Skip to main content

Occasionally English

Hai. Halo. Apa kabar? Sehat?

Begini. Beberapa saat yang lalu saya sempat membuka laman Google Analytics dan memerhatikan data-data dalam laporannya. Bagi Sobat yang belum tahu, Google Analytics merupakan piranti lunak yang disediakan oleh Google untuk mengawasi perkembangan sebuah situs web. Piranti ini ditujukan untuk memenuhi kebutuhan sang webmaster (pengembang situs) dalam memantau situs yang tengah ia bangun/kerjakan.

Macam-macam fasilitas yang ditawarkan oleh Google Analytics, salah satunya adalah Audience Overview alias Tinjauan Pengunjung Situs. Jika Sobat sedang mengembangkan situs pribadi dengan domain berbayar seperti saya, maka Google Analytics adalah salah satu online web analysis yang wajib Sobat pergunakan. (more…)

Kata Google, “Habede, Bro!”

Ini cukup mengejutkan. Bukan, bukan mengerikan; walau mungkin terasa sedikit menakutkan, tapi ini sesuatu yang sama sekali tidak terduga.

Saya punya kebiasaan ketika membuka laman peramban Google Chrome, yakni melihat doodle yang dibuat oleh Google.

Doodles are the fun, surprising, and sometimes spontaneous changes that are made to the Google logo to celebrate holidays, anniversaries, and the lives of famous artists, pioneers, and scientists.

Jadi, doodle yang dibuat oleh Google merupakan semacam pengingat atas sebuah peristiwa atau seorang tokoh di masa lalu yang cukup penting dan berdampak besar hingga saat ini. Kata kuncinya adalah PENTING. (more…)

(Akhirnya) Kembali ke Ede

Sebuah perjalanan pulang tentu menyenangkan. Kenangan lama akan masa kecil yang indah, damai dan penuh cerita menyeruak perlahan seolah tengah menanti untuk diingat lagi. Apapun temanya, pulang adalah kembali pada kenangan.

Ede, nama sebuah kampung kecil di kaki bukit Delo. Secara administratif berada di wilayah kecamatan Wewewa Selatan, Kabupaten Sumba Barat Daya. Nama lain dari kampung ini ada We’e Wulla. Di sinilah saya menjalani masa kecil dalam buaian sarung milik Oma. Saya pernah menjalani hidup selama beberapa masa di rumah Opa Langgar, bersama tanaman jeruk di depan rumah yang berdinding bambu, kuda jantan dalam kandang di samping rumah, kandang babi di belakang rumah, kandang kerbau dan hamparan sawah yang mengitarinya. Ayam peliharaan Oma dilepas bebas ditingkahi gonggongan anjing yang berkejaran. (more…)

Pelestarian Cagar Budaya dan Peran Museum

Apa itu pelestarian? Definisi pelestarian, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Daring, adalah  1) proses, cara, perbuatan melestarikan; 2) perlindungan dari kemusnahan atau kerusakan; pengawetan; konservasi. Dari sini saya mengenal kata “konservasi” (pemeliharaan dan perlindungan sesuatu secara teratur untuk mencegah kerusakan dan kemusnahan dengan jalan mengawetkan; pengawetan; pelestarian, KBBI Daring). Namun setelah saya coba padankan dengan istilah lain, muncul istilah “preservasi” (pengawetan; pemeliharaan; penjagaan; pelindungan. KBBI Daring).

Dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2010 Tentang Cagar Budaya, pengertian Pelestarian adalah upaya dinamis untuk mempertahankan keberadaan Cagar Budaya dan nilainya dengan cara melindungi, mengembangkan,dan memanfaatkannya.

Dari definisi ini dapat ditarik kesimpulan adanya peran konservasi dan preservasi dalam pelestarian segala sesuatu yang berhubungan dengan kebudayaan (heritage ‘warisan’) baik yang diproduksi oleh alam atau manusia. Sekadar mengingatkan, manusia mengambil dari dan atau memodifikasi unsur-unsur alam untuk membantunya memenuhi kebutuhan hidupnya. (more…)

Kain Tenun NTT, Selayang Pandang

Nusantara, sebuah kepulauan dengan letak yang strategis dalam lalu lintas perdagangan masa lalu. Ratusan tahun sudah manusia yang mendiami wilayah pesisirnya berinteraksi dengan para pedagang yang hilir mudik di perairan yang mengitarinya. Para pedagang dari Cina, India, Arab, hingga Eropa, berbagi lautan dengan pedagang-pedagang Malaka, Makassar, Jawa, dan Sumatera. Pertukaran terjadi antara barang-barang dagangan berkualitas tinggi. Tekstil dari India, sebagai contoh.

Kain dari India, yang mula-mula dibawa oleh pedagang Gujarat, sudah sejak lama menjadi mata dagang penting yang turut mengisi lambung kapal pedagang asing dan nusantara yang berburu rempah-rempah di wilayah timur nusantara. Sejak para pedagang mulai merapatkan kapalnya di pantai pulau-pulau Maluku demi tanaman pala dan cengkih, sejak saat itu tekstil menjadi salah satu mata uang yang juga diminati oleh penguasa setempat. Hal ini pun terjadi di Timor, saat mereka bertransaksi cendana.

Cendana, tumbuhan kayu yang menghasilkan minyak yang sangat harum, sudah dikenal di India dan Cina sejak abad ketujuh. Minyak cendana itu hanya bisa diperoleh dari jenis kayu cendana putih alias Santalum Album yang hanya tumbuh di dua pulau yang berdekatan, pulau Timor dan Sumba. Pada abad keenam, perairan Timor dan Sumba sudah disinggahi oleh kapal-kapal pedagang dari India dan Cina, dan mulai terjadi secara teratur mulai abad ke-11 hingga abad ke-13 Masehi. Di abad ke-13 hingga abad ke-14, cendana sudah sangat populer sebagai salah satu mata dagangan unggulan pedagang dari Jawa, Sumatera, dan Makassar dari kawasan ini. Tome Pires yang mengunjungi Malaka pada tahun 1515 menulis, katanya, “Pedagang Melayu mengatakan bahwa Tuhan menciptakan Timor untuk kayu cendana dan Banda untuk bunga pala (fuli) dan Maluku untuk cengkih, dan barang dagangan ini tidak dikenal di tempat lain di dunia kecuali di tempat itu”. (more…)