukur apalagi ternilai harganya.

Saya akan sukar untuk menceritakan kembali indahnya persahabatan yang saya terima saat berada di Semarang. Tak ada lagi kaos hitam butut kesayangan yang sering saya pakai saat nongkrong tengah malam di kucingan. Kaos dekil itu menjadi pengingat saya, selain benda-benda lainnya, bahwa saya pernah berada di kota itu pada suatu waktu. Itu barang bukti. Satu kaos itu memicu jutaan kenangan; dan benda lainnya dalam sebuah koper yang kala ditimbang seberat delapan belas kilogram yang dihilangkan itu.

Memori saya akan tetap ada dan selalu tersimpan. Saya hanya kesulitan memindahkan memori yang saya miliki kepada orang lain, agar memori itu terus ada walaupun raga saya sudah tiada.

***

Kini saya sudah merelakan kehilangan itu. Saya terima kenyataan. Tak perlu lagi saya berharap.

Tapi satu hal yang pasti, saya “titi batu” dengan Lion Air. Mengapa “titi batu” bukan titi batu?

Saya harus bersikap realistis, Sobat. Kondisi geografis Nusa Tenggara Timur (dan Indonesia) yang berpulau menjadi alasan terbesar.

Jika saya titi batu maka saya tidak akan pernah menggunakan jasa penerbangan dari maskapai sial ini. Sementara, apabila saya “titi batu” maka saya menempatkan maskapai ini pada urutan ke dua ribu lima ratus enam puluh tiga dari semua maskapai penerbangan yang ada di bumi nusantara dan flobamora, untuk saya pergunakan manakala sudah tak ada lagi pilihan maskapai atau sarana transportasi lain.

Pil pahit yang harus saya telan adalah, bukan saja kehilangan bukti kenangan, usulan penelitian untuk tesis saya yang tersimpan rapi dalam koper tersebut pun harus raib bersama sejumlah buku rujukan untuk proses penelitian dan penulisan tesis. Kobaran semangat yang saya bawa dari Jatinangor langsung redup dan nyaris padam. Saya mencapai titik rendah kedua dalam perjalanan hidup saya; my lowest point is berpulangnya Oma Ede terkasih beberapa tahun silam dan saya tidak punya daya dan kesempatan untuk memberi penghormatan terakhir kepada beliau.

Lama saya berusaha membangkitkan kepercayaan diri untuk segera menyelesaikan karya ilmiah ini. Perlahan namun pasti, saya coba susun kembali keping motivasi yang berantakan pada malam keparat, 29 Januari 2012, itu. Hingga kini saya masih terus berusaha.

Tidak mudah.

Sekali lagi frasa ini sempurna. Tidak mudah menahan diri untuk tidak bersikap emosional menanggapi komentar yang saya peroleh dari sekeliling saya yang sesungguhnya hanya bermaksud menghibur. “Sudahlah, itu hanya baju. Nanti bisa beli lagi. Punya gaji, kan?” atau “Ini, pakai saja koper saya. Sudah tidak saya pakai lagi.” dan banyak lagi, seperti: “Sabar Pak, tunggu saja karena bukan hanya Bapak saja yang kehilangan bagasi!”. Komentar terakhir berasal dari ucapan seorang staf Lost and Found Lion Air di Bandara Soetta Tangerang yang saya hubungi lewat telepon.

Saya “titi batu” dengan Lion dengan harapan agar jangan pernah lagi terjerembab dalam lubang yang sama. Pengalaman seperti ini cukup saya alami sekali saja. Jangan dua kali. Itu tolol. Semoga.

Semoga Sobat tidak pernah kehilangan bagasi saat menggunakan maskapai ini.

Salam,

Adhy Langgar

Keterangan:

  • Titi batu: sebuah ungkapan dalam Bahasa Melayu Kupang yang bermakna ketetapan hati untuk tidak mengalami sebuah peristiwa sekali lagi. Sifatnya final. Keputusan terakhir. Biasanya istilah ini dipergunakan untuk mengekspresikan keseluruhan kemarahan, kekecewaan, atas sebuah kejadian yang sangat tidak menyenangkan. Titi batu bisa dipahami sama dengan “Tobat aku, gak bakalan lagi, deh…”
  • “Где здесь туале´т?” : Bahasa Rusia yang berarti “Dimana letak kamar kecil?” Ini sumbernya.

Comments

  1. edylapay

    bener sobat, rasanya kehilangan barang yg notabene ga berharga2 banget tapi ada nilai historis didalamnya itu ga enak banget, sementara pihak yang harusnya bertanggungjawab akan hal ini (Lion Air) malah berusaha mencari celah agar ga mengeluarkan ganti rugi ke customer ( walaupun nilainya sangat tidak sebanding) pelajaran buat kita semua agar berhati hati
    wassalam

Leave a Reply