Cagar-Budaya

Pelestarian Cagar Budaya dan Peran Museum

Apa itu pelestarian? Definisi pelestarian, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Daring, adalah  1) proses, cara, perbuatan melestarikan; 2) perlindungan dari kemusnahan atau kerusakan; pengawetan; konservasi. Dari sini saya mengenal kata “konservasi” (pemeliharaan dan perlindungan sesuatu secara teratur untuk mencegah kerusakan dan kemusnahan dengan jalan mengawetkan; pengawetan; pelestarian, KBBI Daring). Namun setelah saya coba padankan dengan istilah lain, muncul istilah “preservasi” (pengawetan; pemeliharaan; penjagaan; pelindungan. KBBI Daring).

Dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2010 Tentang Cagar Budaya, pengertian Pelestarian adalah upaya dinamis untuk mempertahankan keberadaan Cagar Budaya dan nilainya dengan cara melindungi, mengembangkan,dan memanfaatkannya.

Dari definisi ini dapat ditarik kesimpulan adanya peran konservasi dan preservasi dalam pelestarian segala sesuatu yang berhubungan dengan kebudayaan (heritage ‘warisan’) baik yang diproduksi oleh alam atau manusia. Sekadar mengingatkan, manusia mengambil dari dan atau memodifikasi unsur-unsur alam untuk membantunya memenuhi kebutuhan hidupnya.

Pelestarian

Dalam Undang-Undang tersebut di atas, lembaga yang diberi fungsi untuk melindungi, mengembangkan, memanfaatkan koleksi berupa benda, bangunan, dan/atau struktur yang telah ditetapkan sebagai Cagar Budaya atau yang bukan Cagar Budaya, dan mengomunikasikannya kepada masyarakat adalah museum. ICOM mencantumkan museum sebagai a non-profit, permanent institution in the service of society and its development, open to the public, which acquires, conserves, researches, communicates and exhibits the tangible and intangible heritage of humanity and its environment for the purposes of education, study and enjoyment  ‘sebuah lembaga nirlaba, bersifat tetap dalam melayani masyarakat dan perkembangannya, serta terbuka untuk umum, yang mengumpulkan, melindungi, meneliti, mengomunikasikan dan memamerkan warisan bendawi dan bukan bendawi dari peradaban kemanusiaan serta lingkungannya untuk tujuan pendidikan, penelitian dan penikmatan’ (Statuta ICOM 2007).

museum: a non-profit, permanent institution in the service of society and its development, open to the public, which acquires, conserves, researches, communicates and exhibits the tangible and intangible heritage of humanity and its environment for the purposes of education, study and enjoyment.

Statuta ICOM, 2007.

Dari kedua definisi tersebut, apa hasil yang hendak dicapai oleh museum? Keseluruhan kegiatan perlindungan, pengembangan dan pemanfaatan adalah demi pelestarian itu sendiri, melalui pendidikan, penelitian dan penikmatan (penikmatan: proses menikmati, KBBI Daring). Lantas apa itu Cagar Budaya? Cagar Budaya adalah warisan budaya bersifat kebendaan berupa Benda Cagar Budaya, Bangunan Cagar Budaya, Struktur Cagar Budaya, Situs Cagar Budaya, dan Kawasan Cagar Budaya di darat dan/atau di air yang perlu dilestarikan keberadaannya karena memiliki nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan/atau kebudayaan melalui proses penetapan (UU RI No. 10 Tahun 2010).

Jika kita menyoal pelestarian warisan kebudayaan, maka akan tiba pada pemahaman akan sisi bendawi  dan bukan bendawi dari sebuah warisan (tangible and intangible heritage). Secara sederhana, tangible dapat dimaknai sebagai sesuatu yang dapat dikenali oleh sistem penginderaan (disentuh, dilihat, dikecap, dll) sementara intangible dipahami sebagai sesuatu yang bersifat norma, value ‘nilai’, hingga sistem kepercayaan; yang oleh Mounir Bouchenaki pada 14th ICOMOS General Assembly and International Symposium kedua hal ini diformulasikan sebagai place – memory – meaning ‘tempat – kenangan – makna’.

Dalam International Journal of Intangible Heritage, definisi intangible dijabarkan lagi sebagai kebiasaan setempat atau adat istiadat (IJIH, 2009). Saya memahami (secara terbatas namun tidak membatasi) tangible sebagai sebuah benda atau tempat atau kawasan dan intangible sebagai semesta peradaban yang meliputi benda atau tempat atau kawasan tersebut.

Dalam UU Cagar Budaya, pelindungan adalah upaya mencegah dan menanggulangi dari kerusakan, kehancuran, atau kemusnahan dengan cara Penyelamatan, Pengamanan, Zonasi, Pemeliharaan, dan Pemugaran Cagar Budaya.

Dalam prakteknya, pendekatan secara holistik pelestarian bendawi dan bukan bendawi menimbulkan kerumitan tersendiri karena kedua unsur tersebut memiliki karakter yang berbeda. Sebuah warisan bendawi, sebut saja sebuah bangunan bersejarah, lebih mudah untuk dikatalogisasi, lalu menerapkan tindakan-tindakan pelindungan yang bersifat konservasi dan restorasi pada fisik bangunannya. Warisan bukan bendawi, di lain pihak, membutuhkan pendekatan yang lebih dalam karena melibatkan pelaku (manusia), kondisi sosial dan lingkungan yang sangat cepat berubah bila dibandingkan dengan bangunan itu sendiri.

Keterlibatan masyarakat atau komunitas masyarakat di sekitar warisan bendawi dalam segi pelindungan sangat dibutuhkan, karena dalam banyak kasus, kerusakan dini yang luput dari perhatian bermula dari ketidaktahuan atau ketidakpedulian masyarakat sekitar. Vandalisme, penjarahan, perusakan Cagar Budaya, merupakan contoh yang nyata.

Kesulitan dalam segi pelindungan bukan bendawi adalah manakala terdapat konsep sejarah di dalamnya. Menurut Drs. I Made Purna, M.Si., seorang peneliti pada BPSNT Bali, dalam memahami sejarah bangsa tercakup dua pengertian di dalamnya yaitu masa lampau dan rekontruksi tentang masa lampau. Masa lampau hanya terdapat dalam ingatan orang-orang (ingatan kolektif) yang pernah mengalaminya. Kenyataan ini baru bisa diketahui oleh orang lain apabila diungkapkan kembali dengan adanya komunikasi dan dokumentasi yang menjadi kisah atau gambaran tentang peristiwa masa lampau.

placememorymeaning 

tempat–kenangan–makna

Proses ini disebut rekontruksi sejarah atau dalam ilmu sejarah disebut dengan Historiografi. Dalam pengelolaan pelestarian sejarah, bukan sejarahnya maupun peristiwanya yang harus dilestarikan. Melainkan nilai-nilai sejarah yang terdapat dalam peristiwa tersebut. Peristiwa sejarah cukup sekali terjadi, akan tetapi nilai-nilai dari peristiwa tersebut akan hidup sepanjang jaman.

Pengembangan

Pengembangan, dalam UU Cagar Budaya, adalah peningkatan potensi nilai, informasi, dan promosi Cagar Budaya serta pemanfaatannya melalui Penelitian, Revitalisasi, dan Adaptasi secara berkelanjutan serta tidak bertentangan dengan tujuan Pelestarian.

Masyarakat atau komunitas dalam masyarakat dapat secara aktif bersama-sama dengan museum dapat terlibat dalam tahap pengembangan sebagai bagian dari pelestarian. Penelitian ilmiah dapat dilakukan oleh berbagai pihak untuk menelisik dan menelaah lebih lanjut tentang warisan bendawi dimaksud. Pada titik ini, dimungkinkan terjadi identifikasi kerusakan atau deteriorasi (deterioration), yaitu fenomena penurunan karakteristik dan kualitas Benda Cagar Budaya, baik akibat faktor fisik (misalnya air, api, dan cahaya), mekanis (misalnya retak, dan patah), kimiawi (misalnya asam keras, dan basa keras), maupun biologis (misalnya jamur, bakteri, dan serangga) yang berujung pada tindakan Pelindungan.

Revitalisasi memungkinkan masyarakat menikmati fungsi asal sebuah Bangunan Cagar Budaya, sebagai contoh sebuah bangunan bersejarah yang kini berfungsi sebagai kantor pemerintahan. Setelah dilakukan kajian ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan, ternyata bangunan dimaksud merupakan fasilitas pertunjukan pada masanya. Pada saat-saat tertentu, fungsi ini dapat dikembalikan seperti semula dengan tetap menjunjung tinggi nilai-nilai pelestarian. Demikian juga dalam soal Adaptasi, misalnya penambahan ruangan pada bangunan tersebut sesuai dengan kebutuhan.

Unsur-unsur publikasi Cagar Budaya dapat dikembangkan oleh masyarakat atau komunitas masyarakat melalui media massa, baik cetak maupun elektronik. Publik dapat menampilkan kegiatan-kegiatan promosi berupa pentas seni dan budaya. Sekali lagi unsur pelestarian (Pelindungan) harus menjadi acuan utama. Kita bisa saja menggelar pentas seni budaya di sebuah Cagar Budaya, namun ternyata tata cahaya, tata suara dan tata panggung yang dipergunakan malah mengancam integritas fisik bangunan. Hal ini harus dihindari agar tidak terjadi kerusakan lebih lanjut.

Pemanfaatan

Pemanfaatan adalah pendayagunaan Cagar Budaya untuk kepentingan sebesar-besarnya kesejahteraan rakyat dengan tetap mempertahankan kelestariannya (UU Cagar Budaya 2010). Dalam konteks pelestarian, pemanfaatan Cagar Budaya adalah mutlak karena merupakan muara dari pelestarian. Untuk apa sebuah Cagar Budaya dilindungi dan dikembangkan bila tidak dimanfaatkan? Pemanfaatannya dapat berupa sarana pembelajaran, pusat rekreasi seni dan budaya, tempat diskusi dan lain sebagainya. Saya menekankan elemen pendidikan dalam pemanfaatan Cagar Budaya karena pemahaman tentang pelestarian itu lebih efektif dilakukan dengan pendekatan pendidikan. Pemanfaatan lainnya dapat berupa kepentingan ilmu pengetahuan, teknologi, pariwisata, agama, sejarah, dan kebudayaan.

Museum

Penemuan dan atau penetapan Cagar Budaya dalam praktiknya sering berupa living monument (monumen hidup) dan dead monument (monumen mati), yang dapat dipahami sebagai hadir-tidaknya aktifitas manusia di dalam dan sekitar Cagar Budaya baik dengan fungsi awalnya maupun sudah beralih fungsi. Peran penelitian yang dimiliki oleh museum dapat dipergunakan untuk mengetahui pemanfaatan monumen mati untuk diberi fungsi baru atau menghidupkan fungsi lama maupun mendokumentasikan fungsi-fungsi yang masih dipertahankan pada monumen hidup.

Pelestarian adalah upaya dinamis untuk mempertahankan keberadaan Cagar Budaya dan nilainya dengan cara melindungi, mengembangkan,dan memanfaatkannya.

UU Cagar Budaya

Peran pendidikan yang dimiliki oleh museum juga berperan dalam proses pembelajaran demi pelestarian Cagar Budaya. Pembelajaran museum yang mengedepankan aspek kognitif, afektif  dan psikomotorik merupakan keuntungan dalam menyerap informasi yang dikemas dengan sajian interaktif dan insitu (memperoleh pengalaman langsung di tempat yang sesuai, bukan di ruang kelas). Sebagai tambahan, ICOM merumuskan bahwa Museums preserve, interpret and promote the natural and cultural inheritance of humanity ‘museum merawat, mengkaji dan mengangkat warisan kebudayaan alam dan manusia'; Museums provide opportunities for the appreciation, understanding and promotion of the natural and cultural heritage ‘museum menyediakan kesempatan untuk mengapresiasi, memaknai dan mengenali warisan kebudayaan alam dan manusia'; Museums work in close collaboration with the communities from which their collections originate as well as those they serve ‘museum bekerja dalam kolaborasi yang rapat dengan komunitas asal benda koleksi mereka sama halnya dengan komunitas tempat museum tersebut berada’.

Berikut sebuah ilustrasi keterlibatan komunitas masyarakat bersama museum dalam menunjang pelestarian, sejak pelindungan, pengembangan hingga pemanfaatan Cagar Budaya.

Sekelompok orang dalam bentuk komunitas tertentu mengunjungi ruang pameran museum. Di sana mereka mengamati dan menelaah sebuah atau sekumpulan benda koleksi, misalnya koleksi sejarah. Diskusi yang terjadi dalam pemaknaan benda koleksi di ruang pamer museum diteruskan pada sebuah tempat yang memiliki keterkaitan langsung dengan benda koleksi yang dibahas. Diskusi dan pembahasan lalu berlanjut di lokasi  tersebut, sebut saja bangunan bersejarah, bersama museum edukator.

Di sinilah, di lokasi bangunan bersejarah, diskusi secara mendalam dan mengerucut dapat dilakukan secara maksimal. Aspek-apek bendawi bangunan (sejarah, artistika, estetika, dsb) dapat dikaji secara bertahap dan berkesinambungan dengan aspek-aspek bukan bendawi berupa sejarah dan kondisi sosial kemasyarakatan pada periode tertentu dari bangunan tersebut. Informasi yang padat dan beragam yang berhasil digali dengan kegiatan ini membuatnya sukar untuk dapat diselesaikan secara komprehensif dalam satu sesi kunjungan. Karenanya, perlu dijadwalkan secara rutin, teratur, reguler, apa pun itu sebutannya. Durasinya bisa sebanyak 1-2 jam seminggu, tergantung tema yang dibahas. Pendekatan pendidikan museum yang longgar dengan batasan kurikulum, ruang belajar, usia bahkan waktu belajar menjadikan pembelajaran ini dinamis.

Saat diskusi ini pula, ancaman terhadap aspek pelindungan bendawi dapat diidentifikasi secara dini. Unsur-unsur deteriorasi pada bangunan, baik eksterior maupun interior, dapat segera dikenali. Pengamatan ini dimungkinkan karena jadwal kunjungan yang bersifat periodik dan terarah.

Usai diskusi, museum dapat menyusun langkah-langkah preventif untuk menanggulangi ancaman sekaligus menyiapkan kajian ilmiah baru untuk melengkapi kajian yang telah ada sebelum berdasarkan temuan fakta baru. Temuan fakta baru atau sanggahan atas fakta yang sudah ada sangat mungkin terjadi karena pembahasan atas obyek yang sama dilakukan dari berbagai sudut pandang keilmuan. Tentu saja harus tetap menjunjung tinggi prinsip akademis.

Peserta diskusi masing-masing dalam komunitasnya juga punya kesempatan mengembangkan Cagar Budaya tersebut. Jika ia seorang penulis, bukan tidak mungkin paragraf demi paragraf kisah mengharukan tergores lewat tulisan penanya. Bila ia seorang penyair, bukan mustahil bait demi bait kisah heroik mengalir deras dari pekik kata-katanya. Andai dia seorang pelukis, muskil sapuan kuasnya di atas kanvas tidak akan menghasilkan sebuah visualisasi romantik dari kehidupan masa lalu berdasarkan inspirasi yang ia peroleh. Jika ia peneliti, mungkin saja penelitian yang ia lakukan berujung pada sebuah seminar berskala nasional bahkan internasional, yang bukan saja berguna bagi dirinya, namun orang lain di sekelilingnya, termasuk bagi ilmu pengetahuan itu sendiri. Sobat, manfaat inspiratif, edukatif, rekreatif dan kontemplatif merupakan esensi dari sebuah kunjungan di Cagar Budaya (termasuk museum).

Jika sebuah Cagar Budaya secara rutin dikunjungi oleh banyak komunitas dan diramaikan dengan aktifitas akademika yang penuh cita rasa tinggi, maka pemanfaatan bangunan/lokasi/kawasan tersebut sudah berhasil dilakukan secara terbuka dan bermartabat.

Pelestarian bukan soal ‘siapa’ berdiri duluan, atau ‘siapa’ telah melakukan ‘apa’, namun ‘siapa’ yang terus melakukan ‘apa’, karena pelestarian berujud siklus yang berputar dinamis, sama dinamisnya dengan perkembangan masyarakat yang ada di sekelilingnya. Pelindungan Cagar Budaya tanpa Pengembangan takkan menghasilkan Pemanfaatan. Demikian juga bila Pemanfaatan tanpa memastikan Pelindungan dan Pengembangan. Pengembangan akan sia-sia bila tanpa Pelindungan dan Pemanfaatan Cagar Budaya.

Daftar Rujukan:

Badan Bahasa KEMDIKNAS RI, Kamus Besar Bahasa Indonesia DaringLihat.

Drs. I Made Purna, M.Si, Pelestarian Warisan Budaya Tak Benda. BPSNT Bali. Lihat.

ICOM, Code of EthicsLihat.

Mounir Bouchenaki, The Interdependency of The Tangible and Intangible Cultural HeritageLihat (PDF).

Philip Scher, Intangible Heritage, Laurajane Smith and Natsuko Akagawa, (eds.). Lihat.

Undang-undang RI Nomor 11 Tahun 2010 Tentang Cagar Budaya.  Lihat(PDF)

Salam,
Adhy Langgar.
KontakFacebookGoogle+Twitter


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>