“Soba Nita, Tasi Ani!”

ofa langga

Tulisan berikut  saya kutip dari salah satu chapter dalam buku Pulau Roti Pagar Selatan Indonesia karya Gyanto, terbitan Ganaco N.V. Bandung, tahun 1957, halaman 65-67, dengan judul yang sama. Untuk memudahkan proses membaca, saya mengganti ejaan bahasa Indonesia lama dari tulisan asli dengan EYD. Selamat membaca.


Di sudut halaman yang lain ada beberapa orang laki-laki dan wanita bergandengan tangan merupakan lingkaran, sedang menarikan tari adatnya ialah kebelai.

“Apa nama nyanyian yang sedang mereka nyanyikan itu bu* Wien?”

“Nyanyian ini bernama ‘Ofa Langga’, artinya ‘haluan perahu’ !

Sambil menari mereka menyanyi:

Ofa langga adinda soba-soba
Ofa langga adinda soba-soba
Soba nita adinda tasi ani
Soba nita adinda tasi ani
Soba sayang kasian susi** Anna
Lu lemen terlalu susi matan
Setanggaung pinu lemen bu bo’i susah hati
Nai dae ki dae Tuameko
Nai dae kona dae kona Pantai Baru
Kola de’a Pantai Baru
Nae lena seli ta da’di lena seli
Nae nasafali ta da’di nasafali

Habis sebait ini diulanginya lagi beberapa kali berturut-turut. Artinya(*1) dalam bahasa Indonesia:

Kepala perahu adik, coba-coba
Kepala perahu adik, coba-coba
Coba lihat adik, laut berangin
Coba lihat adik, laut berangin
Coba lihat kasihan zus Anna
Airmata selalu ada pada matamu
Bersama-sama dengan ingus selalu ada padamu karena
Yang kukasihi (= engkau) bersusah hati
Di tanah utara, tanah utara Tuameko(*2)
Di tanah selatan, tanah selatan Pantai Baru
Kita bicarakan Pantai Baru
Mau menyeberang (= ke Timor), tidak jadi menyeberang
Mau kembali (= kepedalaman), tidak jadi kembali

Begitulah arti nyanyian itu diterjemahkan kata demi kata. Sebetulnya nyanyian Ofa Langga ini menceriterakan sesuatu kejadian yang terjadi pada jaman pendudukan Jepang. Pada jaman itu Jepang ingin sekali membuat benteng-benteng pertahanan yang sangat kuat di Pulau Timor untuk menghadapi Australia.

Untuk maksud ini Jepang mendatangkan tenaga-tenaga dari Timor dan sekitarnya, juga dari Rote, untuk mengerjakannya tanpa bayaran. Orang-orang yang harus bekerja ini terkenal dengan sebutan “kaum romusya”. Orang-orang romusya ini harus bekerja siang malam menggali tanah dan mengangkut batu. Setelah selesai bekerja, mereka mendapat sepotong ketela agar jangan mati saja. Dan andaikata mereka toh mati juga, Jepang masih dapat mendatangkan beratus-ratus orang lagi untuk penggantinya. Banyak orang yang didatangkan dari Rote ke Timor, tidak kembali. Mereka mati di Timor. Pada tiap-tiap pemberangkatan rombongan baru dari Rote, Jepang selalu berkata, bahwa beberapa bulan lagi orang itu akan kembali. Beratus-ratus isteri, beratus-ratus anak-anak menanti kedatangan rombongan romusya itu dari Timor tiap-tiap hari. Tetapi meskipun telah lama lewat batas waktunya, namun mereka yang dinanti-nantikan itu tidak kunjung tiba. Mereka bersabar menanti berbulan-bulan lagi.

Tetapi yang dinanti tetap tidak muncul. Lama-kelamaan keluarga di Rote ini tahu bahwa mereka sebetulnya menanti-nanti orang yang telah mati, orang yang tidak akan kembali. Seisi rumah berkabung ! Sedesa berkabung ! Bahkan seluruh pulau Rote berkabung. Rakyat pulau Rote tahu bahwa siapa yang berangkat ke Timor berarti mati. Jepang masih terus saja mengangkut rombongan-rombongan baru dari Rote.

Rombongan baru akan berangkat dari Rote. Maka keluarga mereka akan mengantarkan sampai kepelabuhan, yaitu pelabuhan Pantai Baru dikerajaan Korbaffo. Orang-orang yang mengantarkan itu menangis dengan sedihnya seperti menangisi orang mati. Pantai Baru pada waktu itu ribut karena hujan airmata. Yang mengantarkan menangis, yang diantarkan juga menangis.

Diantara orang-orang yang akan berangkat itu terdapat seorang pemuda yang tampan. Pemuda ini berasal dari pedalaman. Pemuda yang akan menginjak masa kebahagiaan terpaksa tunduk pada Jepang, menjadi korban romusya. Dia datang dari pedalaman bersama-sama dengan tunangannya yang bernama Anna. Kedua orang muda ini menangis kesedihan, sehingga menarik perhatian banyak orang.

Ketika perahu yang akan membawa kaum romusya itu datang, maka tangisan kedua orang muda ini sampai pada puncaknya. Orang-orang yang menyaksikan peristiwa ini, meskipun sedang menangis juga, merasa terharu. Setelah segala kata-kata yang diratapkan sudah habis maka pemuda itu berkata pada tunangannya, disaksikan banyak orang disitu:

Meskipun sebenarnya beta merasa berat sekali untuk meninggalkan kau, Anna, tetapi bagaimana lagi, haluan perahu yang akan memisahkan engkau dengan beta telah tampak. Coba lihatlah angin laut. Angin laut inilah yang akan mencampakkan beta jauh-jauh dari sampingmu. Tetapi angin laut itu pula yang selalu akan menghubungkan kau dengan beta kalau beta telah sampai di Timor kelak. Coba lihatlah, sayang.

Airmatamu terlalu banyak pada matamu, sehingga menyebabkan beta sangat bersusah hati di Pantai Baru ini. Beta tidak suka pergi, tidak mau menyeberang ke Tuameko dipulau Timor, sebab ke Timor berarti mati ! Tetapi mau kembali kepedalaman tidak mungkin pula, sebab samurai Jepang akan memenggal leherku.

Pesan terakhir dari seorang pemuda yang diombang-ambingkan oleh rasa kebimbangan kepada tunangannya, Anna. Pemuda yang pergi karena paksaan. Pemuda yang dipaksa meninggalkan tunangannya.

Pesan terakhir ini didengar oleh segala orang yang hadir disitu. Kemudian semua orang berkumpul. Yang diantarkan dan yang mengantarkan bergandengan tangan. Mereka menari kebelai. Kata-kata didalam nyanyiannya ialah kata-kata perpisahan pemuda kepada tunangannya itu. Nyanyian dan tari kebelai terakhir bagi kaum romusya Rote, yang akan berangkat itu.

Sejak peristiwa itu maka terdengarlah lagu baru yakni Ofa Langga yang sekarang kita dengar ini.”

Sampai disini keterangan bu Winvried tentang asal mulanya lagu Ofa Langga. Lagu yang lain kebanyakan dengan bahasa Rote kuna dan sudah sukar dicari asal-usulnya lagi. Kami meninggalkan tempat itu. Penari-penari masih terus menyanyikan lagu sedih untuk mengenangkan masa-masa yang telah silam:

……….
Soba nita adinda tasi ani
Soba nita adinda tasi ani
Soba sayang kasian susi Anna
……….
……….


*1: bukan terjemahan bebas.
*2: nama tempat di pulau Timor.

Demikian kisah tentang Ofa Langga yang saya tulis kembali untuk Sobat sekalian. Semoga berkenan.

Salam,

Adhy Langgar

Keterangan tambahan:

  • *: bu adalah sapaan untuk laki-laki, berasal dari kata broer (saudara laki-laki, bahasa Belanda)
  • **: susi adalah sapaan untuk perempuan, berasal dari kata zuus (saudara perempuan, bahasa Belanda)
  • Lagu Ofa Langga versi pop dengan petikan Sasando dapat Sobat lihat dalam video oleh Julio Letik.

Leave a Reply