Museum di Nusa Tenggara Timur? Apa saja?

Berikut saya bagikan kepada Sobat, sejumlah museum di Nusa Tenggara Timur. Provinsi Nusa Tenggara Timur adalah sebuah provinsi kepulauan yang terletak di sebelah tenggara pulau Jawa, pulau yang paling penting di Indonesia. Informasi yang saya tuliskan di sini saya peroleh dari hasil penelusuran daring dengan menggunakan mesin pencari serta sumber pustaka yang saya miliki.

Jadi, apa saja museum yang ada di Nusa Tenggara Timur?

Museum Tenun Ikat Ende

Dari pariwisata.endekab.go.id
Dari pariwisata.endekab.go.id

Terletak di dalam bangunan berbentuk rumah adat di jalan Mohamad Hatta, kira-kira 100 meter dari taman kota dan bersebelahan dengan Museum Bahari Ende, di sini dapat dilihat alat-alat yang digunakan untuk pembuatan kain tenun.
Museum Tenun Ikat di Ende, satu-satunya museum tenun ikat di NTT ini diresmikan pada 5 Agustus 2004.

Koleksi museum berasal dari sejumlah daerah, seperti Ende, Kabupaten Sikka, Timor Tengah Selatan (TTS), Belu, Rote Ndao, Sabu Raijua, Sumba Barat, dan Sumba Timur. Sumber: kompas.com

Museum Bahari Ende

Dari pariwisata.endekab.go.id
Dari pariwisata.endekab.go.id

Tidak banyak yang tahu bahwa Museum Bahari paling lengkap di Indonesia terdapat di Nusa Tenggara Timur, tepatnya di Ende, Flores. Museum Bahari Ende menyimpan 22.000 benda koleksi bukti kekayaan laut Indonesia terutama Nusa Tenggara. Hingga saat ini telah ada 1.000 spesies karang dan 300 spesies ikan yang dapat dilihat di museum ini. Bahkan museum ini memiliki berbagai koleksi yang jarang bahkan tidak ditemukan lagi karena sudah punah.

Museum Bahari Ende didirikan pada 14 Agustus 1996 atas gagasan seorang pastur bernama Pater Gabriel Goran yang sangat mencintai laut. Kecintaannya pada laut inilah yang membuat Pater Gabriel Goran mengoleksi kekayaan laut Indonesia sejak 1981, hingga pada akhirnya ia mengusulkan pendirian museum pada pemerintah daerah Ende. Koleksi yang dimiliki Museum Bahari Ende merupakan yang terlengkap di Indonesia, biota laut yang dimiliki oleh museum ini yaitu: pisces(ikan), crustacea (udang, kepiting, dan lobster), mollusca (kerang laut), echinodermata (teripang bulu babi), reptilia laut (penyu laut), mamalia (ikan paus), hingga algae (rumput laut yang sudah diolah).

Diantara semua koleksi yang dimiliki museum ini yang paling menarik adalah ikan duyung langka yang bahkan sudah tidak ditemukan dalam kurun waktu 50 tahun terakhir. Ikan duyung ini terjebak pukat nelayan pada tahun 2002, hingga akhirnya diawetkan dan dipajang dalam etalase kaca sebagai koleksi museum. Tidak hanya itu, ada pula tulang belulang ikan paus yang berukuran 30 meter dan lumba-lumba dengan panjang 6 meter dapat dilihat di museum ini. Untuk menemukan lokasi Museum Bahari Ende tidaklah sulit karena letaknya tidak jauh dari taman kota, di Jalan Moh. Hatta, Ende, Flores. Sumber: NusaPedia.com.

Keberadaan Museum Bahari tak bisa dipisahkan dari figur Pater Gabriel Goran SVD. Cikal bakal museum berawal dari hobinya, yang sedikit demi sedikit akhirnya mampu mengumpulkan jenis koleksi hingga berjumlah puluhan ribu buah. Lebih lanjut tentang Pater Goran dapat dibaca di blog hurek.

Museum Bikon Blewut

dari museumku.wordpress.com
dari museumku.wordpress.com

Museum Bikon Blewut berada di area Sekolah Tinggi Filsafat Katolik di Ledalero. Museum ini terletak di atas perbukitan Kecamatan Nita, Kabupaten Sikka, di perlintasan jalan antara Maumere menuju Ende. Sumber: travel.detik.com

Nama museum Bikon Blewut diturunkan dari syair adat penciptaan semesta alam atau buana, versi Krowe-Sikka yang berbunyi Saing Gun Saing Nulun/ Saing Bikon Saing Blewut/ Saing Watu Wu’an Nurak/ Saing Tana Puhun Kleruk/ De’ot Reta Wulan Wutu/ Kela Bekong Nian Tana Lero Wulan. Maknanya, sejak zaman purbakala, ketika bumi masih rapuh, ketika batu masih merupakan buah muda, ketika tanah masih seperti kuntum yang baru muncul, Tuhan di angkasa mencipta bumi, matahari, dan bulan. Dengan demikian, konsep nama Bikon Blewut menunjukkan kepurbaan atau ketuaan dari beberapa jenis koleksi yang dikumpulkan dalam museum ini. Pencetus nama Bikon Blewut adalah Pater Piet Petu SVD, kurator museum periode 1983-1998. Saat ini kuratornya dipegang Pater Ansel Doredae SVD. Oleh Seminari Tinggi St Paulus Ledalero, lembaga ini disebut juga sebagai Museum Misi dan Budaya karena mayoritas jenis koleksi yang dilestarikan merupakan hasil karya etnografis para misionaris SVD. Keberadaan Museum Bikon Blewut yang menyimpan sejumlah kekayaan budaya Flores ini tak lepas dari peran para misionaris SVD pada awal abad ke-19. Umumnya imam SVD merupakan ahli di bidang sejarah, bahasa, serta kebudayaan (etnolog dan antropolog). Misionaris SVD yang turut mengambil bagian dalam penemuan dan pengumpulan kekayaan budaya Flores antara lain Paul Arndt SVD, Theodor Verhoeven SVD, Guisinde SVD, Jilis Verheijen SVD, dan Paul Schebesta SVD. Sumber: syahrulanpuasawa.com

Rumah Pengasingan Bung Karno

dari republika.co.id
dari republika.co.id

Tanggal 28 Desember 1933 Pemerintah Kolonial Hindia Belanda mengeluarkan surat keputusan yang membuat Soekarno, yang saat itu berusia 33 tahun harus menjalani hukuman pengasingan sebagai tahanan politik di Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur. Dikawal serdadu Belanda, Bung Karno bersama keluarganya bertolak dari Surabaya dengan menumpang kapal barang KM van Riebeeck menuju Flores. Setelah berlayar selama 8 hari, mereka tiba di Ende, kota kecil di pesisir selatan Pulau Flores pada tanggal 14 Januari 1934 dan langsung dibawa ke rumah tahanan di kampung Ambugaga, kelurahan Kota Ratu, Ende. Di rumah pengasingan inilah, Sang Proklamator beserta istrinya Inggit Ganarsih, mertuanya Ibu Amsih dan kedua anak angkatnya Ratna Juami dan Kartika menghabiskan waktu mereka selama 4 tahun (1934-1938). Sumber: bungkarnodiende.com

Museum 1000 Moko

dari indonesia.travel
dari indonesia.travel

Museum 1000 Moko terletak di di Jl. Diponegoro, Kota Kalabahi, Alor. Museum 1000 Moko memiliki dua bangunan utama. Gedung pertama digunakan untuk menyimpan benda sejarah dan pra sejarah. Sedangkan gedung kedua digunakan untuk menyimpan koleksi berbagai macam motif tenun khas Alor. Anda bisa melihat berbagai budaya dan pengaruh asing yasng masuk ke Alor seperti peti berbahan daun lontar dan porselin dari China, kain sutra watola saleri cindai yang berasal dari India, meriam Portugis dan Belanda, kopiah dari Turki, dan pakaian adat suku Bugis. Di sini juga ada benda bercorak Hindu seperti patung Ratu Tungga Dewi dari Majapahit. Anda bisa melihat satu-satunya moko terbesar yang disebut dengan moko nekara. Moko ini ditemukan Simon J Oil Balol atas petunjuk mimpi. Bentuk moko ini seperti gendang dengan bagian atas dan tengah-tengahnya terdapat gambar bintang. Sumber: indonesia.travel

Museum dan Taman Bacaan DR. Oemboe Hina Kapita

Museum ini terletak di kota Waingapu, Sumba Timur. Gedung Museum dan Taman Bacaan DR. Oemboe Hina Kapita diresmikan oleh Bupati Sumba Timur Ir. Umbu Mehang Kunda pada 16 Mei 2007. Sumber: waingapu.com

Museum Daerah Nusa Tenggara Timur

Dari arsipbudayanusantara.or.id
Dari arsipbudayanusantara.or.id

Museum ini merupakan museum yang dikelola oleh pemerintah daerah, Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur. Karena letaknya di kota Kupang, museum ini juga dikenal sebagai Museum Kupang.

Museum ini diresmikan pada 9 Januari 1991 dan mengumpulkan serta merawat benda koleksi yang berasal dari seluruh wilayah di Nusa Tenggara Timur (Katalog Museum Daerah NTT, 2005).

Dua jenis kapak perunggu yang disebut kapak upacara adalah koleksi favorit Museum NTT. Kapak kuno itu ditemukan di Pulau Rote, Kabupaten Rote Ndao, tahun 1875, dan di Pulau Sabu, Kabupaten Sabu Raiju, pada 1971. Disebut kapak upacara karena di Sabu dan Rote kapak itu telah menjelma menjadi benda sakral dan hanya dikeluarkan saat upacara adat, terutama yang berhubungan dengan budidaya pertanian. Kapak temuan di Landu, Rote Ndao, termasuk langka karena hanya ada di Museum NTT sejak tahun 2000, dan di Museum Nasional Jakarta. Adapun kapak upacara temuan di Kampung Rai Dewa, Desa Kabila, Sabu Raijua, yang disebut kuhi rai oleh masyarakat setempat, menjadi koleksi Museum NTT sejak 1979. Sumber: kebudayaanindonesia.net

Kontak: museumntt.com

Selain museum-museum yang saya cantumkan dalam tulisan ini, masih ada sejumlah museum lain di NTT, yang dikelola secara swadaya oleh beberapa yayasan pendidikan swasta berbasis keagamaan.

Apakah ada museum di Nusa Tenggara Timur lainnya yang Sobat ketahui namun belum disertakan dalam tulisan ini?

Salam,

Adhy Langgar

Comments

Leave a Reply