Yuk, Bikin Situs Web Sendiri!

Sesuai janji saya, kali ini saya akan bagikan kepada Sobat sekalian pengalaman saya membangun situs ini. Siap, Gan?

Oh iya, situs yang saya maksud di sini bukan yang berlabelkan: “namasitus.blogspot.com” atau “namasitus.wordpress.com” atau “namasitus.webs.com”, ya…

Kita mulai.

1. Beli domain dan kontrak hosting.

Iya, langkah paling awal adalah seperti yang tertulis di atas. Beli domain lalu sewa hosting. Bingung dengan istilah domain dan hostingGoogle them out, please…

Waktu saya mendaftarkan (baca: membeli) domain untuk situs ini, saya mendapat penawaran menarik (baca: diskon) paket shared-hosting alias hosting urunan alias satu server banyak pengguna dari situs penyedia jasa pembelian domain dan hosting, yang saya pakai jasanya hingga saat tulisan ini dibuat: Masterweb.

Mengapa Masterweb? Karena perusahaan yang satu ini memberi penawaran yang lebih terjangkau saat itu (pada bulan Januari 2013), jika dibandingkan dengan perusahaan lainnya. Setahu saya, selain masterweb.net, ada pula rumahweb.com, qwords.com, dsb yang juga menyediakan jasa dan produk serupa. Harga yang ditawarkan cukup bersaing. Masing-masing dengan kekurangan dan kelebihannya, Sobat cukup bandingkan saja tabel harga penyedia jasa tersebut.

Mengingat dan menimbang kemampuan finansial saya yang kadang sial, saya lantas mendaftarkan domain dan mengontrak sewa shared-hosting di masterweb.net dengan Paket Bisnis A. Detail biaya bisa Sobat lihat dalam cuplikan gambar tagihan pertama yang harus saya bayar.  Teknis pembayaran mudah, tak harus dengan kartu kredit; waktu itu saya bayarkan via SMS Banking pada Sabtu dini hari pukul 2. Laporan pembayaran saya terima Senin pagi, sesuai hari dan jam kerja. Tak berapa lama kemudian, situs saya sudah aktif.

Sobat perlu ingat, bahwa domain yang sudah dibeli tidak lantas berlaku abadi alias berbatas waktu. Waktu minimal yang diberikan untuk sebuah domain adalah 1 (satu) tahun kontrak. Jadi, setelah masa kontrak habis, nama domain harus didaftarkan kembali. Tapi tak usah khawatir, toh akan ada pemberitahuan dari penyedia jasa jika masa kontrak domain akan habis.

Demikian halnya dengan jasa hosting. Bedanya, jika domain dibayarkan satu kali untuk satu tahun (seperti halnya saya yang hanya mengontrak setahun), hosting dibayarkan secara bertahap setiap 3 (tiga) bulan alias triwulan. Harganya? Tidak sebesar jumlah pulsa telepon selular yang saya habiskan dalam 3 (tiga) bulan yang sama. Saya perlihatkan cuplikan gambar tagihan paket hosting situs saya dalam gambar berikut.

Client Area - MWN

Ketika saya mengisi form aplikasi pendaftaran dan sewa hosting, tak tampak kesan rumit yang selama ini saya bayangkan. Sederhana saja. Demikian halnya saat pembayaran. Mudah.

2. Memasang CMS (Content Management System)

wordpress

CMS itu ibarat mesin. Sebuah situs tidak akan menjadi sebuah situs tanpa yang satu ini. Tanpa CMS, situs Sobat tak akan berisi apa-apa selain sebuah keterangan dalam kalimat pendek: “This website is under construction”.

Setelah mencari tahu ke sana dan ke sini, saya memutuskan menggunakan CMS gratis yang disediakan oleh wordpress. Sobat jangan keliru, situs gratis disediakan di wordpress.com, namun CMS gratis untuk situs berbayar disimpan di wordpress.org (perhatikan ada beda ekstensi: .com dan .org). Selain wordpress, masih ada Joomla, atau aneka program lunak pembangun situs berbasis HTML lainnya.

Berhubung saya lebih familiar dengan sistem operasi situs wordpress, jadilah CMS ini yang saya pergunakan. Caranya? Mudah saja. Tinggal unduh berkasnya dari repositori wordpress.org ke komputer Sobat, lalu unggah ke dalam server yang sudah Sobat sewa lewat panel kendali yang disediakan oleh penyedia jasa hosting. Ikuti petunjuk yang tertera di layar monitor, tunggu sebentar, lalu situs Sobat sudah siap diisi dengan aneka tulisan, gambar, foto, video, dll. Gambar berikut ini adalah cuplikan gambar Dashboard situs saya. Tidak ada bedanya dengan dashboard situs wordpress gratis.

Dashboard wordpress
Dashboard wordpress

3. Isi.

Menulis

Yep, ini tahapan paling berat, bagi saya tentunya. Harapan saya, saya dapat mengisi situs dengan konten yang semoga baik, yang semoga berguna, yang semoga bukan sekadar berbagi “omelan dan keluhan”. Caranya? Menulis, menulis, dan menulis. Hingga tulisan ini saya buat, terbukti bahwa saya belum jadi seorang pengisi situs web yang baik. Sungguh memalukan. Maafkan saya, Pemirsa… Mohon dukungannya, ya?!

Namun, jika Sobat masih menganggap sukar (dan mahal?) prosesi pembelian domain+hosting dan pemasangan CMS, mungkin situs gratis bisa jadi pilihan terbaik. Bermodalkan sebuah akun surel sudah cukup. Asalkan Sobat rela menempelkan nama situs Sobat pada domain “blogspot.com” atau “wordpress.com” dan sewaktu-waktu beresiko kehilangan situs Sobat beserta data-data (tulisan, gambar, foto, dll) yang Sobat sudah unggah dan rawat sekian lama. Mengapa? Karena sang pemilik domain memilik hak dan berkuasa penuh atas sub-domain yang ia “miliki” beserta seluruh data yang “menumpang” dalam servernya. Saya sudah pernah mengalaminya. Situs gratis saya diblokir begitu saja tanpa alasan apa pun, padahal isi situs saya tersebut hanya tulisan biasa. Tidak lebih. Saya tidak ingin itu terjadi lagi. Semoga.

Satu lagi, dengan memiliki domain dan hosting sendiri, saya dan Sobat dapat memiliki akun surel dengan alamat yang eksklusif, layak untuk dicantumkan dalam kartu nama. Setidaknya, menurut saya begitu dan  saya akhirnya bikin situs web sendiri.

Silakan bagikan pengalaman Sobat dalam membangun situs web sendiri pada kolom komentar .

Salam,

Adhy Langgar

Update: Saat ini saya sudah memindahkan paket hosting situs web saya ini dari MasterWeb.com ke Qwords.com

Leave a Reply